Senin, 31 Oktober 2016

Islam Sumber Rahmatan Lil Alamin

Target Hukum Online. Pati - Tasawuf merupakan ilmu halus yang sangat tinggi dan tidak bisa dengan mudah dipelajari. Tasawuf bukan ilmu hapalan yang dipelajari dengan otak akan tetapi merupakan ilmu praktek dan merupakan teknologi Al-Qur’an yang Maha Dahsyat. Hasil pengamalan tasawuf akan melahirkan manusia-manusia berkualitas tinggi, tidak pernah lepas sedetikpun hubungan dengan Allah sebagai sumber kebaikan. Salah satu tujuan Allah mengutus para nabi adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Para nabi bukan sekedar menyampaikan firman Allah, akan tetapi juga berfungsi sebagai pembawa wasilah (wasilah carrier) sebagai media penyambung antara manusia dengan Tuhan. Nabi adalah teknolog Al Qur’an yang mengerti bagaimana menyalurkan power maha dahsyat menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat untuk manusia. Kemampuan nabi Musa membelah laut, kehebatan Nabi Isa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan segala jenis penyakit dan kehebatan Nabi Muhammad SAW membelah bulan bukan terjadi dengan serta merta. Mereka diajarkan oleh Allah teknologi Maha Dahsyat, teknologi metafisika dan siapapun menggunakan teknologi yang sama maka hasilnya pasti akan sama.
Kalau kita perhatikan bagaimana hebatnya teknologi fisika. Air yang tenang bisa diubah menjadi listrik lewat teknologi turbin. Air dipanaskan menjadi uap mampu menggerakkan gerbong kereta api yang beratnya ratusan ton. Air juga bisa mendongkrak mobil yang dengan memakai ujung jari tentu saja lewat teknologi hidrolika. Air juga apabila di pisahkan inti atomnya akan terjadi ledakan sangat hebat, menjadi  sebuah bom yang daya rusaknya luar biasa. Air sifat dasarnya memadamkan api bisa berubah menjadi bahan bakar yang hebat. Masih banyak teknologi lain yang hebat hasil penemuan manusia.
Berbicara tentang teknologi al-Qur’an, alam metafisika tentu hasilnya berpuluh, beratus bahkan berjuta kali lebih hebat dari teknologi fisika. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu membelah laut seperti yang dilakukan oleh nabi Musa atau menghidupkan orang mati. Teknologi fisika akan selalu tertinggal jauh oleh teknologi metafisika.
Menyadari potensi yang sangat hebat terkandung dalam al-Qur’an maka para kaum orientalis berusaha memisahkan ummat Islam dengan teknologi Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya untuk di baca dan dilombakan, dialun-alunkan dengan suara merdu. Ilmu untuk mengeluarkan power Al-qur’an itu tidak lain adalah Tarekatullah dibawah bimbingan Mursyid Kamil Mukamil, yang ahli di bidangnya, ahli tentang teknologi Al Qur’an.
Kalau Mursyidnya tidak ahli dan tidak mendapat izin dari guru-guru sebelumnya, tidak mempunyai silsilah bersambung kepada Rasulullah SAW maka Tarekat hanyalah sebuah praktek zikir kosong tanpa power. Sudah sekian lama tarekat dikucilkan, tasawuf didebatkan terus menerus bahkan dengan tanpa rasa bersalah memasukkan tasawuf sebagai ajaran di luar Islam, sungguh sangat menyedihkan.
Sangat berbahaya mendalami tarekat kalau Gurunya tidak mendapat izin dari Allah. Ibarat pilot pesawat tanpa izin terbang dan tidak mempunyai sama sekali pengalaman terbang tentu sangat berbahaya, bukan rahmat kita dapatkan tapi malah celaka.
Orientalis dengan sekuat tenaga berusaha agar ummat Islam berpandangan buruk terhadap tasawuf dengan menciptakan tarekat - tarekat palsu. Tarekat palsu tersebut kemudian disebarkan keseluruh dunia dengan tujuan untuk menjelekkan tarekat. Ajaran-ajaran yang menyimpang dari nilai-nilai Al-Qur’an dan hadist sehingga dengan mudah kalangan yang selama ini miring melihat tarekat mendapat angin segar.
Pilihlah Gurumu yang kamil mukamil khalis mukhlisin, yang dicerdikkan Tuhan, tidak setengah kasih akan dunia, kuat berpegang teguh kepada Tali Allah dan tentu saja mempunyai silsilah sebagai tanda sah ilmu yang diajarkannya.
Tasawuf bukan ilmu hapalan, bukan pula ilmu yang dipelajari lewat membaca. Tasawuf adalah ilmu rasa dan rasa itu datang dari Allah SWT atas ikhtiar sungguh2 dari sang murid. Sebagai contoh, kalau hanya sekedar dibaca, letak maqam yang 7 tempat bisa dibaca dalam satu malam bahkan seluruh kaji dalam suluk selesai dipelajari dalam 1 malam. Pertanyaannya apakah bisa “duduk” amalan tersebut dalam satu malam ? Jawabannya tidak, membutuhkan waktu bertahun-tahun baru bisa amalan tersebut melekat dalam diri kita. Mungkin kita telah berulang kali suluk, kalau masih ada unsur sombong dalam diri, berarti belum sempurna maqam ke-5, begitu juga kalau masih suka memperturutkan hawa nafsu berarti suluk kita masih belum benar. Mungkin banyak tarekat yang menulis tentang amalan dari awal suluk sampai selesai. Tapi Guru saya sangat melarang karena amalan itu datang dulu baru dijelaskan. Sebagai kiasan, seorang anak lahir dulu kedunia baru diberi nama.
Beliau mengatakan biarlah amalan berupa karunia dari Allah datang dengan sendirinya. Lebih baik karunia itu datang tanpa mengetahui namanya dari pada menghapal nama tapi tidak pernah merasakan karunia.
Kita wajib berterima kasih kepada  Almarhum Prof. Dr. Kadirun Yahya MA M.Sc Mursyid Tarekat Naqsyabandi atas jasa Beliau yang mampu menjelaskan ilmu tasawuf lewat ilmu eksakta (fisika klasik) sehingga tidak bisa dibantah sama sekali oleh siapapun. Ilmu tarekat selama ini dianggap kolot dan ketinggalan zaman ternyata merupakan ilmu yang sangat hebat tiada tanding menjadi senjata ampuh ummat Islam diseluruh dunia.  Beliau juga yang pertama kali mempopulerkan istilah Teknologi Al-Qur’an. Kalau Imam Al-Ghazali berjasa mendamaikan tasawuf dengan syariat dan menyatukan keduanya lewat ilmu sosial maka Prof. Dr. Kadirun Yahya MA M.Sc berhasil mendamaikan lewat ilmu metafisika eksakta.
Akhirnya, kita semua berharap bisa berjumpa dengan Guru Mursyid Kamil Mukamil Khalis Mukhlisin yang bisa mengajarkan kita tentang Teknologi Al-qur’an sehingga bisa kita salurkan kepada keluarga, kampung, Negara bahkan seluruh jagad raya ini sebagai bukti bahwa Islam Mulia Raya adalah Agama yang membawa Rahmatan Lil Alamin.
Share:

Lomba Lari Lintas Alam Rute Gerilya Kodim 0718 Pati

Target Hukum Online. Pati - Dalam rangka memeriahkan dan memperingati hari jadi Pahlawan Kodim 0718 Pati mengadakan napak tilas rute gerilya dan lomba Lari Lintas Alam, yang akan dilaksanakan pada tgl 20 November 2016. Start yang dimulai dari waduk seloromo Gembong tepat pukul 07.00 WIB diikuti dari berbagai elemen masyarakat baik pelajar, mahasiswa maupun umum.


Dengan hadiah maupun doorprez yang sangat menarik dengan total hadiah puluhan juta rupiah. Pendaftaran sudah mulai dibuka hari ini dan seterusnya hingga H-2 hari menjelang pembukaan yang akan dipimpin oleh Letkol Inf. Andri Wijaya Kusuma S.sos beserta seluruh anggota Kodim 0718 dan panitia yang terkait. Untuk itu Kota Pati yang mempunyai bibit - bibit atlet muda yang sudah merambah diajang Nasional akan membuktikan yang terbaik sebagai tuan rumah.


Masyarakat kabupaten Pati sangat antusias dalam menyambut pagelaran lomba Lari Lintas Alam, sangat merindukan sebuah arti perjuangan para pahlawan yang telah gugur sebagai kusuma bangsa, pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang sangat menghargai jasa para pahlawan. Semoga Hari Jadi Pahlawan ini bisa menjadi cerminan seluruh kompenan masyarakat bersatu padu menggalang kekuatan bersama TNI dalam memerangi radikalisme, Dirgahayu Hari Pahlawan ke - 71, semoga bangsa Indonesia bisa lebih merdeka bebas dari segala macam penjajahan, baik penjajahan secara ekonomi politik dan budaya.
Share:

