Jumat, 30 Desember 2016

Harlah Yayasan Nihayaturroghibin Sundoluhur Kayen Pati

Target Hukum Online. Pati - Pada hari Jumat tgl (30/12) di halaman yayasan Nihayaturroghibin mengadakan Harlah atau ulang tahun Yayasan Islam Nihayaturroghibin yang ke 50 itu sangat meriah sekali, apalagi acara yang di iringi dengan  arak arakan dua Marching Band dari MA Mathaliul Falah Kajen Margoyoso Pati dan yang satu lagi Dari MA Walisongo Kayen.

Sebagai bentuk wujud syukur yayasan yg di dirikan pada tahun 1966 oleh sejumlah kyai di Sundoluhur itu sangat berkembang pesat, sehingga melahirkan alumni alumni yang sukses di bidang pendidikan di bidang bisnis maupun dibidang lainnya.

Dari rasa memiliki dan mencintai dari seluruh warga dan masyarakat maupun seluruh anggota yayasan pendidikan yang selama ini berjuang bersama-sama dalam membangun bidang pendidikan selama ini, dalam kegiatan hari ini diadakan pawai yang di mulai dari halaman Masjid Rohmatulloh komplek Yayasan Nihaturroghibin itu selanjutnya mengelilingi Dukuh Duan hingga kembali lagi ke halaman Masjid Rohmatulloh.

Antusias dari masyarakat sekitarnya yang sudah menunggu dari pagi acara ini berbondong-bondong menyambut anak-anak drum band dengan segala atraksi-atraksinya, sehingga pesta rakyat dari seluruh warga desa Sundoluhur Kecamatan kayen ini begitu meriah sekali. 

Adapun acara ini bisa terlaksana dengan sukses berkat partisipasi seluruh murid-murid, guru-guru yang mengajar selama ini, bapak kepala Sekolah,  pemilik Yayasan dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam acara Harlah ulang tahun Yayasan Nihayaturroghibin tersebut. (drmto)

Share:

Kamis, 29 Desember 2016

Ibu Karmi Seorang Gelandangan Yang Meninggal Diruko Juana Pati

Target Hukum Online. Pati - Prosesi pemakaman ibu Karmi pada hari Jumat tgl (30/12) seorang ibu berusia 75 thn bernama Karmi berasal dari desa Banaran rt03 / rw 01 Kecamatan Babad Kabupaten Lamongan Jawa Timur.


Di temukan meninggal dunia
di halaman ruko plaza Desa Doropayung Juwana. Karmi seorang gelandangan yang bersama anak angkat laki- lakinya bernama Sanan 46 thn berprofesi pengamen di sekitar ruko plaza Juwana.

Sanan anak angkat Karmi yang berprofesi sehari - hari Mengamen di toko- toko untuk memenuhi kebutuhan makan minum setiap hari bersama ibu angkatnya, Karmi yang setiap hari di gendong kemana - mana sama anak angkatnya  karena susah jalan, kini Karmi sudah meninggal dunia.

Sebelum meninggal dunia Karmi seorang gelandangan itu sudah sakit berhari-hari, dan Karmi pada saat kejadian sedang tiduran di depan toko sandal dan sepatu STARS di plaza ruko juwana tepatnya di belakang pos lantas Kepolisian Juwana.

Keterangan saksi Sanan anak angkatnya itu baru saja memberi
makan kepada Karmi, setelah ditinggal sebentar ternyata pada saat Sanan kembali Karmi sudah tidak bernyawa, kemudian anggota Polsek Juwana menghubungi puskesmas Juwana dan berkoordinasi dengan Bapak Sugeng selaku Kades Doropayung untuk tempat pemakaman dan dilaksanakan di desa Doropayung, dan dari pihak Masyarakat dan Perangkat Desa Doropayung bersedia untuk membantu sepenuhnya sehingga bisa dimakamkan secepatnya.

Sugeng selaku Kades Doropayung bersama perangkat desa, dan di bantu masyarakat Desa Doropayung berbondong - bondong untuk membantu memakamkan Karmi seorang gelandangan yang meninggal di depan ruko plaza Desa Doropayung. Untuk membantu dan meringankan beban anak angkatnya yang di tinggal.

Juga kepedulian dari anggota  Babinsa Desa Doropayung Koramil 02 Juwana,  Kopda Husen Ohorella yang sangat peduli dengan Masyarakat Desa Doropayung dan ikut membantu prosesi pemakaman dan ikut serta memikul jenazah Karmi seorang gelandangan yang meninggal dunia di ruko plaza Desa Doropayung juwana.

Menurut keterangan dokter puskesmas Juwana dr. Hardi widijono pada korban tidak diketemukan tanda tanda penganiayaan.

Tindakan dari kepolisian setempat terutama Polsek Kecamatan Juana mendatangi tkp, mencatat identitas korban yang meninggal dunia, dan mencatat saksi -saksi, dan berupaya menyerahkan korban kepada keluarga untuk dimakamkan,
Prosesi pemakaman yang di lakukan di desa doropayung berjalan dengan lancar. (J©j©)

Share:

Kisah Tragis Komodor Udara Dewanto

Target Hukum Online. Pati - Namanya jadi legenda setelah menembak jatuh pesawat B-26 Invader yang dipiloti pilot bayaran CIA di langit Ambon .

Dewanto terbang rendah, saat pandangannya tertuju ke konvoi kapal ALRI, sekelebat dilihatnya pesawat musuh B-26 Invader AUREV. Pesawat tersebut ternyata tengah melaju untuk menyerang ke arah konvoi kapal ALRI tersebut. Dewanto terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26 tersebut.

Walau sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan dia, Kapten Dewanto segera menembak dengan roketnya, tapi meleset yang kemudian disusul dengan tembakan 12,7 mm, karena tembakan rentetan dan jaraknya sudah lebih dekat kemungkinan kena lebih besar. Alhasil, B-26 yang diterbangkan seorang serdadu bayaran bernama Allen Lawrence Pope beserta juru radio Hary Rantung (bekas AURI), terbakar dan tercebur ke laut. Posisi jatuhnya pesawat B-26 tersebut pada koordinat 03.40 LS dan 127.51 BT.

Dewanto yakin peluru 12,7 mm nya mengenai sasaran, hal ini dikuatkan dengan adanya asap yang mengepul keluar dari badan pesawat. Sementara dua awak pesawat B-26 kelihatan meloncat menggunakan parasut. Sewaktu berusaha mendarat payung Allen Pope menyangkut di pohon kelapa di Pulau Tiga, ketika hendak turun dari pohon kelapa ia terhempas ke batu karang sehingga kakinya patah dan badannya luka-luka.

Dialah Komodor Udara Ignatius Dewanto, salah satu pilot terbaik Angkatan Udara. Sebagai sosok yang dikenal pemberani, Dewanto ahli menerbangkan pesawat pemburu P-51 Mustang.

Dia juga yang berjasa mencegah pertempuran antara TNI AU dan RPKAD yang akan memasuki Lanud Halim Perdanakusuma.

Sayang, perubahan politik di era 1965 mengubah jalan hidupnya. Tanpa alasan jelas, kubu Soeharto memaksanya mundur dari jabatannya sebagai perwira tinggi TNI AU.

Deputi Operasi Menpangau. Dewanto ikut dibersihkan lebih karena posisinya. Sebagai Deops Menpangau, dialah pengendali lapangan TNI AU ketika terjadi Gestok. Reaksinya dianggap melindungi pro Untung yang berkumpul di Halim. Setelah ditahan dan dicopot dari dinas militer, Dewanto sempat terlunta-lunta menjadi sopir truk dan terakhir pilot partikelir. Ia tewas saat terbang dengan pesawat sipil di Sumatera. Di lingkungan TNI AU, nama Dewanto harum karena dialah penembak pesawat Alan Pope yang memicu berakhirnya pemberontakan Permesta.

Selepas dari TNI AU, untuk bertahan hidup Dewanto menjadi sopir truk. Sungguh ironis, seorang penerbang terbaik dan Marsekal TNI AU harus menjadi sopir truk.

Pada tahun 1970, Dewanto diterima bekerja sebagai pilot pesawat sipil. Dia menerbangkan Piper PA-23 Aztec milik SMAC dari Medan ke Aceh. Karena kerusakan mesin, pesawat tersebut jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya termasuk Dewanto. ($@$)

Share:

PWWI Pati Gelar Diskusi Interaktif

Target Hukum Online. Pati - Bertempat di Pendopo kabupaten Pati PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) Kabupaten Pati menyelenggarakan Gelar Diskusi Interaktif Pelepasan Beban Rakyat Oleh UN Swissindo, Benarkah di Pendopo Kabupaten Pati.  Acara yang dikemas dalam bentuk talk show itu mendapat sambutan warga dari penjuru kota. Puluhan peserta sengaja datang dari Pati dan luar kota untuk memberikan keyakinan terhadap program penghapusan utang warga oleh UN Swissindo.

Acara yang berlangsung hingga siang tersebut dihadiri dari perwakilan UN Swissindo dari Jakarta, Perwakilan Jateng,  sejumlah relawan dan warga yang hadir dari berbagai kota di Jawa.
UN Swissindo hadir di Indonesia dan diberlakukan dalam operasionalnya sejak 4 Februari 2016, disebut-sebut sebagai lembaga pembebasan hutang pada warga, dimana UN Swissindo adalah dokumen induk negara.