Minggu, 30 Oktober 2016

Merah Putih Sebagai Lambang Negara

Target Hukum Online. Pati - Dalam rubrik Konsultasi Ulama di tabloid Suara Islam edisi 109 (18 Maret-1 April 2011), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH A. Cholil Ridwan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan. Landasannya fatwa ulama Saudi Arabia pada 26 Desember 2003.
Pernyataan pribadi Cholil mendapat dukungan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Sementara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengharamkan jika niatnya untuk menyucikan bendera; tapi tak masalah jika hanya seremonial. MUI sendiri bilang tak pernah mengeluarkan fatwa haram.
Larangan menghormati bendera pernah dikeluarkan Persatuan Islam (Persis) berdasarkan Musyawarah Dewan Hisbah pada 10 Mei 1985. Menurut Badri Khaeruman dalam Islam Ideologis: Perspektif Pemikiran dan Peran Pembaruan Persis, tradisi menghormati bendera secara selintas bukan termasuk kegiatan ritual keagamaan, namun dalam pandangan para ulama Persis hal ini bernilai agama.
“Menghormati bendera adalah suatu perbuatan yang melawan hukum aqli (berdasarkan akal) dan naqli (berdasarkan al-Qur’an dan hadis), yang menjurus pada kemusyrikan,” tulis Badri. “Karena itu, di sekolah-sekolah Persatuan Islam, bendera merah-putih sebatas dipasang. Para pelajar sekolah di lingkungan Persatuan Islam tidak diharuskan untuk mengadakan upacara bendera sebagaimana kebiasaan di sekolah lain pada umumnya.”
Rasanya terlalu berlebihan jika mengormati bendera adalah haram. Sebab, bendera hanyalah lambang. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 40 tahun 1958 menyebut, bendera merah-putih adalah lambang kedaulatan dan tanda kehormatan Republik Indonesia. Sementara Undang-undang No 24 tahun 2009 menyebut bendera sebagai sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara. Bendera juga merupakan manifestasi kebudayaan.
Bendera mulanya disebut vexilloid. Kata ini berasal dari bahasa Latin, artinya panduan. Ia berupa logam atau tiang kayu dengan ukiran di atasnya. Baru sekira 2.000 tahun lalu, potongan kain atau bahan ditambahkan untuk dekorasi. Bahkan bendera menjadi kajian tersendiri, disebut vexillology. Organisasinya, F d ration Internationale des Associations Vexillologiques (FIAV) yang dibentuk pada 3 September 1967 di R schlikon, Swiss, mengadakan International Congress of Vexillology dua tahun sekali. Tahun ini akan diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat.
Bendera pertama digunakan untuk memberikan informasi dan membantu koordinasi militer di medan perang. Para ksatria, dalam seragam dan perlengkapan baju besi, membawa bendera agar membantu membedakan mana kawan dan mana lawan.
Selama Abad Pertengahan, bendera yang digunakan adalah bendera heraldik, yang berisi lambang, lencana, atau perangkat lain untuk identifikasi pribadi. Selama puncak pelayaran, dimulai pada awal abad ke-17, kapal laut biasa bendera kebangsaan mereka –kemudian menjadi persyaratan hukum. Di laut, bendera berfungsi untuk mengirimkan pesan atau komunikasi.
Penggunaan bendera di luar konteks militer atau angkatan laut dimulai saat kemunculan sentimen nasionalisme pada akhir abad ke-18. Dan selama abad ke-19 hingga kini, setiap negara berdaulat harus memperkenalkan bendera nasionalnya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Adalah Muhammad Yamin yang menelusuri sejarah merah-putih hingga zaman Majapahit, bahkan hingga zaman purba. Dia menguraikannya dalam 6000 Tahun Sang Merah-Putih yang diterbitkan sebagai peringatan 30 tahun Sumpah Pemuda pada 1958. Dia mendasarkan penafsirannya dari warna yang ditemukan pada masyarakat Indonesia di masa purba hingga kebiasaan tradisional bubur merah dan putih untuk menjelaskan eksistensi dan kesakralan bendera nasional. Karya Yamin, juga generasi awal sejarawan Indonesia pascakolonial, menunjukkan bahwa, “Sejak awal perkembangannya, historiografi Indonesia sentris ternyata cenderung menjauh dari sejarah objektif karena berkembangnya prinsip dekolonisasi historiografis yang bersifat ultranasionalis dan lebih mementingkan retorika,” tulis Budi Susanto SJ dalam Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia.
Terlepas dari kritik atas karya Yamin, sejarah mencatat bagaimana merah-putih dikibarkan para pemuda pergerakan. Di negeri penjajah Belanda, tulis R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, rasa identitas kebangsaan Indonesia itu mulai terwujud dalam lambang pada 1920. Dalam Kongres Perkumpulan Mahasiswa Indonesia (Indonesisch Verbond van Studeerenden/IVS) di Lunteren, Belanda, Agustus 1920, “terlihat ada bendera merah-putih bersebelahan dengan bendera Belanda biru-merah-putih menghiasi mobil ketua kongres, sementara bunga-bunga dahlia merah dan putih dalam vas menyemarakkan aula kongres.”
Bendera merah-putih juga berkibar dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Kramat 106 Jakarta, yang melahirkan Sumpah Pemuda. Bahkan kemudian sebuah laporan intelijen dari Kepala Seksi Badan Informasi Politik Belanda dari Surabaya, 19 Juli 1933, menyebutkan bendera Belanda hilang dari kampung-kampung. “Sebelumnya bendera Belanda dikibarkan di acara-acara perayaan, sekarang bendera itu digantikan warna-warna merah-putih…,” tulis Elson.
Dua minggu setelah Jepang masuk ke Indonesia, pemerintah pendudukan langsung melarang penggunaan dan pengibaran bendera merah-putih. Jepang justru mewajibkan kepada rakyat Indonesia untuk menghormati bendera Jepang, Hinomaru, setiap pagi sambil menghadap matahari terbit, untuk memuliakan Kaisar Jepang Tenno Heika. Perintah ini menimbulkan perlawanan dari KH Zainal Mustafa dan para santrinya di pesantren Sukamanah, Tasikmalaya, pada Februari 1944. “Perintah Jepang untuk melakukan kyujo yohai (penghormatan kepada istana kaisar Jepang) dianggap sebagai gangguan terhadap agama mereka,” tulis Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol.
Barulah saat berada diujung tanduk dalam Perang Pasifik, Jepang memberikan janji kemerdekaan bagi Indonesia serta memperbolehkan bendera merah-putih dan lagu Indonesia Raya. Bertepatan dengan hari Pembangunan Asia Timur Raya, 8-9 September 1944, Soomubucho (Kepala Staf Bagian Umum) mengumumkan: “… pada hari ini bala tentara telah memperkenankan untuk memakai bendera kebangsaan Indonesia, juga diperkenankan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai nyanyian Indonesia.” Pengumuman tersebut dimuat Sinar Baroe, 9 September 1944.
Perayaan pun digelar di mana-mana, “termasuk upacara penaikan bendera merah-putih pada 9 September 1944 di Gambir yang dihadiri 40 ribu orang untuk merayakan akan merdekanya Indonesia, dan rasa lega karena tercapainya cita-cita sudah di depan mata,” tulis Elson.
Puncaknya terjadi pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejak itu, euforia mewabah. Hingga akhir Agustus 1945, tulis Elson, gambar tempel dan bendera kecil merah-putih muncul di kota dan tak lama kemudian membanjiri kota Surabaya. Sampai-sampai, Komandan Wing T.S. Tull dari Angkatan Udara Inggris, yang diterjunkan ke Jawa Tengah pertengahan September 1945 untuk mengawasi “perlindungan dan pembebasan” tawanan perang dan interniran Sekutu mengatakan, “Di pihak Indonesia, bukti kekuatan dan pengaruh gerakan nasionalis ada di mana-mana. Tak satu pun rumah dan bangunan umum yang tidak punya bendera Indonesia.”
Di Surabaya pula terjadi “insiden bendera” di Hotel Yamato Surabaya –sebelumnya Hotel Orange dan sekarang Hotel Majapahit– pada 19 September 1945. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atas hotel. Sebelum hari siang, Residen Surabaya Sudirman datang. Dia meminta agar bendera Belanda diturunkan tapi ditampik. Di luar, puluhan pemuda tak sabar lagi. Bentrokan tak dapat dielakkan. Beberapa orang naik, merobek dan membuang kain berwarna biru dari bendera Belanda, lalu mengibarkan sisanya, merah-putih, di tempat semula.
Bendera merah-putih sudah melintasi sejarah panjang. Menghormati bendera bukan berarti memuliakan bendera itu sendiri, tapi menghargai sejarah dan simbol kebangsaan dan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan airmata.
Share:

Giat Kampanye di Batangan

Target Hukum Online. Pati - Setelah melaksanakan pengunduran diri sebagai PNS golongan 4d dan telah mengambil cuti sebagai pejabat nomer satu diwilayah kabupaten Pati, bapak Haryanto SH. MM. MSi. awal pertama kalinya mengadakan sosialisasi hari ini minggu (30/10) dirumah bapak haji Sutopo bertempat di desa Gajah Kumpul kecamatan Batangan Kabupaten Pati.


Banyaknya warga yang antusias dan menghadiri acara tersebut baik dari tokoh agama maupun tokoh dari masyarakat setempat, perwakilan dari Koramil setempat, Kapolsek beserta anggotanya dan seluruh anggota laskar pelangi sekecamatan Batangan. Setelah ada wacana calon tunggal pentingnya masyarakat untuk tetap hadir sebagaimana mestinya untuk melaksanakan hak pilihnya sesuai dengan apa yang diharapkan untuk memilih calon pemimpin yang baik, yang bisa mengayomi rakyat dan seluruh masyarakat kabupaten Pati.
Pembangunan dan sederet prestasi sebagai kota Adipura selama lima tahun ini, bisa menjadi motivator untuk kedepannya harapannya kota Pati dapat lebih bergairah bersaing sebagai kota wirausaha dengan kota - kota lainnya " ujar bapak Haryanto SH. MM. MSi.


Untuk itu kota Pati adalah kabupaten yang sangat potensial baik dari segi kelautan, perikanan maupun pertanian dengan pontensi ini dapat meningkatkan kerjasama dan Investigasi jangka panjang yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat kabupaten Pati. Sehingga kota Pati bisa menjadi kota transit kota metropolitan maupun kota kuliner yang dapat mendatangkan para wisman domestik maupun dari luar kota, minimal para wisatawan pendatang dapat mencicipi aneka ragam kuliner yang ada dikabupaten Pati, " tegas" Saiful Arifin."


Acara yang semarak ini oleh masyarakat yang menaruh harapan terhadap bapak Haryanto selaku petahana dan Saiful Arifin, bisa lebih baik dan maju, sesuai keinginan dari warga desa Gajah Kumpul kecamatan Batangan kabupaten Pati terwujud kembali. Dengan diawali alunan lagu kopi lambada dan diakhiri doa akhirnya tiada awal pertemuan yang diakhiri dengan perpisahan dan seluruh masyarakat Batangan mengucapkan beribu ribu terimakasih dan sampai jumpa kembali dilain kesempatan.
Share:

Jembatan Kali Progo Saksi Bisu Pembantaian Belanda

Target Hukum Online. Pati - 350 tahun lamanya negara Indonesia dijajah oleh Belanda. Banyak sisa-sisa sejarah yang tertinggal di negeri ini. Salah satu tempat bersejarah ini adalah Jembatan Kali Progo di Kranggan, Temanggung. Jembatan ini merupakan tempat pembantaian masal, baik masyarakat sipil maupun non sipil di Temanggung oleh penjajah Belanda.

Pembantaian masal ini terjadi ketika agresi militer II pada tahun 1949. Kurang lebih 1200an orang dibunuh secara masal di tempat ini. Mereka diikat tangan dan ditutup matanya, lalu para tentara Belanda dengan keji  menembak dan bahkan ada yang dipenggal kepalanya. Mayat-mayat merekapun diarahkan langsung ke Sungai  Progo sehingga langsung terjatuh ke sungai saat pembantaian. Bahkan sungai tersebut sempat berubah warna menjadi merah dikarenakan banyaknya darah dari para korban pembantaian kejam itu.

Untuk mengenang kejadian tersebut, maka pemerintah Kabupaten Temanggung membangun “Monumen Bambu Runcing” atau biasa disebut “Monumen Bambang Sugeng”. Monumen ini terletak di sebelah komplek makam pahlawan Mayjend TNI Bambang Sugeng. Mayjend TNI Bambang Sugeng sendiri adalah pahlawan yang berusaha melawan Belanda. Dia juga merupakan orang yang mengibarkan Bendera Merah Putih di Alun-alun Temanggung saat kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Saat ini, komplek Kali Progo telah dibangun Taman Kali Progo. Di dalam taman ini terdapat gardu pandang dan permainan anak. Ada pula gazebo untuk anda yang ingin bersantai sambil menikmati pemandangan Kali Progo. Tempat yang dulunya dikenal sebagai tempat yang angker, kini telah berubah menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat. Namun, jembatan tempat pembantaian itu tetap dibiarkan sehingga jalanannya sudah banyak yang berlubang dan rapuh, kemudian dibangun  jembatan baru disebelahnya. Dibagian atas Kali Progo juga terdapat rel kereta peninggalan Belanda yang sudah tidak digunakan lagi. Rel ini dijadikan sebagai tempat untuk berfoto oleh para pengunjung Taman Kali Progo ini.

Share:

Lukas Kustario Sang Patriot Bangsa

Target Hukum Online. Pati - Lukas Kustario “begundal” perang yang ditakuti Belanda

Wartawan Tempo Ali Anwar pernah mewawancarai sosok misterius Kapten Lukas Kustario pada 1992.

BOLA mata Brigadir Jenderal Purnawirawan Lukas Kustario yang bulat itu berkaca-kaca tatkala saya pada 1992 meminta dia menjelaskan posisi dirinya dalam peristiwa pembantaian terhadap 431 penduduk oleh tentara Belanda di Rawa Gede, Karawang pada 9 Desember 1947.

Lelaki gempal yang saat tragedi tak berperikemanusiaan itu menjabat sebagai Komandan Kompi I Batalion I Divisi Siliwangi di Karawang, langsung menengadahkan wajahnya ke langit-langit rumahnya yang sederhana di Jalan Gadog I, Cipanas Cianjur, Jawa Barat.

Saya tahu, Lukas yang usianya sudah mencapai 72 tahun saat itu, mencoba membendung air matanya, supaya dianggap tetap tegar, tidak mau dianggap cengeng di mata anak muda.

Namun, lama kelamaan air matanya semakin banyak, sehingga kelopak matanya tak mampu lagi membendung. Air mata itupun tumpah. Saat wajahnya ditundukkan, dia lepaskan tangis itu, sesenggukan bagai bocah.

“Maaf, sudah lama saya tidak menangis,” kata Lukas sambil mengusap air mata menggunakan ujung lengan panjang kemejanya. “Saat peristiwa pembantaian, saya sedang tidak di Rawa Gede, tapi di kampung lain di sekitar Karawang. Saya baru tahu pembanyaian itu keesokan harinya,” ujar Lukas.

Lukas mengaku tidak tahu persis alasan Belanda membantai penduduk tak berdosa itu. Namun, dia yakin peristiwa amat dahsyat itu disebabkan oleh rasa frustrasi pasukan Belanda yang tidak mampu menangkap pasukan pejuang, temasuk dirinya dan KH Noer Alie. “Kadang saya menyesal, mereka menjadi korban pembantaian demi melindungi para pejuang termasuk saya dan KH Noer Alie,” kata Lukas.

Kebetulan, kata Lukas, saat itu daerah sepanjang rel kereta api yang membentang dari Karawang Rawa Gede dan Rengasdengklok menjadi basis pertahanan pejuang. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Kapten Lukas Kustario dan KH Noer Alie sama-sama menempatkan pasukannya di Karawang dan sekitarnya, namun secara alami, mereka saling berbagi wilayah operasi gerilya.

Lukas memegang wilayah dari Rengasdengklok, Rawa Gede, Karawang, ke selatan hingga hutan Kamojing. Adapun KH Noer Alie (Pimpinan Umum Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah Jakarta Raya) dari Karawang ke utara, membujur dari Rawa Gede, Rengasdengklok, Batujaya, hingga Pakis. “Semua pejuang berpakaian seperti rakyat. Tak ada yang berani menggunakan pakaian dan uniform TNI, karena Karawang-Bekasi sudah dikuasai Belanda sejak Agresi Militer Belanda I,” kata Lukas.

ANAK petama Lukas, Lusiati Kushendrini Purnomowati, ingat ia pernah mendengar cerita tentang kejelian dan kelicinan ayahnya itu dari neneknya, Darsih. Ketika itu, kata Lusi, beberapa pekan menjelang peristiwa Rawa Gede, Lukas tengah di rumahnya di Cikampek bersama istrinya, Sri Soesetien, mertuanya Soekirno dan Darsih.

Tiba-tiba di depan rumah sudah berdiri sepasukan tentara Belanda. “Hati-hati Belanda, itu,” kata Darsih membisiki Lukas. Lukas yang masih mengenakan celana kolor, kaos singlet, dan kepala dililit handuk, tenang saja. “Di mana Lukas?,” kata seorang tentara Belanda kepada Lukas.

Lukas pun menjawab santai, “Oo, nggak tahu, barang kali di sana.” Begitu Belanda menjauh, Lukas segera berganti pakaian. “Langsung berangkat,” katanya. Lukas bertemu keluarganya kembali menjelang hijrah ke Yogyakarta pada Februari 1948.

Anak buah Lukas, Letnan Dua (Purnawirawan) TNI Soepangat, mengungkapkan, Komandan Batalion I Mayor Sudarsono sengaja menempatkan pasukan Lukas di Karawang yang “panas,” karena cocok dengan karakter Lukas yang pemberani dan cekatan.

Saat bertempur, Lukas selalu berada di posisi depan anak buahnya. Di sampingnya ada dua orang anak buah. Satu orang memegang bren, satu orang lagi memegang peluru. Saat berhadapan dengan musuh, kata dia" Lukas melakukan penembakan menggunakan bren telah tersedia di sisinya “Yang kesohor Lukas, karena itu (Rawa Gede) daerah kekuasaannya,” kata Soepangat di Cipanas, Cianjur, Kamis dua lalu.

Saking sulitnya Belanda menangkap Lukas, pihak Republik Indonesia menjulukinya sebagai tentara “kelotokan,” sedangkan Belanda menjulukinya sebagai “begundal” Karawang-Bekasi.

Perjalanan karir Lukas di ketentaraan bermula dari Madiun pada masa Pendudukan Militer Jepang 1942-1945. Lelaki kelahiran Magetan, 20 Oktober 1920, itu menjabat chudancho (komandan seksi) heiho di Madiun.Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Lukas dan rekan-rekannya mendatangi markas tentara Jepang untuk meminta senjata.

Mereka dipanggil Presiden Soekarno ke Jakarta, untuk menjaga keamanan. Sekitar 120 tentara dari Madiun diberangkatkan menggunakan kereta api pada 26 September dan tiba di Jakarta pada 29 September.

Bentrokan antara pejuang dengan tentara Sekutu-Inggris tak terelakkan. Terjadilah pertempuran sporadis, terutama di Senen, Kramat, dan Klender. Sebagian besar pasukan Madiun ditarik ke Surabaya paska peristiwa 10 Nopember 1945.

Yang tersisa di Jakarta tinggal sekitar 20 orang, yakni Seksi I Lukas Kustaryo di bawah Komandan Kompi I Banu Mahdi. Selanjutnya Kompi I ditempatkan di bawah komando Resimen VI/Cikampek.

Pada 13 Desember 1945, kota dan kampung-kampung di Bekasi dibom dan dibakar tentara Sekutu-Inggris. Penyebabnya, 26 tentara Sekutu-Inggris yang pesawatnya melakukan pendaratan darurat di Rawa Gatel, Cakung, pada 23 Nopember, dibunuh oleh para pemuda Bekasi pada awal Desember.

Lukas yang marah atas tindakan biadab tentara Sekutu-Inggris yang semena mena menginjakan kaki dibumi pertiwi, membawa pasukannya dibantu pemuda pejuang Bekasi untuk menyerbuan markas Sekutu-Inggris di Cililitan. “Kita bisa menekan moril pasukan Sekutu-Inggris dan Belanda, sehingga mereka tidak bisa keluar dari Cililitan, menimbulkan kekalutan mereka,” kata Lukas dalam wawancara pada 1992 itu.

Dari Bekasi, Lukas dan pasukannya ditugaskan ke Karawang. Di sana, Lukas menikah dengan Sri Soesetien anak Kepala Stasiun Cikampek, Soekirno, pada 15 Oktober 1946. “Kedua orangtua bapak (Lukas), Djojodihardjo dan Prapti Ningsih, beragama nasrani. Saat menikah dengan ibu saya, beliau (Lukas) sudah muslim,” kata Lusiati.

Ketangguhan Lukas kembali diuji ketika pasukan Laskar Rakyat Jakarta Raya menyerang TRI di Tambun April 1947. Saat perundingan dengan Laskar Rakyat Jakarta Raya mengalami jalan buntu, Batalion I yang dipimpin Lukas bergerak ke Tambun. Lukas berhasil memukul mundur Laskar Rakyat Jakarta Raya.

Sebagian dari pemimpin Laskar Rakyat bergabung dengan tentara Belanda di Jakarta. Lukas merasa kecewa tatkala tentara di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin memerintahkan batalionnya bersama batalion Supriyatna dan batalion Sumantri, agar pindah ke Tasikmalaya.

Sebagai gantinya, ditempatkan Batalion Beruang Merah dari Tasikmalaya. Namun, pertahanan Beruang Merah di Tambun amat lemah, sehingga sangat mudah ditaklukkan Belanda saat Agresi Militer pada 21 Juli 1947. Pertahanan Republik pun beset hingga Karawang dan Cirebon.

Untuk mengembalikan pertahanan yang sudah dikuasai pasukan Belanda, Divisi Siliwangi melakukan konsolidasi. Lukas dan kawan-kawannya pun dikembalikan ke Karawang-Bekasi. Selain melakukan perang gerilya, mereka juga membentuk pemerintahan sipil, untuk menandingi pemerintahan bentukan Belanda.

Dampaknya, moral pasukan dan penduduk kembali bangkit. Watak agresif dan berani pula yang membuat Lukas kerap berhasil melumpuhkan lawan. Sebagai contoh, kata Soepangat sebelum kembali ke Karawang-Bekasi pada Oktober-Nopember 1947, Batalion I melumpuhkan pasukan Belanda dalam perjalanan dari Tasikmalaya, Sumedang, Subang, Purwakarta dan hingga Cikampek.

“Nah, yang bisa menghancurkan panser Belanda itu, ya, Kompi Lukas. Itu sebabnya, Belanda amat mengenalnya,” ujar Soepangat. Makanya, begitu Lukas ditempatkan di Karawang, komandan “begundal” ini membikin “gerah” tentara Belanda.

Buktinya, ujar Soepangat, Belanda banyak kehilangan senjata dan jiwa dalam aksi-aksi gerilya yang dipimpin Lukas. Perang gerilya yang diajarkannya adalah, “Sekali serang, dua kali tembak, tiga kali hilang,” katanya.