Pasalnya dokumen yang masuk membuat mereka berpikir positif terhadap keberadaan UN Swissindo dengan pembebasan beban utang untuk TNI/Polri, PNS serta masyarakat yang besar maksimal mencapai Rp. 2 miliar.
Warga masyarakat juga merespon positif  hadir dan datangnya UN Swissindo bak dewa penolong rakyat yang tertekan hutang piutang dari bank ataupun leasing, dan baru kali ini ada lembaga pembebasan hutang bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tentunya warga seperti kami menyambut positif dan bersyukur akan datangnya ratu adil yang berpihak kepada rakyat kecil.
Ketua PPWI Pati Ismanto mengatakan jika pihaknya menyelenggarakan acara ini supaya warga, debitur bank bisa bertanya  pada perbankan dan UN Swissindo untuk mencari kejelasan apa hutang mereka bisa dulunaskan. Acara ini sudah dipersiapkan sejak lama dengan harapan beban hutang rakyat melalui UN Swissindo dapat terlunaskan. ($@$)

Share:

Kabupaten Pati Menerima Hibah Mesin Traktor Dari Bapermades Provinsi Jawa Tengah

Target hukum online. Pati - Kamis (29/12) Bertempat di balai desa Mulyaharjo kecamatan Pati kabupaten Pati telah berlangsung acara pelaksanaan serah terima bantuan alat/mesin pertanian dalam progam Bantuan Hibah Dana Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dari bapermades provinsi Jawa Tengah tahun 2016.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh bapak Joko mulyono perwkailan dari bapermades provinsi , dari 7 kelompok yang mendapatkan bantuan tersebut ada 7 desa yang berada di 5 kecamatan di kabupaten Pati yang di perioritaskan pada sentra produksi tanaman pangan dan peternakan diantaranya yaitu : Kelompok tani Trimulyo desa Mulyaharjo Kecamatan Pati dengan bantuan 1 unit trasher mesin perontok padi.

Kelompok tani Tirto Mukti II desa gajahmati Kecamatan Pati dengan bantuan 1 unit Hand Tractor, Kelompok tani Tani Mulyo desa Pegandan kecamatan Margorejo dengan bantuan 1 unit Hand Tractor dan Mesin pompa air, Kelompok tani Serba Usaha desa Ketanggan kec gembong dengan bantuan 3 unit mesin pencacah rumput, Kelompok tani Bangun Karyo desa Bumiayu kec Wedarijaksa dengan bantuan 1 unit Hand Traktor, Kelompok tani Sumber makmur desa Ngetuk kec Gunungwungkal dengan bantuan 1 unit Hand Traktor, Kelompok tani Wana lestari desa Sidomulyo kecamatan Gunung Wungkal dengan bantuan 1 unit Hand Traktor.

Acara tersebut selain di hadiri dari bapermades dari provinsi, bapak Darmadi, bapak Joko mulyono, ibu Endang Sulistyowati turut hadir pula dari bapermades pati sebagai tuan rumah diantaranya bapak Muhtar dan bapak Kris.

Dalam sambutanya Muhtar sebagai ketua Bapermades pati berharap kepada 7 Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) agar bantuan mesin dapat di gunakan sebaik baiknya dan di pertanggung jawabkan sesuai kondisi desa masing masing,supaya kelak penggunan mesin Hand tractor, mesin pencacah rumput dapat mendukung ketetapan waktu pengelolaan hasil panen lebih baik, dan perkembangan ternak menjadi berkembang tandasnya". ($@b@®!)

Share:

Rabu, 28 Desember 2016

Seminar Dan Sosialiasi KPAI di Desa Semirejo Gembong Pati

Target Hukum Online. Pati - Dalam rangka seminar dan sosialiasi tentang perlindungan anak, ketua KPAI Komnas Perlindungan Anak Indonesia Bapak Aris Merdeka Sirait hadir dalam memberikan dukungannya kepada masyarakat kabupaten Pati yang selama ini masih banyak kasus kasus pelecehan seksual yang menimpa pada anak dibawah umur, bertempat di desa Semirejo Kecamatan Gembong kabupaten Pati pada Hari Rabu tgl (28/12) tepatnya dilapangan desa Semirejo acara yang berlangsung dan dihadiri oleh masyarakat desa Semirejo dan sekitarnya.

Dihadiri oleh Bapak Plt Bupati Pati H. Budiono SH. beserta Bapak Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo SIK, Pak Dwi Toto, Bapak Kades Triyono, dan seorang wartawan tabloid purnawirawan menerima penghargaan perlindungan anak dan perempuan dari Ketua KPAI Aries Merdeka Sirait (Komnas Perlindungan Anak).

Selain itu juga dilakukan deklarasi Anti Narkoba, sebagai orang tua, mari kita senantiasa memberikan waktu yang berkualitas untuk putra putri kita. Komunikasi antar anggota keluarga harus tetap hangat dan membuat anggota keluarga menjadi nyaman.

Karena benteng terkuat dari serangan narkoba adalah keharmonisan rumah tangga. Perlakuan terbaik untuk anak anak dan perempuan adalah termasuk wujud syukur kita terhadap rizki yang Allah SWT berikan kepada kita.

Acara berlangsung sangat meriah dan antusias sekali dan masyarakat desa Semirejo yang berbondong-bondong dengan anak-anaknya turut serta memeriahkan acara tersebut, dan diakhir acara orkes dangdut Asyifa dari desa Koryokalangan Gabus menghibur seluruh warga dan masyarakat yang hadir diacara tersebut. Semoga kedepannya KPAI dapat mengawal dan memberantasi oknum-oknum pelaku jatrimsus yang selama ini masih bebas melenggang. (Mul¥©π©)

Share:

Kisah Sedih di Balik Patung Pancoran

Target Hukum Online. Pati - Begitu bangganya Bung Karno kepada putra putra Dirgantara Indonesia, satu saat Dhi, saya mau membuat Patung Dirgantara untuk memperingati dan menghormati para pahlawan penerbang Indonesia. Kau tahu kalau Bangsa Amerika, Bangsa Soviet, bisa bangga pada industri pesawatnya. Tetapi Indonesia, apa yang bisa kita banggakan. Keberaniannya!!!”

Demikian percakapan Bung Karno dengan Edhi Sunarso di teras belakang Istana Negara, Jakarta, 1964 yang menyiratkan betapa bangganya Presiden pertama Indonesia itu dengan heroisme para penerbang Indonesia. Ironisnya, tidak semua orang mengenal penggagas dan pembuatnya, apalagi memahami gagasan dan permasalahannya.

Suatu hari dirumah beliau Bapak Edhi Sunarso (82), pematung legendaris kepercayaan Presiden Sukarno di kediamannya di Jl. Kaliurang Km 5,5 No. 72 Yogyakarta.

Dalam kesempatan peresmian “Tugu Muda” Semarang tahun 1953 yang dikerjakan oleh Sanggar Pelukis Rakyat pimpinan Hendra Gunawan, Edhi Sunarso bertemu dengan Bung Karno.

Kala itu Bung Karno menghampiri Edhi dan berkata, “Selamat ya, sukses.” Edhi terdiam bingung mendapat ucapan tersebut. Beberapa hari kemudian ia baru tahu kalau dirinya menjadi juara kedua lomba seni patung internasional yang diselengarakan di London dengan judul “Unknown Political Prisoner”.

Usai menyelesaikan pembuatan relief Museum Perjuangan di daerah Bintaran Yogyakarta tahun 1959, Edhi dipanggil Bung Karno untuk menemuinya di Jakarta. Panggilan tersebut sempat membuatnya terkejut. Dalam hati, Edhi bertanya-tanya ada kepentingan apa Bung Karno memanggilnya ke Jakarta. Selain dia, dua seniman lainnya, yaitu Henk Ngatung dan Trubus juga mendapat panggilan serupa.

Ketiga pematung andalan Indonesia ini kemudian melahirkan patung Selamat Datang yang hingga kini bisa kita nikmati di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Dari sekian banyak proyek pembuatan monumen dari Bung Karno, Edhie mengakui kalau pembuatan Patung Dirgantara nyaris mandek. Patung Dirgantara dimaksudkan Bung Karno untuk menghormati jasa para pahlawan penerbang Indonesia yang berhasil melakukan pengeboman terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga menggunakan pesawat-pesawat bekas peninggalan Jepang.

“Kita memang belum bisa membuat pesawat terbang, tetapi kita punya pahlawan kedirgantaraan Indonesia yang gagah berani. Kalau Amerika dan Soviet bisa membanggakan dirinya karena punya industri pesawat, kita juga harus punya kebanggaan. Jiwa patriotisme itulah kebanggaan kita!  Karena itu saya ingin membuat sebuah monumen manusia Indonesia yang tengah terbang dengan gagah berani, untuk menggambarkan keberanian bangsa Indonesia. Kalau dalam tokoh pewayangan seperti Gatotkaca yang tengah menjejakkan bumi,” ujar Edhie Sunarso mengenang perkataan Bung Karno panjang lebar.

Bung Karno meminta Edhie untuk memvisualisasikan sosok lelaki gagah perkasa yang siap terbang ke angkasa. Bahkan Bung Kano kemudian berpose sambil berkata, “Seperti ini lho, Dhi. Seperti Gatotkaca menjejak bentala.”

Setelah model Patung Dirgantara, atau patung Pancoran selesai, Edhie mengusulkan kepada Bung Karno agar patung yang rencananya berbentuk seorang manusia yang memegang pesawat di tangan kanannya diubah.

“Pak, dengan memegang pesawat di tangan kok terlihat seperti mainan,” ujar Edhie. “Bagaimana kalau di tangan kanannya tidak usah ada pesawat. Cukup dengan gerak tubuh manusia saja, didukung gerak selendang yang diterpa angin,” lanjut Edhie. “Yo wis Dhi, nek kowe anggep luwih apik yo ora usah dipasang. Ora usah digawe,” (Ya sudah Dhi, kalau kamu menganggap lebih baik ya tidak usah dipasang. Tidak usah dibuat) jawab Bung Karno.