“Umpamanya saya pegang pistol, ketemu Belanda. Setelah kita tembak, kita ambil senjatanya, lantas kita menghilang. Itu tiap hari kejadiannya. Ini yang membuat nama Lukas kesohor,” Soepangat menambahkan.

Berbagai cara dilakukan Belanda untuk memburu Lukas, namun lelaki dengan tinggi badan 160 senti meter itu bermata dan berotak jeli bagai elang dan licin bagai belut. Dia selalu lolos dalam setiap penyergapan. Selain mampu mengecoh lawan, Lukas juga dikenal sebagai sosok yang mampu menjalin hubungan erat dengan semua komponen pro-Republik Indonesia.

Dalam menjalankan aksi gerilyanya, Lukas selalu berkoordinasi dengan rekan-rekannya, seperti Kapten Mursjid sebagai Komandan Kompi II bergerak di Gunung Sanggabuana, dan Kapten Kharis Suhud, Komandan Kompi III di Kedung Gede hingga Cibarusah.

Lukas mengakui perjuangannya yang cenderung mulus juga berkat hubungan yang erat antara dirinya dengan gerilyawan lain dari badan-badan perjuangan, jawara, bandit, rampok, hingga rakyat jelata. “Saya menyatukan (semua komponen), jangan sampai perang saudara. Sebagian besar tidak menolak, karena tujuannya melawan Belanda,” kata Lukas. “Pasukan KH Noer Alie membantu. Mereka kasih makan, penunjuk jalan. Kalau saya mau mundur ke mana, semua diatur Pak Kiai,” kata Lukas.

Pada saat Divisi Siliwangi hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta dan Jawa Tengah sejak Februari 1948, Lukas yang naik pangkat menjadi mayor dan naik jabatan sebagai Komandan Batalion 4 Tajimalela, kembali menunjukkan kebolehannya.

Selain memberantas pemberonakan PKI di Madiun, Lukas juga kerap memukul pasukan Belanda. Ketika itu pada Desember 1948, tentara Belanda dari Batalion 3-11 RI Brigade W/Divisi B yang bergerak dari Banyumas hendak merebut Banjarnegara, namun dihentikan dan dipukul mundur oleh Lukas.

Sekembalinya di Jawa Barat pada 1949, Lukas yang cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) “memerangi” para kolaborator Belanda yang bergabung dalam Negara Pasundan dan Federal Jakarta.

Salah satu caranya, dia bersama KH Noer Alie menggelar apel akbar di Alun-alun Bekasi pada 17 Januari 1950. Hasilnya, Bekasi memisahkan diri dari Jakarta, untuk selanjutnya bergabung ke dalam NKRI. Langkah ini diikuti Tangerang dan Bogor.

Saat memperkuat pemerintahan sipil di Jakarta dan sekitarnya, pada Nopember 1950, Mayor Lukas ditugaskan ke Maluku untuk memberantas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipimpin mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur, Dr. C.R.S. Soumokil.

Lukas kembali kesohor berkat kesuksesannya merebut benteng Victoria dan menduduki sebagian besar Ambon pada 3 Nopember. Lukas mengamuk bagai Rambo begitu mendengar Komandan Operasi Maluku Selatan, Letnan Kolonel Ign Slamet Rijadi gugur. “Bakar semuanya!” ujar Soepangat mengenang perintah Lukas. Kota Ambon menjadi api unggun raksasa dalam waktu singkat RMS pun takluk.

Setelah kembali ke Jakarta pada awal 1951, Lukas menjadi Komandan Batalion “K” Brigade 20. Kali ini dia ditugaskan untuk memberantas gerombolan liar yang kerap melakukan perampokan dan pembakaran rumah-rumah warga di Bekasi, Cileungsi dan Cibarusah.

Tentu saja Lukas tidak kesulitan, karena para gerombolan yang terdiri dari para bekas pejuang dan perampok, adalah orang-orang yang dia kenal baik pada masa perang kemerdekaan. Hasilnya, seperti dikutip koran Pemandangan, 24 Februari 1951, “Sekitar dua seksi pasukan gerombolan berhasil dipengaruhi tentara.”

Ketika asyik di ketentaraan, Lukas diajak oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel A.H. Nasution mendirikan organisasi politik Ikatan Pendukung Kemerdekaan (IP-KI). Organisasi yang didirikan para tentara pada 20 Mei 1954, itu meraih empat kursi di parlemen dalam pemilihan umum 1955.

Lukas pun menjadi anggota DPR dari Fraksi IP-KI, bersama-sama Letnan Kolonel Daeng, Mayor Katamsi, dan Kolonel Gatot Subroto. Sejak saat itulah Lukas menetap di Cipanas, Cianjur.

Gatot Subroto yang kemudian menjadi Wakil KSAD digantikan posisinya oleh Kolopaking, sedangkan Nasution terpilih untuk anggota Konstituante di Jawa Tengah. Belakangan, Nasution diminta kembali oleh Presiden Soekarno untuk menjabat KSAD.

Lukas dan tentara yang duduk di IP-KI, kecewa dengan sepak terjang Nasution. Karena, Nasution bukan hanya meninggalkan IP-KI, tetapi juga memusuhi sejumlah tentara pendiri IP-KI. “Rupanya, mendirikan IP-KI untuk menyelamatkan dirinya sendiri,” kata Lukas.

Itu sebabnya, Lukas mengaku kapok bila diajak mendirikan organisasi apapun oleh Nasution. “Saya langsung menolak ketika Nasution, mengajak bergabung di Petisi 50,” katanya.

Ketika tak lagi berpolitik, Lukas kembali mengabdi sebagai tentara. Kali ini, pada awal 1960-an, sebagai Komandan Seksi Teritorial di Markas Divisi Siliwangi. Pada masa Orde Baru, Lukas dan para jenderal Siliwangi yang kritis terhadap pemerintahan Soeharto dipinggirkan.

Sementara sebagian rekannya bergelimang harta dan jabatan, di hari tuanya, Lukas yang berpangkat brigadir jenderal purnawirawan lebih banyak mencurahkan waktunya untuk menyambangi orang-orang yang pernah bersinggungan dengan dirinya sejak masa perang kemerdekaan, dan berbaur dengan warga sekitar Cipanas.

Untuk mengenang peristiwa Rawa Gede, hampir setiap tahun, Lukas bersama rekan-rekannya menjenguk serta menyantuni para keluarga korban pembantaian di Rawa Gede. “Kami juga membikin monumen di Rawa Gede, agar sejarahnya tidak dilupakan generasi muda,” ujar Lukas.

Tak aneh kalau pada era 1980-an hingga 1990-an, rumahnya selalu didatangi para veteran, mantan jawara, mantan rampok, aktivis pemuda, peneliti, hingga mahasiswa skripsi. “Bapak rajin ke Bekasi, Karawang, Cikampek. Termasuk ke Rawa Gede dan Batalion 202/Tajimalela di Bekasi,” kata putra kedua Lukas, Bambang Rilaksana Susetia.

Jenderal “kelotokan” dan “begundal” Karawang-Bekasi itu wafat di Cianjur dalam usia 77 tahun pada 8 Januari 1997. Ribuan orang dari berbagai kelompok dan kelas yang melayat, menangisinya. Warga Cianjur yang mengenalnya sebagai jenderal yang ramah dan bersahaja itu, mengikhlaskan jalan-jalan utama mereka macet total. Para pedagang, rela menutup tokonya seharian.

Saking mengagumi dan menghormati keteguhan Lukas, sampai-sampai mereka menyiapkan tiga liang lahat, yakni di Taman Makam Pahlawan Kali Bata Jakarta, Gunung Kasur Cianjur, dan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Cianjur di Cipanas.

Akhirnya, keluarga memutuskan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa yang terletak di belakang Istana Negara Cipanas. Sehari setelah mendengar kabar Pengadilan Den Haag, Belanda, memenangkan para janda korban pembantaian Rawa Gede, keluarga berziarah ke makam Lukas. “Pak, berhasil sudah perjuangan Bapak,” ujar Lusiati.

Share:

Pemuda Jepang Dan Korea Berjuang Bergerilya Bersama TKR

Target Hukum Online. Pati - Gerilyawan Korea di Pihak Indonesia
Bersama empat kawan Jepangnya, seorang anak muda Korea memutuskan untuk bergabung dengan gerakan pembebasan Indonesia. Memilih mati di ujung senapan serdadu Belanda.
Pagi baru saja menyeruak di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut, Jawa Barat. Hawa sejuknya bersanding dengan kehangatan cahaya matahari yang menyentuh bentangan rerumputan dan pohon-pohon hijau. Di sebuah sudut, seorang perempuan muda berwajah oriental terpaku di hadapan makam bernisan kelabu yang bertuliskan: Komaruddin/Yang Chil Sung.
“Tadinya saya tak percaya ada orang Korea yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia, tapi inilah buktinya,” ujar Chae-eui Hong, perempuan muda tersebut, seorang jurnalis Korea Selatan. Baginya, sulit membayangkan seseorang rela mati ribuan kilometer dari kampung halamannya demi kemerdekaan bangsa lain.
“Dia pasti punya alasan yang sangat istimewa,” ujarnya.
Datang Sebagai Tentara Jepang
Alkisah, kala Semenanjung Korea dijajah Jepang (1910-1945), banyak pemuda Korea direkrut militer Jepang. Upaya itu kian gencar dilakukan saat Negeri Matahari Terbit menjalankan ekspansi militer ke kawasan Asia Tenggara awal 1942.
Menurut Rostineu, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), ada dua tenaga tempur bangsa Korea yang dimanfaatkan Jepang saat itu: gunsok (tentara pembantu) dan ilbon gunnin (tentara reguler Jepang).
“Sejak Mei 1942 Jepang memobilisasi 3.223 gunsok ke wilayah Asia Tenggara. Mereka ditugaskan sebagai phorokamsiwon (penjaga tawanan perang),” ujar Rostineu mengutip pernyataan Utsumi Aiko dalam buku Aka michi shita no choosonin banran (Pemberontakan Rakyat Joseon di Bawah Garis Khatulistiwa).
Yang Chil Sung, lelaki kelahiran Wanjoo, provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan, pada 29 Mei 1919, datang ke Jawa mengikuti arus pengiriman para phorokamsiwon ini. Namun Rostineu ragu bahwa Chil Sung seorang gunsok atau phorokamsiwon. Indikasinya, tentara jenis ini tidak memiliki kemampuan seperti Chil Sung yang trampil berbahasa dan bagus secara teknis militer (pandai merakit bom dan ahli telik sandi).
“Saya cenderung berpendapat Chil Sung adalah bagian dari ilbon gunnin. Mungkin saja dia ditugaskan membawahi para gunsok tersebut,” ujarnya.
Berbeda dari Rostineu, Korea Broascasting System (KBS) World Radio cenderung berpendapat bahwa Chil Sung merupakan bagian dari phorokamsiwon. Dalam siaran edisi bahasa Indonesia pada 15 Agustus 2015, KBS menyebut, sesampai di Jawa, Yang Chil Sung (saat itu sudah ganti nama berbau Jepang: Yanagawa Sichisci) ditugaskan di sebuah kamp tawanan perang di Bandung. Di sanalah dia bertemu dengan Lience Wenas, perempuan Indonesia, yang tengah menjenguk kakaknya.
Tiap minggu berjumpa kedua insan beda bangsa itu menjalin keakraban dan jatuh cinta. Singkat cerita, “Menikahlah Yang Chil Sung dengan perempuan pribumi itu,” demikian menurut keterangan KBS.
Tertangkap di Gunung Dora
Awal Februari 1948, sesuai kesepakatan Perjanjian Renville, Divisi Siliwangi harus meninggalkan kantong-kantong mereka di seluruh Jawa Barat. Sebagai basis baru mereka ditempatkan di sebagian Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun tidak semua personil Divisi Siliwangi berangkat hijrah.
“Sebagai bom waktu, diam-diam kami meninggalkan satuan-satuan kecil untuk bertahan di Jawa Barat,” ujar Kolonel R.H. Eddie Soekardi, sesepuh Divisi Siliwangi, dalam buku Hari Juang Siliwangi.
PPP melakukan taktik tersebut. Menurut Basroni, seluruh personil PPP sempat hijrah ke Yogyakarta namun Mayor Kosasih kemudian mengintruksikan sebagian pasukan pimpinan Letnan Djoehana untuk kembali dan meneruskan perang gerilya di Wanaraja. “Bersama eks tentara-tentara Jepang pimpinan Abubakar dan Komaruddin, Pak Djoehana menuruti instruksi ayah saya dengan terus menyusun perlawanan terhadap Belanda di Garut dan sekitarnya,” ujarnya.
Dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa yang disusun Dinas Sejarah Kodam VI Siliwangi disebutkan, sebagian personil PPP ditempatkan di bawah Brigade Tjitaroem pimpinan Letnan Kolonel Soetoko. Selain bertugas mengganggu posisi Belanda di Garut, mereka mengondisikan upaya penyusupan prajurit Divisi Siliwangi dari wilayah Republik ke Garut dan Tasikmalaya. “Merekalah yang harus menyambut dan menyediakan tempat aman untuk pasukan-pasukan yang dirembeskan itu,” tulis Siliwangi dari Masa ke Masa.
Suatu malam pada Agustus 1948, PPP mengadakan pertemuan di Desa Parentas yang merupakan wilayah kaki Gunung Dora (perbatasan Garut-Tasikmalaya). Mereka membahas pengkondisian pasukan penyusup serta taktik melawan pasukan Negara Pasundan dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Trio eks tentara Jepang, Abubakar, Usman dan Komaruddin, turut hadir.
Tanpa sepengetahuan mereka, tim buru sergap Yon 3-14-RI diam-diam mengepung rumah panggung tempat rapat itu. Rupanya telik sandi militer Belanda sudah mengendus keberadaan para gerilyawan. “Ada mata-mata orang Garut asli yang membocorkan tempat pertemuan itu kepada Belanda,” ujar Raden Ojo Soepardjo.
Lewat tengah malam, terdengar tembakan bersahutan. Sadar sudah terkepung, Letnan Djoehana, Usman, Abubakar, dan Komaruddin memutuskan menyerah. Dokumen Arsip Nasional Belanda mengabadikan foto-foto mereka beberapa saat usai ditangkap. Tampak Abubakar, Usman dan Komaruddin dengan tangan dan leher terikat seutas tali tersenyum dalam wajah yang tenang.
“Bersama ditangkapnya Abubakar dan kawan-kawan, disita pula sejumlah dokumen penting dan catatan-catatan hasil rapat yang belum selesai itu,” tulis buku Siliwangi dari Masa ke Masa.
Militer Belanda lantas membuat pengadilan militer kilat. Hasilnya, Komaruddin, Usman, dan Abubakar divonis hukuman mati. Sedangkan Letnan Djoehana dihukum penjara seumur hidup di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta. Menurut Yoyo Dasrio, Letnan Djoehana yang pandai berbahasa Belanda itu sempat melakukan pembelaan diri hingga lolos dari hukuman mati.
“Namun hingga menjelang wafat, Pak Djoehana selalu merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Usman, Abubakar dan Komaruddin di depan pengadilan, kendati tentu saja itu bukan salahnya,” ujar Yoyo Dasrio, jurnalis yang pernah mewawancarai Letnan Djoehana.
Berpenampilan Merah Putih
Senin, 9 Agustus 1948. Selepas magrib, seorang lebe (penghulu) disertai perwira Belanda menemui Komaruddin, Usman, dan Abubakar di sebuah ruangan dalam Penjara Garut. Kepada sang lebe, ketiganya menyampaikan pesan terakhir agar setelah meninggal, jenazah mereka dimakamkan secara Islam. Permintaan itu langsung diamini.
Menjelang subuh keesokan harinya, dengan memakai kampret (sejenis baju koko) putih dan sarung merah Tjap Padi, ketiga eks tentara Jepang itu diangkut ke Lapangan Kerkhoff yang terletak di seberang Sungai Cimanuk (sekarang, Gedung Gelora). Tepat pukul 06.00, terdengar beberapa kali letusan senjata. Komaruddin dan kedua kawan Jepangnya gugur seketika.
“Menurut seorang saksi yang pernah saya wawancarai, Komaruddin masih sempat meneriakkan kata ‘merdeka’ sebelum peluru menembus kepalanya,” ujar Yoyo.
Jasad Abubakar (Hasegawa), Usman (Aoki) dan Komaruddin (Yang Chil Sung) lantas dikebumikan di Pemakaman Pasirpogor. Duapuluhtujuh tahun kemudian, kerangka mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, tempat yang secara resmi menabalkan mereka sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia.
Belum lama Chil Sung-Lience menikah, Jepang takluk kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Tiga hari kemudian, Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Situasi tersebut membuat masa depan orang-orang Korea yang bekerja untuk militer Jepang, termasuk Chil Sung, suram. Kendati senang terbebas dari kekuasaan Jepang, mereka khawatir akan diperlakukan sebagai penjahat perang oleh Sekutu.
Bergabung dengan Gerilyawan Indonesia
Maret 1946. Bandung dilanda peperangan ratusan kelompok pemuda dari penjuru Pasundan berduyun-duyun datang ke sana untuk bertempur melawan Sekutu dan sisa-sisa tentara Jepang. Salah satu kelompok tersebut adalah Pasukan Pangeran Pakpak (PPP) Garut pimpinan Mayor Saoed Moestofa Kosasih.
Nama “Pangeran Papak” mengacu pada seorang bangsawan terakhir dari kerajaan Pajajaran yang dimakamkan dekat markas pasukan tersebut di Wanaraja, Garut. “Bahkan salah seorang keturunan Pangeran Papak, yakni Raden Djajadiwangsa, saat itu berkenan menjadi penasehat sekaligus fasilitator aktivitas sehari-hari PPP seperti penyediaan dapur umum, pengadaan markas, dan lain-lain,” ujar Dadang Koswara (46), salah seorang cucu Raden Djajadiwangsa.
Suatu hari, dalam suatu pertempuran di Bandung, PPP berhasil menawan lima tentara Jepang. Salah satunya Yanagawa alias Yang Chil Sung. Menurut Basroni Kosasih (60), salah seorang putra Mayor Kosasih, mereka semula akan dibunuh para prajurit PPP, namun segera dicegah Mayor Kosasih. “Selain soal kemanusiaan, ayah saya berpendapat orang-orang asing ini suatu hari pasti berguna buat pasukannya,” ujarnya.
Kelima tentara Jepang itu kemudian dibawa ke Wanaraja. Di sana mereka diperlakukan baik-baik. Setelah sekian lama hidup bersama para anggota PPP dan masyarakat Wanaraja, mereka malah balik bersimpati pada perjuangan Indonesia. Hingga suatu hari, mereka datang menghadap Mayor Kosasih dan menyatakan diri ingin masuk Islam.
Mayor Kosasih lantas membawa mereka menemui Raden Djajadiwangsa yang juga seorang ulama sepuh. Maka, di hadapan Raden Djajadiwangsa, mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengikrarkan diri berjuang bersama PPP. Sejak itulah mereka berganti nama: Hasegawa menjadi Abu Bakar, Aoki jadi Usman, sementara Chil Sung jadi Komarrudin.
“Untuk dua lagi saya lupa nama Jepangnya. Tapi kami memanggil mereka sebagai Umar dan Ali,” ujar Raden Ojo Soepardjo Wigena (88), anggota PPP bagian dapur umum yang juga salah seorang rekan seperjuangan Chil Sung di Wanaraja, Garut.
Menurut Wigena, kelima eks tentara Jepang itu memiliki tugas masing-masing. Umar dan Ali menjadi tenaga kesehatan, sedangkan Abu Bakar, Usman dan Komaruddin selain menjadi pelatih militer Pasukan Pangeran Papak juga terlibat aktif dalam berbagai operasi pertempuran.
Buronan Militer Belanda
Sejak bergabungnya eks tentara Jepang, kesatuan PPP seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi militer Belanda. Berbagai operasi penyerangan, sabotase, dan penghadangan di sekitar Wanaraja kerap mereka lakukan secara sporadis dan militan. Korban pun berjatuhan, bukan saja dari kalangan militer namun juga aparat Recomba (Regerings Commissaris Bestuurs Aangelegenheden) –istilah Belanda untuk pemerintahan darurat yang diinisiasi H.J. Van Mook sebagai prakondisi terbentuknya pemerintahan federal di Indonesia.
Namun tak ada aksi PPP yang paling mengesankan selain penghancuran Jembatan Cimanuk, yang menghubungkan Wanaraja-Garut kota. Ceritanya, pada sekitar 1947, telik sandi PPP menyadap informasi bahwa militer Belanda akan menghajar Wanaraja. Maka, Mayor Kosasih memutuskan: Jembatan Cimanuk harus dihancurkan.
Suatu malam bergeraklah satu tim kecil prajurit PPP menuju Jembatan Cimanuk. Sesampai di sana mereka langsung beraksi. Sementara yang lain berjaga-jaga di sekitar wilayah itu, Komaruddin dengan lincah merayap di bawah jembatan. Secara hati-hati, dia memasang bom di sejumlah titik konstruksi jembatan. Begitu bahan-bahan peledak selesai ditempatkan, dia segera beranjak kembali ke tempat yang aman. Glaarrr! Beberapa saat kemudian ledakan dasyat memecah malam. Jembatan Cimanuk hancur seketika.
“Putusnya Jembatan Cimanuk menggagalkan upaya militer Belanda menguasai Wanaraja,” ujar Dadang Koswara.
Akibat kejadian itu, Belanda semakin berang. Mereka berpikir keberadaan eks tentara Jepang di PPP tak bisa dibiarkan. Maka dibuatlah rencana operasi perburuan dengan melibatkan satu tim elit buru sergap dari Yon 3-14-RI (Regiment Infanterie), sebuah batalion Angkatan Darat Belanda yang dipimpin Letnan Kolonel P.W. Van Duin.
“Yang paling utama satuan ini harus meringkus Abubakar alias Hasegawa, bekas salah satu penjaga kamp tawanan perang di Flores yang terkenal sangat kejam,” demikian keterangan yang dilansir Het Genootschap voor het Nationaal Archief (Arsip Nasional Belanda).
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