Pembuatan monumen Patung Dirgantara sempat terhenti karena terjadi peristiwa G30S/PKI. Di sisi lain Edhie juga sudah tidak memunyai bahan-bahan, dan tidak memunyai uang lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Ia bahkan menanggung utang kepada pemiliki bahan perunggu dan kepada bank.

Patung Digantara sempat beberapa tahun terbengkalai di Studio Arca Yogyakarta dalam bentuk potongan-potongan yang siap dirangkai. “Patung sudah selesai dicor perungu dan tinggal dibawa untuk dirangkai di Jakarta,” ujarnya.

Februari 1970, di sela-sela pengerjaan diorama untuk Museum ABRI Satria Mandala, Edhie mendapat panggilan panitia pembangunan Monas untuk menghadap Bung Karno di Istana Bogor. Dalam pertemuan tersebut Edhie melihat Suryadarma dan Leo Wattimena, serta pelukis Dullah dan beberapa teman dekatnya. “Saudara Edhie, piye kabare?” kata Bung Karno. “Patung Dirgantara nang endi?”

“Sampun rampung, Pak, (Sudah selesai, pak)” jawab Edhi.

“Kok durung dipasang? tanya Bung Karno.

Nyuwun pangapunten, Pak. Kulo sampun mboten gadah arto, kepeksa sedaya pekerjaan kulo kendelaken, (Mohon maaf pak. Saya sudah tidak memiliki uang. Terpaksa semua pekerjaan saya tangguhkan). Saya disegel, karena masih punya utang.”

Bung Karno terenyuh. Tidak berapa lama ia memanggil Gafur dan Dullah yang duduk di belakang Bung Karno.

“Fur, mobilku dolen, sing Buick. Nek wis payu duite serahno Edhi ben cepet (Fur, mobilku jual saja, yang Buick. Kalau sudah laku, uangnya serahkan Edhie supaya cepat) dipasang patungnya,” ujar bung Karno.

Setelah itu Edhie pamit pulang ke Yogyakarta untuk mempersiapkan pengangkutan patung ke Jakarta. Sebelum pulang, seorang staf Bung Karno menyerahkan uang sebesar Rp1.750.000 kepada Edhi untuk biaya transportasi pengangkutan patung ke Jakarta.

Tak sampai meresmikan.

Satu minggu pekerjaan berjalan, Bung Karno melihat langsung pengerjaan merangkai patung. Setiap bagian yang diangkat rata-rata seberat 80-100 kg. Pemasangan dimulai dari bagian kaki sampai pinggang dan setiap sambungan dilas.

Ketika sampai pengelasan pada bagian pinggang, Edhie melihat ke bawah dan terlihat banyak orang berkerumun termasuk Bung Karno. Padahal, kondisi kesehatan Bung Karno saat itu sedang tidak baik dan ia sudah tinggal di Wisma Yaso. Edhie pun bergegas untuk turun, namun dilarang oleh Bung Karno.

Minggu pertama April 1970, pemasangan patung sudah sampai di bagian pundak dan tangan kanan sudah terpasang. Sedangkan tangan kiri dalam tahap penyambungan. Dalam kondisi yang kurang sehat, Bung Karno kembali meninjau proses pemasangan. Seperti yang pertama, Edhi segera bergegas untuk turun dari atas, tetapi lagi-lagi dilarang oleh Bung Karno. Bung Karno meminjam megaphone pasukan pengawal agar saya terus bekerja.

Mei 1970, Edhi mendengar kabar kalau Bung Karno akan melakukan inspeksi untuk ketiga kalinya. Akan tetapi hal itu ternyata tidak pernah terlaksana karena sakit Bung Karno semakin serius .

Pagi pukul 10.00 tanggal 21 Juni 1970, Edhi yang kala itu sedang berada di puncak Patung Dirgantara, melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di bawah monumen. Ternyata itu adalah iring-iringan mobil jenazah Bung Karno dari Wisma Yaso menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Jenazah Bung Karno akan dibawa ke Blitar.

Badan Edhie lemas. Ia bergegas turun dan bersama rekannya Gardono, bergegas menuju Blitar untuk mengikuti upacara pemakaman Bung Karno.

Semingu setelah pemakaman Bung Karno, Edhie bersama tim pekerja monumen kembali ke Jakarta untuk melakukan pengerjaan akhir sekitar satu bulan. Edhie meninggalkan monumen dalam kondisi yang belum diberi nama, belum diresmikan, dan masih memiliki utang.

Namun ia merasa ikhlas dengan apa yang telah ia kerjakan untuk seorang tokoh sebesar Bung Karno yang sangat ia kagumi. Tokoh yang sangat dekat dengan seniman dan menghargai seni.

“Saya rela demi rasa cintaku kepada bangsa dan negara dan cintaku kepada Bung Karno yang selalu mendorong dan membangkitkan keberanian saya untuk mewujudkan ide-ide dan mengerjakan karaya-karya monumental Bung Karno,” kata Edhi. ($@$)

Share:

Selasa, 27 Desember 2016

Muserbangdes Desa Sundoluhur Kayen Pati

Target Hukum Online. Pati - Ditempat balai Desa Sundoluhur  jam 08.00 WIB rapat di pimpin Bapak Sekdes Bapak Sutejo untuk 2017 Desa Sundoluhur mebdapatkan Dana Desa sekitar 804juta atau naik sekitar 20% dari DD thn 2016, untuk ADD kurang lebih 350juta. Adapun untuk ADD 60% di gunakan untuk siltaf, anggaran pembelian proyektor, operasional dan untuk pembangunan. Rapat juga di hadiri dari tim kecamatan dan beliau menghimbau agar proses pembangunanya lebih di utamakan mutu dan kualitas misalnya untuk jalan di haruskan betonisasi atau cor blok.

Untuk keterbukaan publik supaya sumber dana bantuan dari pemerintah maupun dari aspirasi harus di jelaskan kpda Rt, Rw, maupun Anggota BPD, dan himbauan dari sekda  untuk APBDES 2017 supaya di anggarkan 20jt untuk tambahan penerangan listrik desa
Adapun pos anggaran untuk tahun :

2017 sebagai berikut :
1. Perbaikan embung Desa.
2. Pengerukan kali jeratun
3. Talud rt 5 sampai rt 13di jalan linggkar desa arah SMP IT.
4. Siring makam rt22
5. Talud jalan sebelah bpk Nurhadi rt22.
6. Pengerasan rabat beton rt12 sampai rt22.
7. Pembuatan jalan tembus di depan rumah kades.
8. Pembuatan jln baru di rt 18.
9. Pengadaan mobil sampah.
10. Talut utara jembatan.
11. Peningkatan jalan makadam rt11 sampai12.
12. Jalan setapak sanping pak Sagiyo.
13. Aspal jalan rt17 depan pak wali.
14. Makadam rt05 sampai rt06
15. Makadam rt 01samping pak Harjo.
16. Rabat beton rt 02 -03 sampai 04.
17. talut rt21 utara makam tengahan
18. Rubuha (penangkaran burung hantu).

Demikian untuk anggaran pendapatan belanja Desa untuk th 2017 Desa sundoluhur kec kayen kab Pati, adapun untuk program prioritas dari anggaran tersebut yaitu :

1.perbaikan embung desa.
2.renivasi siring saluran air di seliruh desa.
3.mobil siaga satu unit mobil toyota avansa.
4.Rubuka ( penangkaran burung hantu).

Dan rapat yg berlangsung dari jam 08.00 WIB pagi sampai jam 11.00 WIB akhirnya di tutup dgn bacaan hamdalah oleh bpk kepala Desa Djamian, semoga untuk kedepanya agar Desa Sundoluhur  lebih maju dan berkembang agar tidak ketinggalan dengan desa-desa yang lainya. (drmto)

Share:

Minggu, 25 Desember 2016

Forum Rembuk FKPM Desa Ketanggi Kecamatan Rembang

Target Hukum Online. Rembang - Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat ranting desa Ketanggi Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang mengadakan Rakor pada hari Senin tgl (26/12) yang dihadiri 20 peserta.

Selain itu hadir juga Perwakilan dari muspika Camat diwakilkan kasi Pemerintahan bapak Temok Kuswoyo, forum kemitraan polisi dan masyarakat adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang sudah sejak dibina dimasing-masing desa dan kelurahan sebagai togak dan ujung tombak dalam memberikan pelayanan dalam membantu keamanan dan ketertiban masyarakat pada umumnya.

Desa Ketanggi adalah salah satu desa pelopor dalam membangun keharmonisan dan bersinergi dengan semua Muspika maupun aparatur daerah khususnya kepolisian saat ini. Sehingga tanggung jawab FKPM desa Ketanggi walaupun pada hari libur didesa tadi masih aktif mengadakan rapat dan koordinasi FKPM tersebut.
Kepala Desa bapak Ridik Ariyadi SH. sangat mengapresiasi kegiatan ini agar terus ditingkatkan dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun saat ini. 

Camat diwakilkan Kasi kesra bapak Temok Kuswoyo mengungkapkan bahwa keberadaan FKPM ini sangat membantu dalam proses pembelajaran dan pelayanan kepada pihak-pihak terkait selama ini, semua ini bisa menjadi tolok ukur kesuksesan suatu organisasi kemasyarakatan tersebut terutama FKPM yang bersumber dari komponen masyarakat kecil.

Perwakilan dari Polsek Rembang di wakilkan Waka Bimas Brigadir Kepala bapak Suhartono dan Koramil kota yang di wakili oleh  babinsa Sesan mayor bapak Roni S, juga memberikan panduan bahwa kegiatan ini bisa terlaksana karena terjalinnya komunikasi yang baik antara aparat Kepolisian dan FKPM desa Ketanggi Kecamatan Rembang selama ini. 