Dandim 0718 PATI Jajar Legowo

Target Hukum Online. Pati – Bertempat di desa Banjar Sari Kec. Gabus . Dandim 0718/ Pati telah melaksanakan kegiatan : ” Teknologi Jajar Legowo Program Padi Jagung dan Kedelai tahun. 2016 di kabupaten Pati “. Dan Gerakan Percepatan Tanam yaitu, Musim Tanam Oktober – Maret Tahun 2016- 2017 dan Gerakan Tanam Serentak Di Wilayah Kab. Pati. kamis (27/10/2016)
Adapun yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain ;
Dandim 0718/ Pati, Kep. Dispertanak kab. Pati . Kapolsek gabus ( AKP. Sudarsono .SH ) Danramil gabus (Kapten Inf. Sunaryo), Camat gabus ( Dra. Niken Safitri ) Kades Banjar sari ( Ir. Edi Suwono ) dan warga Ds. Banjar sari dan para Mantri pertanian .
Kepala Dispertanak Kab Pati mengucapkan terima kasih kepada Komandan Kodim 0718/ Pati yang telah banyak mendukung program Pajale ini dan pengawasan subsidi pupuk karena adanya kerjasama ini para petani bisa mendapatkan kebutuhan subsidi pupuk maupun bibit dan alsintan secara merata.
Komandan Kodim 0718/ Pati, Letkol Inf Andri Amijaya K S.sos. mengharapakan jangan selalu bergantung pada orang lain dalam arti kepada negara lain, contoh : Vietnam , Malaysia ,dan India.
Jangan sampai kepada para petani di acak – acak oleh para tengkulak maupun orang lain, kenapa  di tahun 2016 ini Presiden bersama Mentri pertanian akan mengadakan MOU bekerja sama dengan TNI dan Polri Artinya  agar kita atau petani tidak dimanfaatkan ajang bisnis oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk masalah harga dan surplus padi , waspadai kepada orang – orang yang akan mencari keuntungan sendiri tapi merugikan para petani, kepada para petani jika ada masalah dilapangan segera laporkan kepada Babinsa setempat atau kepada saya selaku Dandim 0718/Pati biar nanti segera kita tangkap pelaku pengoplosan pupuk subsidi maupun barang dan bahan pertanian lainnya.
Acara di lanjutakan tanam padi serentak secara bersamaan dengan para  Dispertanak ,Muspika kec. Gabus , Kapolsek , Danramil dan para petani dan anggota siaga Makodim 0718/ Pati.

Share:

Sumpah Pemuda Indonesia

Target Hukum Indonesia. Pati – 28 Oktober selalu dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ketika itu, perwakilan pelajar di era kolonial Hindia Belanda menggelar kongres yang ditulis di buku-buku sejarah telah menghasilkan tiga butir sikap mencerminkan nasionalisme. Yaitu pengakuan atas tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.

Namun tak banyak yang tahu, isi teks sumpah pemuda pasca tahun 1950 berbeda dengan aslinya, menurut dia teks sumpah pemuda tak memakai kata ‘satu’ dalam tiga butir yang dihasilkan dalam kongres sumpah pemuda II.

Menurut surat kabar Sinpo, bunyi asli hasil kongres adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Isi putusan kongres pemuda diubah oleh Muhammad Yamin yang disodorokan kepada Soegondo. Ketika itu, Sunario sedang berpidato dalam kongres pemuda. Yamin berbisik kepada Soegondo, “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie,” (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).

Kemudian Soegondo membubuhi paraf pada secarik kertas tersebut, dan diteruskan kepada para pemuda lain. Sehingga Soegondo membacakan isi sumpah pemuda dengan dijelaskan oleh M Yamin.

Isi naskah Putusan Kongres Pemuda – pemuda Indonesia hasil perubahan Muhammad Yamin adalah sebagai berikut:

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejarawan JJ Rizal, melalui diskusi di Cikini empat tahun lalu, menjadi salah satu intelektual yang terlibat polemik sejarah naskah asli Sumpah Pemuda. Menurut Rizal, terus menyebut Sumpah Pemuda sebagai hasil kongres pemuda ke-II akan mengkhianati sejarah sebenarnya.

“Kata Sumpah Pemuda itu baru diintroduksi sejak tahun 1958, waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar,” ujarnya.

Juru bicara Museum Sumpah Pemuda, Endang Pristiwaningsih mengatakan, saat itu organisasi pemuda didirikan Budi Utomo, namun anggotanya ada muda dan tua. Oleh sebab itu, para pemuda yang berada di Batavia mendirikan organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

“Terus lahir organisasi pemuda pertama awalnya trikorodarmo, kemudian dari trikorodarmo menjadi Jong Java,”.

Setelah itu, kata dia seluruh pemuda mempunyai gagasan untuk mengumpulkan organisasi kepemudaan. Sehingga mereka membentuk kerapatan pemuda yang saat ini disebut Kongres Pemuda I.

Nah di kongres pemuda I itu belum berhasil dilanjutkan kongres pemuda II, sama yang dihadiri organisasi-organisasi itu, kepanitian juga berasal dari organisasi itu ada Jong Java, Sumatera dan lainnya,” kata Endang.

Dia membantah bahwa para pemuda tersebut bukan utusan yang mewakili daerahnya. Menurutnya, mereka ikut Kongres Pemuda karena sudah lama tinggal di Batavia dan menempuh sekolah tinggi. Kemudian, mereka berinisiatif membentuk organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

“Ya mereka memang tinggal disini kan mereka sekolah di sini. Jadi ini (Museum Sumpah Pemuda) dulu kos-kosan, kemudian pelajar yang tak tertampung di Stovia, kosannya di sini.

Menurut Endang organisasi pertama Jong Java lahir di Stovia, kampus kedokteran yang sekarang beralih menjadi fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Belakangan menyusul berdiri organisasi kedua, yakni Jong Sumatra yang juga berisi kumpulan mahasiswa rantau asal Sumatra di Batavia.

Selain itu, ia mengatakan bahwa naskah sumpah pemuda berasalkan keputusan bersama para pemuda bukan ide gagasan Muhammad Yamin yang disodorkan kepada

“Semua para pemuda di situ, saya rasa cuma hanya Yamin tidak bisa. Semua pemuda yang hadir di situ, dihadiri sekitar 700 orang,” jelasnya.

Menurutnya, M. Yamin tak ikut kepanitian Kongres Pemuda I di Batavia. Kongres Pemuda yang paling berperan adalah Muhammad Tabrani seorang yang berprofesi wartawan.

M. Yamin hanya tampak pada Kongres Pemuda II sebagai sekretaris. Sedangkan Presiden Soekarno dalam Kongres Pemuda hanya berkunjung di Gedung Indonesische Clubhuis (IC) untuk membahas formatur perjuangan melawan Belanda.

“Jadi pemuda itu sudah punya tekat tapi kebetulan waktu itu yang punya julukan nakal, pintar tapi banyak akalnya Tabrani, yang menjadi Ketua Kongres Pemuda I berkat kelihaian beliau kerapatan besar berhasil,” kata dia.

Dia juga bercerita tujuan dibentukanya Kongres Pemuda I untuk menyatukan pemuda agar Indonesia bebas dan merdeka. Setelah itu, Kongres Pemuda II diputuskan untuk bersumpah satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa.

Dalam isi sumpah pemuda tak ada perubahan dan tak heroik. Menurutnya, para pemuda yang tergabung Kongres Pemuda yang melahirkan sumpah pemuda bukan M. Yamin dan Soekarno.

“Jadi kalau kita bicara siapa yang menginginkan atau siapa yang melahirkan sumpah pemuda, ya para pemuda dari berbagai organisasi,” tandasnya.

Sementara Rizal berkukuh perayaan Sumpah Pemuda pada 29 November merupakan gagasan Soekarno. “Waktu itu memang Soekarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Sebenarnya memang tidak pernah ada. Itu memang kebohongan besar,” ujar Rizal.

Selain itu, kata Rizal generasi yang mengatasnamakan pemuda menggunakan sumpah pemuda untuk membedakan identitas dengan generasi tua. “Pada akhirnya, kelompok membuat itu untuk membedakan diri dengan orang-orang tua yang konservatif,” urainya.

Share:

Campur Tangan Turki Tentukan Kemenangan Demak

Target Hukum Online. Pati - Sunan Ngundung dan Amir Hamzah beserta sisa 35 pasukan tidak kembali ke demak, mereka berkemah di Lawu karena pantang pulang sebelum misi menaklukan Majapahit selesai. Demak kemudian mengirimkan lagi 7.000 pasukan untuk menuntaskan misi.

Di Majapahit, kemenangan terasa menyesakkan dada mereka karena tewasnya Panglima Gajah Sena. Dalam pertempuran kehilangan seorang jenderal lebih menakutkan daripada 1000 pasukan.

Brawijaya kemudian menyiagakan kembali pasukan dengan dipimpin sang putra mahkota Raden Gugur. Ini adalah sebuah blunder besar, menurunkan putra mahkota ke medan laga padahal musuh masih kuat.

Pertempuran kedua berlangsung, Majapahit kembali menang tapi Raden Gugur tewas di medan laga.

Di saat genting bantuan dari Kadipaten Wengker utusan Bathara Katong tiba. Pasukan Demak yang semula mengira mereka kawan menjadi kalang kabut karena wengker memilih membela Majapahit.

7.000 pasukan Demak akhirnya musnah ditumpas, Sunan Ngundung dan Amir Hamzah putera Sunan Wilis ikut tewas. Kabar kematian dua panglima berserta kekalahan kedua ini benar-benar membuat suasana Demak mencekam.

Masyarakat Demak diliputi isu bahwa kekalahan mereka karena melanggar wasiat Sunan Ampel agar jangan menyerang Majapahit. Mereka merasa sebagai umat yang durhaka, semangat tempur prajurit pun turun.