Sebagai unsur utama organisasi dibawah langsung oleh Kepolisian setempat diharapkan dapat memberikan informasi tentang adanya isu isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sekarang ini, tentang isu narkoba isu terorisme dan lainnya. (F@uzi)

Share:

Turnamen Bola Voli Antar Desa di Sundoluhur Kayen Pati

Target Hukum Online. Pati - Dalam rangka akhir tahun dan menyambut tahun baru, sudah sejak lama turnamen antar desa ini cukup antusias disambut para penggemar dan pecinta bola voli kedua desa, dilapangan bolla volly komplek makam mbah Surgi Kamandowo desa Sundoluhur Kecamatan kayen kabupaten Pati tepat pada hari Minggu tgl (25/12) pukul 4.30 WIB pertandingan persabatan antara tim bolla volly Asco Winong Kidul vs Putra Kamandowo sundoluhur.


Pertandingan berlangsung sangat meriah sekali walau dengan skor cukup mencolok namun perlawanan anak-anak Sundoluhur yang dikomandani oleh Mr. Darmanto menelan kekalahan di set pertama tuan rumah harus takluk dengan skor 25-10, adapun pertandingan ini bertujuan untuk mengasah permainan ke dua tim untuk mengadapi turnamen antar kampung yg akan di selenggarakan tahun depan.

Pemain yang tak asing yaitu saudara Nanang kunaifi, pemain tarkam yang tidak asing lagi di sekitar kecamatan Kayen, beliau sering di kontrak ketika ada turnamen tujuh belasan Cup di daerah Pucakwangi maupun antar kota maupun kabupaten.

Adapun susunan pemain dari tim bola volly Kamandowo sebagai berikut : 1.Nanang Kunaifi 2. Samiun Alin 3 Afif kholili 4.Helmy 5 Rahmad.6. Avien Choirul Umam.
Untuk set ke 2 juga di menangkan tim Asco Winong dengan skor 25-19, pada babak kedua ini pertandingan diperagakan oleh kedua tim, hingga para penonton kedua tim sangat heboh dan meriah dalam memberikan dukungannya, memang dari segi kualitas tim Asco Winong levelnya di atas Putra kamandowo sehingga susah untuk mengimbangi permainan dari tim Asco Winong kidul ini. 

Hingga peluit dari wasit dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan kedua tim, bahwa permainan harus dijunjung dengan jiwa sportif, kita boleh bertanding dengan keras dilapangan namun diluar pertandingan persahabatan antar pemain dan suporter terus dijaga dan dilestarikan jiwa jiwa sportif dan elegan. (drmto)

Share:

Sabtu, 24 Desember 2016

Bhakti Sosial KAAP Pati dan Kodim 0718 Pati

Target Hukum Online. Pati - Bagi para pecinta alam, pemerhati lingkungan, pegiat mangrove, maupun yang baru ingin belajar tentang alam, para organisasi / komunitas apapun, pelajar, mahasiswa dan lainnya yang memiliki ketertarikan dengan isu-isu lingkungan.


Bergerak langsung untuk sukseskan kegiatan tanam Mangrove bersama seluruh masyarakat dan warga pecinta Bumi Hijau di Pesisir Pantai Bulumanis Lor - Margoyoso pada Hari Minggu (25/12). Kumpul di depan kantor pos Margoyoso pukul 08.30 WIB.

Kegiatan tanam sekitar 6.500 bibit mangrove terdiri dari apesinia 5000 dan rizopora 1500 bibit yang akan ditanam di bibir pantai yang berjarak 3 km dari lokasi desa. Ratusan anggota Kumpulan Asli Anak Pati bersama sama untuk menghijaukan pantai Pati, bersama seluruh masyarakat bulumanis lor anggota Koramil 06 Margoyoso juga perwakilan dari Kodim 0718 Pati yang diwakili oleh Pasiter Infanteri Mujima, Kapolsek Margoyoso bapak AKP Sugino SH. supaya mereka tau bagaimana alam ini telah banyak berikan manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Support kegiatan KAAP Pati, KAAP Jabodetabek, Banser, Muc. Margoyoso, Oisca Margoyoso, KAAP Jakarta,  KODIM 0718 PATI, Pemdes. Bulumanis Lor, juga seluruh warga dan masyarakat yang hadir dan terlibat dalam kegiatan Bhakti Sosial Koramil 06 Margoyoso Pati. (F@uzi)

Share:

Deklarasi Kotak Kosong Gagal Maning"

Target Hukum Online. Pati - Pesta demokrasi untuk memilih kepala daerah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang bakal digelar pada 15 Februari 2017 mulai diwarnai kampanye kotak kosong, kamis (22/12). Kegiatan yang bersifat kampanye kotak kosong tersebut, terlihat saat kelompok masyarakat yang menamakan diri Aliansi Kawal Demokrasi Pilkada (AKDP) Pati hendak melakukan deklarasi pada hari Kamis sore di rumah mantan Kepala Desa (Kades) Tlogoayu bapak Naryo. Atribut bendera yang terpasang tampak ada tulisan "suara kotak suara rakyat dan jangan golput pilih kotak kosong". Selain itu, sejumlah massa yang hadir juga mengenakan kaus bertuliskan "coblos kotak".

Akan tetapi, deklarasi yang sedianya digelar pada pukul 14.00 WIB itu gagal dilaksanakan meskipun ditunggu hingga pukul 17.00 WIB. Panwas Kabupaten Pati menyarankan kepada mereka agar tidak melanjutkan kegiatan tersebut demi menjaga situasi tetap kondusif. Kami tidak melarang kegiatan masyarakat yang tergabung dalam AKDPP mengingat kegiatan kampanye sekalipun tidak ada aturan yang mengaturnya," kata anggota Panwas Kabupaten Pati Moh Rifa'i. Jika beralasan bahwa kegiatan tersebut hanya sosialisasi pilkada, dia mengatakan bahwa hal itu harus ada rekomendasi dari KPU Kabupaten Pati. Apabila dalam pelaksanaannya muncul ajakan untuk memilih nomor tertentu, kata dia, tentu akan dihentikan.

Menyinggung soal izin yang belum keluar, dia mengatakan bahwa hal itu ranahnya polisi untuk menindak. Berbeda jika ada izinnya, tentunya akan mengawal dengan sikap netral kami sebagai panwas," ujarnya. Sementara itu, Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo menegaskan bahwa pihaknya tidak membubarkan acara tersebut. Kehadiran kami hanya sebatas mengawal kegiatan tersebut agar berjalan dengan tertib dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan semua pihak," ujarnya.

Terkait dengan adanya pertunjukan ketoprak, dia mengatakan bahwa kegiatan memang sudah ada izinnya. Namun, jika disisipi kampanye atau sosialisasi, tentunya harus ada rekomendasi dari KPU setempat. Selain deklarasi, ADKPP juga mengagendakan sosialisasi pilkada secara komplet, yakni pilkada dengan satu pasangan calon di Pati memberikan dua pilihan bagi masyarakat.

AKDP sejauh ini merupakan kelompok masyarakat yang getol menyuarakan dukungan terhadap kotak kosong. Ketua AKDPP Sutiyo menganggap upaya dari Panwas Kabupaten Pati dan aparat keamanan menghentikan kegiatannya merupakan bentuk penghambatan masyarakat untuk berdemokrasi. Padahal, kegiatan itu berupa sosialisasi pilkada dan pendidikan politik.

Sebenarnya kami menginginkan tidak ada pemberangusan berdemokrasi di tengah masyarakat. Akan tetapi, semua bisa melihat sendiri kondisinya seperti ini," katanya.Terkait dengan izin kegiatan, dia mengatakan bahwa pihaknya belum menerima dari pihak berwenang.

Namun, pihaknya sudah berupaya mengundang pihak-pihak terkait, seperti KPU, panwas, dan Kapolres Pati."Kami juga sudah meminta rekomendasi kepada KPU. Namun, dijawab oleh KPU Kabupaten Pati bahwa izin itu ranahnya kepolisian. Jadi, kami merasa seperti frustasi karena dipingpong soal izin," ujarnya.

Karena itulah, lanjut dia, kegiatan yang telah dipersiapkan dengan sumber dana iuran masyarakat batal dilaksanakan karena diminta dihentikan. Mengenai pertunjukkan ketoprak yang menjadi rangkaian kegiatan utama, dia mengatakan bahwa acara tersebut tetap akan berlangsung.

Ketua Deklarasi bapak Sunarto akan terus berjuang sesuai dengan aspirasi masyarakat, dan akan membuat momentum yang tepat untuk acara kedepannya sesuai dengan keinginan kebutuhan warga Pati, juga sesuai ijin yang berlaku baik dari KPU maupun dari Kepolisian setempat. (Muπ!p)

Share:

Ulang Tahun Partai Hanura ke 10 dan Pelantikan PAC Se- Kabupaten Pati

Target Hukum Online. Pati - Dirgahayu partai HANURA yang ke-10 yang diadakan acaranya di desa Ngemplak kidul kecamatan Margoyoso kabupaten Pati dipelataran halaman gudang H. Sunarwi  anggota DPRD sekaligus sekretaris DPC partai hanura.

Sore ini sabtu (24/12)  yang dihadiri dari ketua DPD Partai Hanura Jateng H.M. Supito , ketua DPC Jateng dari Pati, Kudus, Rembang, Jepara, Semarang, Sragen , Karanganyar dan wonogiri, PAC se-kabupaten Pati dan semua ranting se-kecamatan Margoyoso.


Dari muspika kecamatan Margoyoso dari camat , kapolsek , dan Danramil Margoyoso, dan tidak lupa hadir Paslon bupati pati dan wakil bupati pati Haryanto - Saiful Arifin  yang memang sejak awal sudah mendukung dan memberikan rekomendasi pertama kali kepada Haryanto dan arifin.