Karena Nusantara adalah pusat perdagangan dunia, berita kekalahan kedua Demak menyebar cepat ke seluruh dunia.

Di saat bersamaan Turki Ottoman (tahun 1500-1525) sedang gencar berekspansi di Timur Tengah  dan Asia.  Telah memiliki armada laut yang tangguh untuk bersaing dengan Bangsa Eropa memperebutkan sumber rempah-rempah.

Mereka mendapat hak eksklusif di samudra Hindia untuk melindungi rute pelayaranya. Ini adalah hadiah dari kerajaan Aceh karena Turki sponsor Aceh dalam perang melawan Batak.

Diplomasi erat Turki-Aceh inilah yang mampu membuat Aceh bertahan sampai tahun 1910. (Catatan Frederict De Houtman 1603M) Belanda baru berani menyerang Aceh saat Turki Ottoman sudah runtuh.

Melihat situasi Demak dan atas rekomendasi diplomasi Aceh serta semangat Pan Islamisme, Turki membantu Demak dengan mengirimkan pasukan dan ahli senapan dan meriam. Di kemudian hari Demak terkenal sebagai penghasil meriam terbaik di Nusantara.

Bagi Turki, Demak sangat strategis untuk mengamankan pasokan rempah-rempah terkait persainganya dengan Portugis. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M.

Mughal di India yang tak pernah akur dengan Turki Ottoman tak mau kalah dalam mencari posisi keuntungan dalam perang Jawa. Mereka mengirim bantuan 50 ekor gajah perang.

Mughal sendiri tidak intens terlibat dalam perang karena pada saat yang sama mereka juga terlibat perang melawan Portugis dalam rebutan Goa dan Ceylon.

Semangat tempur pasukan Demak yang sempat surut karena takut kualat dengan wasiat Sunan Ampel kini tumbuh kembali melihat semangat jihad dalam diri pasukan bantuan asing.

Portugis mencatat ada sekitar 300 pasukan Turki bersenjata lengkap dalam barisan militer Demak. Melihat kekuatan Demak yang demikian kuat, Majapahit mencoba membuat aliansi dengan Portugis.

Dalam catatan Tome Pires bertahun 1512 M, Patih Udara dari Daha (Ibukota terakhir Majapahit) mengirimkan seperangkat gamelan dan kain batik pada penguasa Portugis di Malaka.

Kabar ini semakin menguatkan tekad Demak untuk menginvasi Majapahit. Semangat jihad dan anti Portugis membuat gelora Demak membara.

Dukungan pasukan multinasional dan artileri berat tercanggih di zamanya. Serbuan pamungkas Demak ke Majapahit ini seperti kisah film “The Last Samurai” perang frontal dengan segenap strategi dan gelar pasukan terbaik diterapkan disetiap batalyon misi untuk menghancurkan setiap lawan, saling cengkeram saling membantai diantara para jenderal, perwira maupun prajurit yang gugur tumpang tindih diantara sudut ibukota trowulan, banyak pendekar yang binasa membela negaranya inilah bentuk perjuangan dan loyalitas kepada keluarga, agama dan tanah air.

Sebuah peradaban agung bernama Majapahit yang mencoba bertahan dengan sisa-sisa kekuatan karena perang saudara, dihancurkan dengan meriam dan mesiu, hancur berkeping keping tanpa sisa sebuah tragedi peperangan yang menyesakan dada.

Lumrah bila di hari ini sangat susah menemukan warisan bangunan monumental dari peradaban Majapahit.

Share:

Cita Cita MINYAK Bung Karno dan Investasi Asing

Target Hukum Online. Pati - Pidato yang mengema diseluruh penjuru tanah air bukti Bung Karno tidak pernah gentar dengan asing “Jangan dengarkan asing,” itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal.

Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara.

“Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya,” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang,” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang.”

Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malay

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik terus menerus.

Pada Bung Karno, hendaknya jalannya sejarah Indonesia harus dikembalikan.., jasmerah" jangan sekali kali meninggalkan sejarah".

Share:

Kamis, 27 Oktober 2016

Kepala Desa Ngawen Lantik Dua Perangkat Desa Terpilih

Target Hukum Online. Pati - Suasana balaidesa Ngawen kecamatan Margorejo Pati senin (24/10/) tampak ramai dikarenakan akan diadakan ujian tertulis bagi calon perangkat desa. Puluhan petugas keamanan dari Polsek Margorejo dan Koramil 12 Margorejo tersiaga karena direncanakan setelah tes tertulis langsung diadakan pelantikan. Desa Ngawen saat ini terdapat dua kekosongan perangkat desa, hanya dua orang yang mendaftarkan diri, Hendro Wibowo, Spd dan Eko Yulianto.


Setelah melalui beberapa tahapan seleksi seperti uji publik dan kemampuan komputer yang dilaksanakan pada hari sabtu (15/10) berkas keduanya dinyatakan lengkap dan tidak ada masalah. Hingga pada sesi ujian kemampuan komputer yang dipantu oleh LPK Eri For Kids (Eri Dartanti) kedua calon dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan. Kedua calon perangkat desa pada hari senin (24/10) menjalani tes tertulis yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB dengan diawasi oleh Panitia dan Panwas yang ada. Hasil tes menyatakan keduanya lulus dengan hasil nilai 94 untuk Hendro Wibowo, Spd dan 82 untuk Eko Yulianto.


Setelah menunggu beberapa saat untuk penyerahan berkas hasil tes dari kades kepada camat agar mendapatkan rekomendasi, akhirnya pada pukul 13.00 WIB kedua calon perangkat desa yang telah lolos tes resmi dilantik oleh kepala desa Ngawen Sunarto. Berdadarkan keputusan kepala desa Ngawen nomor 141.32/16/2016 menetapkan Hendro Wibowo S.pd. sebagai sekretaris desa dan Eko Yulianto sebagai kasi pemerintahan desa Ngawen, maka kepada yang bersangkutan berhak mendapatkan penghasilan tetap (siltap), tunjangan dan atau penerimaan lain sesuai perundang-undangan yang berlaku serta sesuai peraturan yang berlaku berhak mendapatkan benkok dan masa jabatan hingga usia 60 tahun.
Hadir dalam acara pelantikan tersebut Camat Margorejo Drs. Sukismanto, Kasi Tata Pemerintahan Yuni Ciptati, Kasi Trantib Anton dan anggota, Kapolsek Margorejo AKP Eko Pujiyono beserta anggota Danramil 12 Margorejo Kapten Inf. Djumali beserta anggota, BPD, LPMD serta keluarga perangkat yang dilantik. Camat Margorejo Drs. Sukismanto dalam sambutannya mengatakan bahwa unntuk perangkat baru ini hanya mengenai hak dan kewajiban, hak bahwa perangkat desa mendapatkan penghasilan tetap serta penghasilan lain yang diatur sesuai ketentuan yang berlaku, sedangkan kewajiban sebagai perangkat desa wajib melayani masyarakat dan harus lebih inovatif.

Sementara Kades Sunarto dalam kesempatan wawancara dengan awak media menjelaskan tentang wilayah desa Ngawen yang terdiri atas 2 RW dan 10 RT, dengan jumlah penduduk _+ 2300 jiwa serta mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai petani dan buruh pabrik. Dengan adanya tambahan dua perangkat desa baru ini Sunarto berharap agar kinerja perangkat desa bisa lebih baik dan lebih maju dalam melayani masyarakat Desa, sehingga dengan kekompakan bisa menjadikan desa Ngawen lebih maju dan sejahtera, pungkasnya'.
Share:

Selasa, 25 Oktober 2016

Proyek RKB SMK Negeri 3 Pati Di Indikasi Banyak Penyelewengan

Target Hukum Online. Pati - Dana bantuan hibah dari Kementrian Pendidikan yang mengalir ke sekolah tingkat atas, seperti smk negeri 3 pati, smk yang notabenya banyak prestasi tapi dalam hal pembangunan di salah satu ruang kelas terkesan asal - asalan atau asal jadi, seperti pasirnya di oplos dengan padas biar bisa menekan biaya pembangunan, ketika kami para awak media dan salah satu LSM dari semarang berkunjung ke SMK tersebut, ada aja alasan sehingga kami tidak bisa ketemu dengan kepala sekolahnya, bahkan sampai tiga kali kami mendatangi SMK tersebut tpi hasilnya nihil ga bisa ketemu, padahal menurut data kami dari kementrian pendidikan ada kurang lebih 10 SMK di pati yg dapat bantuan, setiap SMK kurang lebih dapat bantuan 300 sampai 500 juta yang bersumber dari dana APBN tahun 2016, kalau memang ada indikasi pemotongan anggaran ini jelas - jelas merugikan negara, karna sumber Dana APBN adalah berasal dari rakyat. (drmto)

Share:

Yayasan Nihayaturroghibin Peringati Hari Santri

Target Hukum Online. Pati - 25 Oktober 2016 yayasan islamiyah Nihayaturroghibin Desa sundoluhur kecamatan kayen kabupaten Pati yang terdiri dari siswa-siswi baik dari MI (madarasah Ibtidaiyah) maupun siswa-siswi Mts (madarasah tsanawiyah) antusias mengikuti perayaan Hari santri Nasional yang akan di selenggarakan di alun - alun kecamatan kayen yang dihadiri Bapak Bupati Haryanto SH. MM. MSi. beserta jajaran muspika kecamatan kayen.



Acara yang di mulai dari halaman yayasan Nihayaturroghibin tepat jam 13:00WiB  itu sangat meriah sekali apalagi di iringi dengan arak arakan beberapa kereta wisata dan mobil bak terbuka, bapak ibu guru dan maysarakat juga ikut  mendampingi acara tersebut, hari santri adalah bentuk penghormatan  pemerintah untuk mengenang para ulama dan para santri yang ikut berjuang demi keutuhan NKRI, tanpa santri dan Ulama NKRI tidak akan terbentuk dan berdiri Republik Indonesia hingga saat ini.



Apalagi santri adalah generasi penerus para ulama sehingga tiap tanggal 22 oktober disahkan sebagai hari santri nasional.

Semoga apa yang telah dilakukan para santri, masyarakat dan siswa siswi maupun segenap guru - guru mts Nihayaturroghibin dan warga desa sundoluhur kecamatan kayen menjadi cermin untuk kedepannya bisa lebih baik lagi, semangat kebangsaan yang menjadi ciri kehidupan masyarakat pesantren di kabupaten Pati. Nilai nilai luhur inilah yang menjadi kartu sakti sebagai implemintasi hari jadi Santri yang diperingati seluruh masyarakat Indonesia. (drmto)
Share:

Minggu, 23 Oktober 2016

Juana Bersholawat Bersama Habib Luthfi

Target Hukum Online. Pati - Bertepatan dengan hari santri yang jatuh pada 22 Oktober, bertempat di proliman Juwana diadakan Juwana bersholawat & dzikir akbar.  Penyelenggara acara ini adalah Kanzus Sholawat Sapu Jagad Juwana, hadir dalam acara ini Ulama Kharismatik, Maulana Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan. Ribuan jamaah dari berbagai kota sekitar turut hadir dalam acara ini.

Dalam ceramahnya, Habib Lutfi mengatakan bahwa kunci dari Negara Indonesia ini adalah TNI, POLRI dan Ulama yang harus saling berkomunikasi, saling bertemu dari hati kehati niscaya Indonesia akan menjadi negara yang utuh dan besa. Andaikan tidak bersatu, niscaya akan hancur negara ini. Oknum yang tidak menginginkan Negara Indonesia makmur akan senang melihat ini dan bertepuk tangan.

“Relakah NKRI ini hancur? ” Tanya Habib Luthfi pada jamah.

Dengan lantang para peserta sholawat mengatakan TIDAK!!!

Beliau juga mengajak untuk mencintai hasil dari bumi kita sendiri, karena negara kita adalah kaya akan hal itu.

“Sebentar lagi akan ada peringatan Hari Pahlawan. Wong Juwono, Wong Pati, mari kita Berziarah di makam para pahlawan kita, ora usah adoh adohnek Pati karo Rembang, eling sejarah, ajak anak kita supaya dia mengerti akan Jasa para pahlawan” Ujar Habib Lutfi berpesan.

“Wong islam ora usah ribut, contone wae di jakarta, nek ora seneng yo ojo dipilih, ojo gembar gembor, ojo menimbulkan SARA, yen salah, ben pengadilan seng ngurusi, ngko nek negoro hancur ono seng seneng, yo iku oknum oknum do keplok keplok. Mari kita pupuk semangat Kebangsaan kita dalam bernegara ini!” Pungkas Habib Luthfi.

Semoga kedepannya Nusantara meraih kejayaan yang gilang gemilang mengingat sejarah dan masa keemasan di Indonesia sebagai dinamika kehidupan berbangsa dan benegara, sebagaimana generasi yang akan datang kita siapkan sedini mungkin dalam menghadapi era globalisasi dan tekhnologi.

Share:

Persiapan Para Santri Melawan Belanda

Ketika Penjajah Jepang (Nippon) menggulirkan program latihan militer untuk para santri, KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari tidak serta merta menolak. Mereka justru bersifat kompromi meskipun ditentang oleh beberapa santrinya. Sikap kompromi Mbah Hasyim saat murni untuk tujuan lebih lebih besar. Di sinilah visi luar biasa Mbah Hasyim akhirnya dapat disadari oleh para santri yang dulu tidak sependapat dengannya.


Beberapa sikap Mbah Hasyim Asy’ari yang kompromis terhadap penjajah Jepang yaitu program penggandaan hasil panen dan latihan militer santri oleh Jepang.Masyarakat akhirnya menyadari bahwa hasil panen yang tadinya memang untuk kepentingan Jepang berperan penting dalam memakmurkan negeri sehingga kerja keras membangun negeri lewat pertanian harus terus dilakukan.
Sedangkan latihan militer santri oleh tentara Jepang sangat menguntungkan kaum santri sebagai bekal menghadapi tentara Sekutu dan NICA yang hendak kembali menguasai Indonesia. Apabila di zaman Jepang, aktivitas NU terfokus pada perjuangan membela kemerdekaan agama dan bangsa, maka di masa revolusi (1945-1949) lebih diperhebat lagi.
Nahdlatul Ulama (NU) sadar betul bahwa perjuangan masih dalam proses. Meskipun kemerdekaan sudah diraih, namun pertahanan dan keamanan harus terus dijaga.Terbukti ketika Jepang menyerah di tangan Sekutu.
NICA (Belanda) melancarkan agresi keduanya dengan membonceng tentara sekutu. Sebetulnya ketika NICA (Netherlands East Indies Civil Administration) dibentuk di Australia pada tahun 1944, Laskar Santri telah menyadari potensi ke depannya sehingga perlu terus menjaga keamanan negara dengan menyusun program pertempuran.Program pertempuran tersebut memang disusun setelah Mbah Hasyim mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini secara simultan mejadi mesin penggerak bangsa Indonesia dan santri di seluruh Indonesia untuk melawan pasukan sekutu dan NICA yang ingin kembali  menjajah Indonesia. KH Zainul Arifin sebagai Panglima Tertinggi Hizbullah bersama Laskar Sabilillah megerahkan pasukannya dan siap berjuang jiwa dan raga untuk mempertahankan Indonesia.
Singkat cerita, Fatwa Resolusi Jihad Mbah Hasyim mengusir pasukan sekutu dan NICA lewat perjuangan hidup dan mati laskar santri dan bangsa Indonesia. Belajar dari itulah Markas Tertinggi Hizbullah dan Sabilillah menyusun program pertempuan satu tahun (Desember 1945-Desember 1946). Program itu terdiri dari empat pokok sasaran yang harus segera dilaksanakan oleh setiap markas daerah dan kabupaten, keempat pokok itu :
1. Memperkuat tentara Islam.
2. Menghimpun dana untuk keperluanjihad fi sabilillah.
3. Pemusatan tenaga alim ulama     dan kiai sakti.
4. Pembentukan Dewan Pimpinan.
Pertempuran terdiri dari wakil-wakil markas: Sabilillah, Hizbullah, Ulama, TRI, Partai Masyumi, dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia.
Share:

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari Santri Indonesia

Target Hukum Online. Pati - Memperingati hari santri di seluruh Indonesia para santri-santri khususnya kabupaten Pati yang merupakan pusatnya pondok pesantren di daerah pantura pesisir jawa, sore hari tgl 22/10/16 dialun alun pati Bupati Haryanto SH. MM. MSi. beserta seluruh jajaran terkait dan elemen masyarakat santri kota pati mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang para santri yang turut serta berjuang merebut kemerdekaan Republik Indonesia, ribuan bahkan jutaan santri-santri ini tak pernah surut bertempur melawan penjajah Belanda gugur sebagai kusuma bangsa. Adapun kata Santri mempunyai makna terdiri dari lima huruf hijaiyah yaitu : SIN, NUN, TA', RO' dan YA'


- Sin adalah kependekan dari kalimat "satirun ‘anil ‘uyuub" artinya menutupi kekurangan atau aib serapat mungkin. Santri harus bisa menjaga moralitas karena mereka adalah generasi yang sangat diharapkan untuk menjadi tolak ukur moral di masyarakat.

- Nun adalah "naaibul ‘anisy syaikh" artinya pengganti dari guru dan orang tua. Ulama adalah pewaris dari para nabi, kemudian santri adalah pewaris dari para ulama. Sehingga keberadaan santri ini sangat diharapkan bisa menjadi panutan untuk meneruskan dakwah dan tarbiyah karena mereka sudah diberi kemampuan lebih dalam bidang agama.

- Ta’ adalah "taa’ibun ‘anidzunub" artinya senantiasa memperbaharui taubat kepada Allah dan menghindari berbuat dosa kecil maupun besar. Manusia memang tidak ada yang suci dari dosa dan kesalahan karena sifatnya yang pelupa. Namun, Allah dengan kasih sayang-Nya masih memberi kesempatan untuk membersihkan dosa dan kesalahan dengan pintu taubat yang selalu terbuka sampai nyawa tercabut.

- Ro’ adalah "rooghibun fil mandhub" artinya sepi dari mengharap imbalan tapi giat untuk bekerja. Mereka berbuat bukan untuk mendapatkan imbalan yang banyak sebagaimana orang bekerja mencari penghasilan. Namun mereka berbuat karena ingin memberi yang terbaik bagi orang lain dan masyarakat luas. Mentalitasnya bukan seperti robot yang selalu harus diremot baru bergerak. 

Keterpanggilan iman yang mendorong dirinya terus berbuat untuk Islam. Mereka sangat yakin bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain, hakekatnya adalah kebaikan untuk dirinya kelak di hari kiamat.

- Ya’ adalah "yughni ‘anrizqillah" artinya merasa cukup dengan rizki yang diberikan oleh Allah. Kesederhanaan adalah menjadi gaya hidupya. Manusia stress dan menjadi gila karena mengejar keinginan-keinginan yang diluar kemampuannya, tidak terima dengan kepuasan pemberian dari Allah. Sebagian manusia menjadi budak dunia dengan mengejar dan terus berlari siang malam untuk mencari dunia. Padahal, tidak pernah akan ada kepuasan dengan dunia kecuali kenikmatan akherat yang Allah janjikan.

Semoga hari santri ini dapat menjadi refleksi diri bahwa perjuangan (santri) bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan tak pernah padam semangat untuk diteruskan generasi yang akan datang" ulas bapak Bupati Haryanto".
Share:

Kamis, 20 Oktober 2016

Fatwa Mbah Maimun Zubair Sarang Rembang

Target Hukum Online. Pati - Kontroversi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok tentang Surat al-Maidah ayat 51, membuat Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang KH. Maimoen Zubair angkat bicara. Mbah Maimoen meminta seluruh umat Muslim untuk tenang dan meredam amarah. Apalagi menurut ulama kharismatik tersebut, Ahok sudah meminta maaf secara terbuka di hadapan publik. Pihaknya pun meminta agar umat Islam tak lagi terpecah belah dan membesar-besarkan masalah ini. “Dia (Ahok) itu kan sudah meminta maaf, maka jangan dibesar-besarkan. Sehingga bila amarah dapat diredam maka persatuan juga bisa dijaga,” katanya.

Menurut beliau, terkait polemik Surat al-Maidah tersebut, bahwa itu diserahkan ke pribadi masing-masing pemilih. Menurut beliau, jika umat Islam di Jakarta tak ingin memilih Ahok karena alasan agama, tidak perlu dibesar-besarkan sehingga memicu isu SARA. “Kalau menurut saya, bila mereka (Islam) tidak suka memilih ya tidak usah dipilih saja. Namun permasalahan itu jangan dibesar-besarkan,” ujarnya.

Menurut beliau, Ahok merupakan warga keturunan Tionghoa dari Bangka Belitung. Di daerah itu juga banyak warga Tionghoa yang memeluk agama Islam. “Dia itu orang China Bangka Belitung, di sana (Bangka Belitung) juga ada orang Islam China,” ujarnya.

Di Jawa Tengah menurut dia, juga ada masjid yang bercorak Bangka Belitung. Satu-satunya masjid tersebut berada di wilayah Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang. “Di Sarang masjid saya itu satu-satunya masjid yang berkhaskan Belitung. Oleh sebab itu, perbedaan itu jangan dibesar-besarkan sehingga kita bisa hidup rukun yang penting kita umat Islam itu hablun minallah harus dikuatkan, dan hablun minannas harus selalu dijaga dengan baik,” harapnya".

Share:

Blog Archive