Di Hut yg ke-10 ini partai Hanura tidak hanya  memperingati hari ultah nya sekaligus mengangkat dan melantik PAC partai Hanura se-kabupaten Pati yel -yel dan orasi  politik diutarakan Supito. Kepada para kader Hanura dari DPC, PAC, dan Ranting  untuk mendukung penuh kepada Haryanto dan Arifin  untuk menjadi Bupati pati dan wakil bupati pati periode 2017-2022, karena kinerja sudah terbukti  membawa pati yang lebih baik ujarnya.

Dan saya (supito) selaku ketua DPP Jawa Tengah mengatakan bahwa saat ini ketua partai dijabat oleh Osman sapto odan dan H. Wiranto sebagai dewan pembina dan penasehatnya, dan mohon semua kader partai Hanura di tahun 2019 untuk mendukung H. Sunarwi menjadi DPR RI dapil 3 untuk mewakili Jawa Tengah.

Dan di dalam orasinya Haryanto dan Saiful Arifin  mohon doa restu dan dukungannya kepada semua kader Hanura untuk menjadi Bupati pati dan wakil bupati pati.
Alhamdulilah acara hajatan dan ulang tahun Partai Hanura  berlangsung dengan cukup meriah aman dan kondusif. (J©j©)

Share:

Jumat, 23 Desember 2016

Serah Terima Jabatan Komandan Batalyon Roket-1 Marinir

Target Hukum Online. Surabaya -Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marini Ainur Rofiq memimpin serah terima jabatan Komandan Batalyon Roket-1 Marinir, dilapangan apel Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya. Jumat, (23/12/2016).

Jabatan Komandan Batalyon Roket-1 Marinir diserahterimakan dari pejabat lama Letkol Marinir Rio Sukanto kepada Letkol Marinir Dian Suriansyah, S.E., M.Tr.Hanla yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Sekolah Perwira Artileri Marinir Kodikmar, sedangkan Letkol Marinir Rio Sukanto akan menempati jabatan baru sebagai Paban Rengar Sops Pasmar-2 di Jakarta.

Dalam upacara serah terima jabatan
tersebut, juga digelar kendaraan tempur 4
pucuk Roket MLRS Vampire 122 mm, 4 pucuk Roket RM 70 Grad 122 mm, 1 unit kendaraan Aligator dan 2 unit kendaraan Jeep Kia sebagai latar belakang, sedangkan bertindak sebagai Komandan upacara Kapten Marinir Pandi Sutamto yang
sehari harinya menjabat Komandan Baterai Markas Batalyon Roket-1 Marinir, yang dirangkai dengan ramah tamah dan pemberian cidera
mata dari Danmenart-1 Marinir.

Komandan Resimen Artileri-1 Marinir dalam amanatnya mengatakan, pergantian jabatan di lingkungan TNI, khususnya Korps Marinir merupakan kegiatan wajar yang secara priodik harus dilakukan dalam rangka pembinaan personel agar terjadi suatu penyegaran dan dinamika organisasi serta memberikan kesempatan kepada perwira terpilih untuk mengembangkan kepemimpinannya.

Penempatan jabatan kepada perwira, lanjutnya,
merupakan suatu kepercayaan dari pimpinan, kehormatan, sekaligus merupakan kebanggan, oleh karena itu hendaknya dilaksanakan dengan
sungguh sungguh dan penuh rasa tanggung jawab dan dapat menyelenggarakan program
penyiapan dan peningkatan kemampuan personel dan material agar selalu siap melaksanakan tugas yang di emban.

Di akhir amanatnya, orang nomor satu di Menart-1 Mar itu mengucapkan terima kasih
kepada Letkol Rio Sukanto dan Ny. Rio Sukanto atas segala jeri payah, upaya dan kerja keras, dalam memimpin Batalyon Roket-1 Mar dan
Jalasenastri Batalyon Roket-1 Marinir, dengan harapan berbekal pengalaman dan loyalitas
yang ditunjukkan selama ini akan mampu menjalankan tugas dengan baik di tempat yang baru. Kepada Letkol Marinir Dian Suriansyah dan
Ny. Dian Suriansyah, Danmenart-1 Marinir mengucapkan selamat datang, dan mari kita mengukir prestasi baru demi Korps Marinir yang kita cintai dan kita banggakan ini dengan harapan dapat melakukan yang terbaik untuk Prajurit “Bajra Ghosa” Batalyon Roket-1 Marinir.

Selain itu, Danmenart juga berpesan kepada pejabat yang baru, bahwa kita ingat dan sadari
bahwa pangkat serta jabatan yang kita peroleh bukan hanya hasil dari prestasi saja, tetapi juga merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa,
yang kelak akan diminta pertanggung jawaban
oleh sang pencipta, semoga apa yang telah kita cita citakan senantiasa mendapatkan petunjuk,
bimbingan serta rahmat agar semua dapat berhasil dan sukses dalam melaksanakan tugas Negara.

Hadir dalam upacara sertijab, Wadanmenart-1 Marinir Letkol Marinir Kurniawan BCP, para
perwira staf, Dansatlak, Ketua Cabang 4 Korcab Pasmar-1 Ny. Ainur Rofiq, dan para tamu
undangan. (M@$®ui)

Share:

Danlanal Tegal Irup Pemakaman Peltu (Purn) Mashar Veteran KKO

Target Hukum Online. Pati -Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Tegal, Lantamal V Letkol Marinir SB. Manurung memimpin pelaksanaan upacara pemakaman secara militer anggota veteran ALRI atas nama Peltu (purn) Mashar yang juga anggota PPAL Lanal Tegal, Rabu lalu.

Almarhum Peltu (purn) Mashar Nrp.4180 adalah anggota Pepabri dari Angkatan Laut kelahiran Tegal, 5 juni 1926. Peltu (purn) Mashar adalah mantan KKO / ALRI kali Bakung Tegal yang tergabung di Pusdik Pelaut Pusdikal Surabaya. Bintang jasa yang di miliki antara lain Bintang Gerilya, Bintang Jalasena Kelas 3, Bintang Sewindu, Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun, Bintang Aksi Militer Ke-1, Bintang Aksi Militer Ke-2, Bintang Gom 1, Bintang Gom 2, Bintang Gom 4, Satya Lencana Sapta Marga dan Satya Lencana TRIKORA.
Komandan Upacara dipercayakan kepada Dansatma Lanal Tegal Lettu Laut (P) Joko Purwanto dan perwira upacara Lettu Laut (P) Tubagus Bastaman Dankal Maribaya.

Hadir dalam pemakaman anggota Pepabri kabupaten Tegal, keluarga almarhum. Pasukan upacara terdiri dari Kodim 0712 Tegal, Brigif 4 Dewa Ratna Tegal, Lanal Tegal, Satradar 214 TNI AU Tegal dan anggota Pepabri.

Dalam sambutannya Danlanal Tegal mengucapkan terima kasih kepada almarhum atas jasa-jasanya dan pengabdiannya kepada Angkatan Laut serta kepada bangsa dan negara yang telah banyak berjuang demi bangsa Indonesia, semoga amal dan kebaikannya di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

(Dispen Lantamal V)

Share:

Misteri Yonzipur 10 Amfibi Kostrad Hilang di Danau Ranu Grati

Target Hukum Online. Pati - Ranu Grati adalah danau kecil yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Dulu, danau ini pernah menggegerkan masyarakat Indonesia dengan tragedi tenggelamnya tank amfibi beserta seluruh awaknya. Peristiwa tragis itu hingga detik ini masih diliputi misteri. Konon, hilangnya tank disebabkan ulah penunggu danau yang dikenal dengan ular raksasa Baru Klinting.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 bulan Oktober tahun 1979. Beberapa kendaraan tank dari Batalyon Zipur 10 amfibi tampak berdatangan memasuki wilayah Grati melewati jalan-jalan kecil desa menuju danau. Terbetik kabar bahwa hari itu mereka akan mengadakan latihan rutin di Ranu Grati.

Bagi anak-anak desa di sekitar danau, acara latihan pasukan amfibi itu merupakan tontonan menarik yang tidak boleh dilewatkan. Bila anak-anak merasa gembira dengan kedatangan pasukan amfibi, tidak demikian halnya dengan para orang tua dan sesepuh desa, mereka merasa tegang dan resah. Mereka merasa khawatir akan terjadi sesuatu marabahaya. Hal ini disebabkan adanya Ranu Grati dijaga oleh ular sebesar Baru Klinting yang setiap saat bisa menelan siapa saja yang mengusik ketenangannya.

Para sesepuh desa merasa khawatir acara latihan pasukan amfibi di perairan Ranu Grati bakal mengusik ketenangan Baru Klinting. Itulah sebabnya mereka mencoba menghalang-halangi acara latihan itu. Beberapa orang sesepuh desa menyarankan agar sebelum turun keair diadakan acara ritual terlebih dahulu, yakni acara selamatan dengan memandikan para anggota pasukan amfibi turun ke danau dengan air bunga.
Ada pula yang menganjurkan agar latihan pasukan amfibi pagi itu ditunda. Hal ini disebabkan salah seorang yang dipercaya dapat berkomunikasi dengan makhluk halus penjaga danau mengatakan bahwa pagi itu Baru Klinting sedang mengadakan sebuah pesta dengan Ratu Pantai Selatan. Sampai saat ini banyak masyarakat yang masih percaya bahwa Ranu Grati berhubungan dengan pantai selatan Laut Jawa. Sayang sekali belum ada penelitian secara ilmiah yang dapat membuktikan kebenarannya.

Semua saran dan alasan yang tidak dapat diterima secara logika itu ditolak mentah-mentah oleh pasukan amfibi. Mereka lebih percaya dengan hasil survai yang telah dilakukan sebelum mereka turun ke lapangan, karena seperti biasa setiap kali sebelum latihan selalu diawali dengan rencana latihan atau rencana lapangan (Renlap). Sesuai dengan rencana, pagi itu mereka tetap mengadakan latihan dengan menurunkan tujuh buah tank amfibi ke perairan Ranu Grati.

Sebelum tank amfibi beserta awaknya turun ke air, sempat terjadi perdebatan antara orang sesepuh desa dengan anggota pasukan amfibi. Menurut Nur Hasyim (67), saksi mata yang menyaksikan jalannya perdebatan menuturkan.

“Pak, sebaiknya jangan latihan sekarang, “kata sesepuh desa yang bernama Sulihati. “Bila bapak-bapak akan latihan sebaiknya nanti siang saja,” lanjut sesepuh itu.

“Mengapa ?” jawab salah seorang anggota pasukan. Tampaknya ia merasa kurang senang ada orang lain yang ikut campur dalam tugasnya.

“Berbahaya Pak ! Jaka Baru bisa marah !” kenangnya cemas. Jaka Baru adalah nama asli dari Baru Klinting.

“Biarlah, saya ingin melihat kumisnya Jaka Baru,” tantang orang itu sambil bergurau dan tertawa-tawa. Teman-temannya yang mendengar percakapan itu ikut tertawa. Namun secara diam-diam beberapa orang di antara mereka tampak mulai khawatir dan resah.

Pak Sulihati merasa kecewa karena para anggota pasukan amfibi itu tidak mau mengikuti sarannya. “Sudahlah Pak Sul, para perwira yang gagah berani dari tempat itu. “Sudahlah Pak Sul, para perwira yang gagah berani itu mana mungkin percaya dengan cerita kita,” kata beberapa sesepuh desa lainnya.

Ngotot Latihan

Para anggota pasukan amfibi itu memang pernah mendengar cerita tentang legenda Baru Klinting yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai sang penunggu danau yang sesekali minta korban persembahan, namun demikian sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa itu hanyalah sekedar cerita atau dongeng yang tidak perlu dipercayai kebenarannya.

Mereka merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena telah mengadakan persiapan latihan secara matang. Lagipula apalah arti latihan di danau dibandingkan dengan latihan di laut seperti yang selama ini biasa mereka lakukan, pikir mereka. Latihan di laut tentu lebih banyak tantangannya dibandingkan dengan latihan di danau yang luas dan kedalamannya tidak seberapa.

Sebenarnya ada juga beberapa orang di antara anggota pasukan Amfibi yang sejak semula kurang setuju untuk mengadakan latihan di Ranu Grati. Mereka lebih suka latihan di daerah Laut Semedu Sari Nguling seperti yang selama ini biasa mereka lakukan. Disamping kekhawatiran akan adanya perbedaan antara air laut dan air tawar akan berpengaruh pada latihan mereka, keberadaan Ranu Grati yang dikenal sangat angker cukup membuat ciut hati mereka.

Nur Hasyim menambahkan, bahwasannya ada salah seorang anggota pasukan Batalyon Zipur 10 Amfibi, Serka Sayyadi yang saat itu ikut serta dalam latihan di Ranu Grati. Serka Sayyadi, menurut Nur Hasyim, merupakan salah seorang dari pelaku sejarah yang sampai saat ini masih hidup. Saat kejadian itu berlangsung beliau masih sangat muda dan berpangkat Prada.
Menurut cerita Serka Sayyadi, pada saat itu dia teman-temannya dari BTR 50 Amfibi akan mengadakan latihan rutin dibawah pimpinan Komandan T. Subiyoto dan Wadan Aminnudin Sobli.

Saat itu ada 7 kendaraan tank yang bergerak menuju Ranu Grati untuk mengadakan latihan. Setelah sampai di tepi danau Pak Sayyadi dan teman-temannya beristirahat sebentar.

Pagi itu ada dua kompi pasukan Amfibi yang hendak mengadakan latihan secara bergelombang. Gelombang pertama ada 6 tank. Tiap tank berisi 20 orang awak, seorang sopir, dan seorang pembantu sopir, jadi jumlah pasukan yang berada di dalam setiap tank sebanyak 22 orang. Seorang komandan tank berjaga di luar ( di atas tank) sebagai penunjuk arah, dengan demikian jumlah seluruh pasukan pada tiap tank 23 orang.

Tepat pukul 08.30 pagi, acara latihan dimulai. Anggota pasukan Amfibi memasuki kendaraan masing-masing. Pintu tank ditutup rapat, kemudian satu persatu kendaraan amfibi itu mulai turun ke air. Mereka bergerak dari arah barat menuju seberang di sebelah timur. Tank-tank anfibi itu berjalan beriringan di atas danau.

Setelah berjalan kurang lebih sejauh 50 meter, tiba-tiba salah satu tank amfibi berhenti karena mesinnya mati. Orang-orang yang melihat dari tepi danau diliputi perasaan cemas dan khawatir. Untunglah kendaraan terebut dapat segera ditarik ke darat dan seluruh penumpang berhasil diselamatkan.

Setelah sebuah tank ditarik ke darat, kini hanya tinggal 5 buah tank yang meneruskan perjalanan. Namun tanpa diduga, ketika jarak menuju ke daratan hanya kurang dari 100 meter, tiba-tiba salah satu tank berhenti. Saksi mata mengatakan setelah berhenti tank itu tampak menungging dan moncong meriamnya dengan cepat meluncur ke dalam air. Seluruh penumpang di dalam tank yang berjumlah 22 orang tenggelam, sedangkan komandan tank yang berada di atas kendaraan berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang.

Empat tank yang lain berhasil sampai ke seberang dengan selamat. Pak Sayyadi merupakan salah satu awak dari salah satu tank yang berhasil mencapai daratan dengan selamat. Saat masih di dalam tank, Pak Sayyadi tidak tahu-menahu tentang segala kejadian dan musibah yang menimpa teman-temannya. Setelah sampai di darat dan keluar dari tank, mereka diarahkan untuk berjalan ke tempat semula di sebelah barat. Pada saat itu Sayyadi merasa ada sesuatu hal yang agak aneh, ia melihat ada perahu karet yang berputar-putar di atas air, perahu karet itu memang dipersiapkan untuk mengantisipasi bila ada sesuatu hal yang terjadi di atas air.

Sejauh itu Pak Sayyadi dan teman-temannya masih belum mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi. Ia bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang telah terjadi. Seperti juga Pak Sayyadi, teman-temannya yang selamat juga merasa bingung dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan teman-temannya yang telah tenggelam ke dalam air.

Kejadian tenggelamnya tank amfibi itu benar-benar di luar dugaan sebab secara teori dalam keadaan mesin mati kendaraan amfibi seharusnya masih dapat mengapung di air laut selama 8 jam. Tak pernah ada yang dapat menjelaskan secara pasti mengapa pada saat itu tank tersebut tiba-tiba tenggelam ke dalam air. Cerita yang berkembang pun bermacam-macam, mulai dari yang bersifat rasional sampai irrasional.

Sebagian orang mengatakan tenggelamnya amfibi itu mungkin disebabkan berat jenis air laut dengan air tawar berbeda. Namun cerita yang paling banyak berkembang di tengah masyarakat dan dipercaya adalah Baru Klinting sang penunggu danau yang meminta korban. Banyak yang percaya bahwa pada saat itu Baru Klinting sedang mengadakan hajatan dan menjadi marah karena terganggunya acaranya.

Musibah tenggelamnya pasukan amfibi yang tak terduga itu membuat panik semua orang. Tak ada regu penolong khusus yang dipersipakan untuk menghadapi kejadian semacam itu. Di tengah kepanikan, komandan pasukan segera melaporkan kejadian itu kepada pihak-pihak terkait sekaligus memohon bantuan kepada pihak-pihak yang dirasa dapat memberikan pertolongan. Salah satu pihak diharapkan dapat memberikan bantuan adalah Kipam, anggota pasukan katak dari Surabaya yang telah terbiasa menghadapi medan berat semacam itu.

Hiruk-pikuk di sekitarnya tak mampu mengusik ketenangan air dari danau Grati. Dalam air yang tenang itu, menurut kesaksian Nur Hasyim ia melihat seakan ada sesuatu yang halus yang tidak bisa dipandang dengan mata biasa, ia memiliki kekuatan sangat dahsyat yang tidak akan mampu dilawan manusia. Di tengah kegalauan tiba-tiba ada suara meminta tolong, “Tolong siapa yang bernama Pak Sulihati ?” celetuk salah seorang pasukan amfibi didengar oleh banyak orang termasuk Nur Hasyim.

Tanpa banyak berkata-kata kemudian kemudian pak Sulihati mengajak anggota pasukan amfibi itu naik ke atas perahunya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil mendayung ke tengah, pak Sulihati sebenarnya mengerti dengan keadaan para pasukan amfibi.

“Lewat pinggir saja, Pak !” kata anggota pasukan amfibi itu, rasa takut tergambar di wajahnya. Rupanya tenggelamnya tank amfibi yang menenggelamkan beberapa orang temannya telah membuat ciut nyalinya. Sedikit banyak anggota pasukan amfibi itu mulai percaya ada sesuatu misteri di dalam sana. Satu hal yang pasti, sekuat dan segagah apapun manusia tak akan berdaya menghadapi kekuasaan-Nya.

“Di sini tempatnya !” kata Pak Sulihati sambil menunjuk ke air.

“Kalau begitu sebaiknya Bapak segera turun, mungkin Bapak dapat membantu membuka pintunya,” kata perwira itu.

“Saya tidak tahu letak pintu motor tank, “jawab Pak Sulihati seadanya.
Perwira itu mencoba menjelaskan letak pintu tank kepada Pak Sulihati. Namun demikian, Pak Sulihati tetap tidak mau turun ke air.

“Maaf Pak, untuk menyelam ke danau kita membutuhkan peralatan khusus untuk menyelam. Sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah memberi tanda pada tempat ini sambil menunggu bantuan datang,” kata Pak Sulihati.

Sudah hampir satu jam tank itu tenggelam ke dalam air. Tak ada yang tahu bagaimana nasib anggota pasukan amfibi yang berada di dalamnya. Para anggota pasukan amfibi lainnya yang masih berada si pinggir danau merasa semakin cemas. Tak ada lagi sesuatu hal yang dapat mereka lakukan untuk menolong teman-temannya kecuali menunggu bantuan datang. Mata mereka tak henti-hentinya memandang ke air, mereka terus berharap suatu saat mata itu akan menyaksikan temannya muncul ke permukaan.

22 prajurit Yonzipur 10 Tewas Dimakan Baru Klinting

Detik demi detik terus berlalu, tak seorangpun dari 22 orang penumpang tank yang tenggelam itu menampakkan diri. Padahal secara logika sebenarnya para penumpang itu masih dapat menyelamatkan diri. Saat menyadari tank itu tenggelam para penumpang seharusnya dapat segera membuka pintu kemudian berusaha berenang ke permukaan air. Entah apa yang menjadi penghambat hingga mereka tak dapat menyelamatkan diri. Apa yang terjadi di bawah sana tak pernah ada seorangpun yang tahu.

Berita tentang tenggelamnya tank amfibi itu segera menjadi berita hangat dan dengan cepat tersiar ke mana-mana. Banyak orang berdatangan ke Ranu Grati untuk menyaksikan kejadian itu. Selain masyarakat sekitar, orang-orang dari luar daerahpun tak ketinggalan datang ke tempat itu. Danau yang biasanya sepi itu, seketika berubah menjadi ramai. Para penjaja makanan pun tak ketinggalan ikut ambil bagian. Mereka ikut berdatangan ke Ranu Grati untuk menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang semakin lama semakin banyak.

Beberapa saat kemudian Pasukan Katak yang didatangkan dari Surabaya telah tiba. Mereka langsung menyelam ke dalam danau untuk melakukan upaya pencarian. Sebuah perahu motor berputar-putar mengelilingi danau sambil membawa magnet detektor yang diikat dengan tali dan dimasukkan ke dalam air. Akhirnya upaya pencarian itu membuahkan hasil. Magnet itu menyentuh sesuatu yang dirasakan agak berat. Harapan yang mulai pupus kini timbul kembali. Mereka merasa yakin yang mereka temukan itu adalah bangkai tank yang tenggelam. Tempat itu segera diberi tanda dengan tali yang bagian atasnya diberi balon.

Setelah ditemukan lokasinya, para anggota pasukan amfibi segera mempersiapkan pengangkatan kendaraan tank ke atas. Semua orang menaruh harapan yang besar pada upaya pengangkatan itu. Banyak orang memperkirakan bahwa seluruh penumpang masih berada di dalam, dengan demikian bila tank itu berhasil diangkat maka seluruh penumpang pun akan ditemukan pula, meskipun mereka mereka merasa tak yakin bahwa setelah terkurung selama beberapa lama di dalam air mereka dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Upaya pengangkatan pun mulai dilakukan. Ketika benda yang diyakini sebagai tank amfibi itu diangkat ke permukaan, semua orang merasa sangat terkejut karena yang terangkat itu ternyata bukan tank amfibi seperti yang mereka duga. Ternyata yang mereka temukan hanyalah bangkai pesawat terbang amfibi yang sudah tua.

Harapan yang mulai tumbuh kembali sirna. Upaya pencarian kembali dilakukan dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih sampai berhari-hari lamanya. Tidak hanya itu, upaya minta petunjuk dan bantuan kepada orang-orang yang dianggap ‘ pintar ’ juga telah diupayakan. Rasanya mustahil bila tank amfibi yang tenggelam dalam danau yang tidak terlalu luas itu tidak dapat diketemukan, namun itulah kenyataannya !.

Sampai saat ini, setelah bertahun-tahun lamanya tank amfibi itu belum juga dapat diketemukan. Hal ini semakin menambah keyakinan masyarakat akan hal-hal mistik yang terjadi di sana.

Cerita yang berkembang pun bermacam-macam. Banyak orang yang percaya bahwa tank amfibi yang sudah dikuasai sang penunggu danau dan telah berada di alam yang berbeda, itulah sebabnya tak seorang pun ditemukan.

Menurut pengamatan gaib Samid (39), salah seorang warga yang sering dimintai pertolongan untuk memimpin berbagai acara ritual didanau Grati mengatakan, “Tenggelamnya tank disebabkan karena murka ayahanda Jaka Baru, yaitu Syeh Maulana Begawan Nyampo,” kenang Samid.

Ditambahkan oleh Samid, satu dari dua orang desa Grati yang pernah masuk ke danau Grati selama 3 hari 2 malam mengatakan, “Sebenarnya sampai sekarang tank beserta awaknya itu disembunyikan oleh Begawan Nyampo, karena mereka dianggap telah mengusik ketenangan istana tempat kediaman Bagawan,” tambah Samid yang mengaku sering mengadakan kontak dengan keluarga Begawan Nyampo.

Hari berangsur gelap. Para korban belum juga diketemukan. Anggota keluarga dari para korban mulai berdatangan. Mereka sangat sedih membayangkan orang yang mereka kasihi telah pergi meninggalkan mereka dan terkubur di dasar danau.

Mereka tak dapat lagi menahan perasaannya. Ranu Grati saat itu dipenuhi dengan derai tangis dan air mata.
Sudah beberapa hari berlalu, pasukan katak dibantu penduduk sekitar terus-menerus melakukan upaya pencarian, namun belum juga membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Tank beserta seluruh penumpangnya tak juga diketemukan. Mereka bagaikan menghilang ditelan bumi. Banyak orang sudah mulai hilang harapan. Mereka merasa yakin para korban telah habis dimakan ular siluman atau mungkin diangkat menjadi anggota keluarga kerajaan siluman yang berada di dalam air.

Di tengah keputusasaan, bantuan dukun dan paranormal pun dikerahkan. Mereka diharapkan dapat menyingkap tabir misteri yang menyelimuti peristiwa ini. Mantera-mantera pun mulai dibacakan, dupa dan kemenyan mulai dibakar, bunga-bunga ditebarkan di atas air.

Menurut mereka, beberapa hari lagi korban akan dibawa keluar oleh Baru Klinting. Baru Klinting akan mengembalikan sebagian dari korbannya. Berita keluarnya korban tenggelamnya tank cepat tersebar ke mana-mana.

Orang-orang berdesak-desakan melihat Ranu Grati. Semua orang ingin melihat Baru Klinting memuntahkan korbannya. Dan benar, penantian pengunjung tidak sia-sia. Setelah beberapa jam menanti, tiba-tiba terdengar bunyi bergemuruh di dalam air. Tanpa diberi aba-aba semua orang serentak memusatkan perhatiannya ke tengah danau. Pada saat itu muncul sesosok mayat ke permukaan air dalam posisi berdiri seakan-akan ada dorongan yang sangat kuat dari air di bawahnya, setelah berada di permukaan air mayat itu kemudian rebah dan mengambang di permukaan air.

Tim penolong yang berada di atas perahu segera mendekati mayat itu kemudian mengangkat dan membawanya ke tepi. Para pengunjung yang datang merasa tercengang melihat kejadian aneh yang baru saja mereka saksikan. Semua orang ramai memperbincangkan cara keluarnya mayat dari air yang dalam posisi tegak lurus. Apa yang telah mereka lihat merupakan suatu hal luar biasa yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Hal-hal aneh tersebut semakin menambah keyakinan mereka akan adanya hal-hal gaib di Ranu Grati. Setelah peristiwa itu, setiap hari berangsur-angsur muncul lagi beberapa mayat sampai jumlahnya mencapai 6 orang.

Pasukan katak dari TNI Angkatan Laut terus melakukan upaya pencarian sampai 40 hari lamanya, namun tetap saja tak ada lagi korban yang berhasil ditemukan. Cerita yang berkembang tentang pasukan katak pun bermacam-macam. Banyak orang mengatakan beberapa orang dari penyelam itu menemukan hal-hal yang aneh di dalam danau. Ada yang bercerita telah melihat sebuah kerajaan yang sangat indah, ada yang membuat pilar-pilar besar di dasar danau, ada pula yang mengatakan yang melihat hal-hal aneh itu merasa ketakutan dan beberapa orang di antara mereka tak berani menyelam di Ranu Grati lagi.

Setelah melakukan pencarian secara terus-menerus selama 40 hari lamanya, upaya pencarian korban secara resmi dihentikan. Beberapa bulan kemudian seorang nelayan kembali menemukan sesosok mayat yang tidak utuh, hanya kerangka kaki dengan celana dan ikat pinggang yang masih melekat. Kejadian ini segera dilaporkan, dari celana dan ikat pinggang yang diketemukan, kesatuan mereka mengenai mayat tersebut memang salah seorang dari korban pasukan tank amfibi yang tenggelam. Dengan demikian mayat yang telah diketemukan berjumlah 7 orang.

Untuk mengenang peristiwa tenggelamnya tank amfibi yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1979, kini di Ranu Grati telah dibangun sebuah Tugu Peringatan yang bertuliskan daftar nama 22 anggota pasukan yang telah gugur.

Bertahun-tahun telah berlalu, danau itu airnya tetap tenang seakan tak pernah terjadi sesuatu. Kendaraan tank amfibi dan para korban yang belum ditemukan, sampai saat ini tetap menjadi misteri. Mungkin suatu saat nanti dengan alat yang lebih canggih bangkai tank amfibi itu dapat diketemukan sehingga mengungkapkan tabir misteri.

Berikut Nama-nama anggota Amfibi yang tewas dalam peristiwa tenggelamnya tank di Ranu Grati:

1. Serda Gini 476872
2. Koptu Sukarno 409675
3. Koptu Bogor 409321
4. Koptu Suhartono 741486
5. Koptu Suwardi 409788
6. Koptu Tukaran 409815
7. Koptu Sutarto 7758154060
8. Koptu Edi Agustina 7757157556
9. Prada Sutedjo 7757153939
10. Prada Resimen 7756153799
11. Prada Sukarno 7755153660
12. Prada Suhartono 7755153682
13. Prada Musyanto  7755153641
14. Prada Bachtiar 7756153860
15. Prada Firdaus A. 7755153737
16. Prada Susdiyono 7756153850
17. Prada Setu 7757153920
18. Prada Moch. Kosim 7757153951
19. Prada Ralip 7755153652
20. Prada Urip S. 7755153696
21. Prada A. Silakan 7757153998
22. Prada Warsilan 7767158921

*** (M@$®ui)

Share:

Meluruskan Musibah Hibah

Target Hukum Online. Pati - Militer Indonesia sedang berduka. Sebuah pesawat angkut berat C-130H Hercules A1334 milik Skadron 32 Abdulrahman Saleh Malang, rute Timika-Wamena Papua jatuh menjelang landing di Bandara Wamena Minggu tgl 18 Desember 2016. Sebanyak 13 prajurit TNI AU gugur dalam menjalankan tugas latihan konversi pilot definitif.

Seperti biasa berbagai jenis kelamin media, apakah dia bernama media layar kaca, layar baca, layar internet, dan bahkan media sosial meramaikan suasana dukacita musibah itu untuk membombardir predikat hibah yang disandangkan pada pesawat yang kena musibah. Karena pesawat bekas hibah lalu kena musibah,maka ramai-ramai mencari salah, korbannya adalah hibah. Untung saja gak ada yang ngomong bedebah.

Mestinya musibah apapun disikapi dengan nurani yang bening sembari merenungkan makna dibalik setiap musibah. Bahwa kombinasi teknologi terkini, kecakapan pilot, faktor cuaca, beban pesawat adalah bagian dari instrumen berhasilnya jalan terbang pesawat. Pesawat C-130H Hercules A1334 itu memang pesawat tua tetapi seluruh instrumen mesin, avionik, radar sudah diperbaharui, Artinya teknologinya sudah terkini.

Kita terpaku pada usia jam terbang dan mengecilkan peran overhaul, retrofit atau pembaharuan instrumen. Sama pemikirannya ketika kita sedang naik jip hardtop yang mesinnya sudah diganti dengan mesin Kijang, bawaan kita masih pada bangunan fisik hardtopnya. Kita terpaku pada usia pesawat naas yang sudah berusia 34 tahun, lalu berandai-andai dengan argumen ghibah.

Kita mungkin sudah lupa bahwa jatuhnya pesawat tempur EMB 314 Super Tucano di Malang 10 Februari 2016, bukanlah karena pesawat sudah tua. Itu pesawat masih sangat baru dari pabrikannya di Brazil. Kita pesan 16 unit pesawat ini dari Brazil. Atau naasnya pesawat aorobatic T50i Golden Eagle di Yogya tanggal 20 Desember 2015 dalam serial pertunjukan manuver.

Pesawatnya baru banget, masih gres, beli dari Korsel sebanyak 16 unit alias satu skadron. Tidak ada yang hibah disini.
Lebih dramatis lagi pesawat yang benar-benar baru keluar pabrik, jenis angkut berat militer A400M buatan Airbus Spanyol, terjerembab di dekat bandara Sevilla Spanyol tangal 9 Mei 2015. Pesawat yang mampu membawa muatan 37 ton itu harus tamat riwayatnya di depan pabriknya sendiri. Masih ingat Lion air yang jatuh di laut dekat Bandara Ngurah rai tanggal 13 April 2013 menjelang landing.
Apakah itu pesawat tua ? tentu tidak, umurnya masih sangat muda.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan program kerjasama militer RI_Australia soal pesanan 9 C-130H Hercules bekas, 4 diantaranya hibah dan sisanya beli second. Seluruh pesawat itu diretrofit dulu semua instrumennya. Empat pesawat hibah yang diretrofit itu ongkosnya ditanggung Indonesia. Jadi gak hibah-hibah gitu aja, dibagusin dulu, uji coba, bayar, lalu dibawa ke tanah air. Sebagai catatan 4 pesawat hibah berbayar yang sudah di retrofit itu yang bernomor seri A-1330 - A-1333 bagus-bagus aja tuh sampai saat ini.

Lalu ketika jet tempur T50 Golden Eagle jatuh di Yogya, atau EMB 314 Super Tucano nubruk rumah di Malang, atau Helikopter Mi-17 jatuh di Kalimantan Utara, atau Lion Air nyemplung di laut Bali, atau A400M jatuh di depan pabriknya. Apakah semua musibah itu karena faktor hibah atau barang bekas, tentu tidak, karena waktu itu si hibah sedang tidur, tidak pantas dan tidak layak jadi korban ghibah.

Mengapa harus ada jurnalisme ghibah yang menjuruh fitnah. Karena kita belum mampu menjalankan amanah dengan fathonah. Kita lihat beberapa media televisi, bukan memberitakan secara obyektif tetapi memberitakan lewat sudut pandang, maksudnya sudut pandang pemiliknya. Kasihan awak medianya, harusnya membela yang benar berganti dengan membela yang bayar.

Anggaran pertahanan kita belum sebesar yang diharapkan. Tahun depan dapat kucuran 108 trilyun, Alhamdulillah. Kalau bicara soal anggaran, baru lima tahun inilah pembesaran anggaran terlihat bagus, naik secara signifikan. Tetapi selama puluhan tahun sebelum itu kita telah melemahkan militer kita sendiri dengan kucuran anggaran yang seuprit sehingga ketika para tetangga sudah modern militernya barulah kita terbangun.

Kita baru sadar dengan negeri kepulauan terbesar sedunia ini, sumber daya alamnya melimpah, populasinya ratusan juta tetapi militernya hampir tidak punya gigi alias sedikitnya alutsista apalagi yang berkualitas. Maka program beli 24 F-16 bekas dilakukan dengan duit $750 juta. Demikian juga dengan program pengadaan 9 C-30H Hercules bekas dari Australia. Salah? Tidak juga karena kuantitas alutsista kita memang terlanjur malu-maluin sehingga butuh kuantitas agar coverage patroli dan angkut logistik terpenuhi.

Lagian kalau ada pesawat jatuh tidak mutlak si hibah jadi korban fitnah. Banyak faktor penyebab sehingga penelitian nanti yang akan menjawabnya. Sayangnya ketika hasil penelitian nanti diungkap “suasana emosional” sebagian besar kita sudah surut, sehingga tak menjadi perhatian lagi. Itulah sebagian besar kita, mudah difitnah media melalui diskusi ilmiah (katanya) dengan pengamat level kuliah, berlagak amanah ternyata kurang fathonah.

Mumpung bulan Maulid, duhai media, kembalilah kepada kriteria shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah. Beritakan, tablighkan, sampaikan segala sesuatu dengan benar, dengan shiddiq sebagai bagian dari tugas yang penuh tanggung jawab, amanah. Semua itu harus dibungkus dengan kecerdasan, fathonah agar kita terhindar dari ghibah dan fitnah. Kasian si hibah jadi korban fitnah karena musibah. (M@$®ui)

Share:

Sniper di Masa Perjuangan kemerdekaan Indonesia

Target Hukum Online. Pati - Kiprah penembak jitu (penembak runduk/sniper) Nusantara telah dikenal sejak perang Aceh pada abad ke 19, berkat didikan tentara Jepang yang biasa bertempur dengan kondisi serba minim, para prajurit "Siluman" itu banyak berperan saat revolusi fisik 1945-1949.

Cukup sulit menentukan kapan ilmu tembak runduk (sniping) mulai dikenal oleh para prajurit di Nusantara. Minimnya catatan sejarah mengenai ini, baik dari masa Hindia Belanda, Jepang, maupun pasca Poklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, membuat upaya penelusuran poses tumbuh dan berkembangnya ilmu tembak runduk di tanah air laksana mencari sebatang jarum di tengah onggokan jerami.

Kerterlibatan para penembak runduk (sniper) di dalam sebuah petempuran hampir bisa dipastikan dibayangi aroma kerahasiaan sebagai dampak budaya "ambil jalan pintas" yang acap diambil para komandan pasukan. Dalam situasi seperti ini, jangan harap bakal ada selembar catatan terbuka soal terlibatnya penembak runduk. 

Sejak bercokolnya Belanda di Bumi Pertiwi pada abad ke 17, ratusan konflik bersenjata banyak terjadi. Kala itu pola pertempurannya masih diwarnai gaya baku bunuh di Abad Pertengahan. Kedua belah pihak yang bertikai saling berbenturan secara frontal dalam jarak dekat. Dalam situasi seperti ini tak hanya prajurit rendahan bahkan perwira tinggi sekelas Jenderal pun bakal berkesempatan melihat wajah pembunuhnya disaat detik-detik akhir maut menjemputnya.

Kian intensnya peran senjata api semasa pergolakan menentang Belanda pada abad Ke 18 dan 19 membuat beragam senjata api banyak beredar di tangan sejumlah kelompok perlawanan. Sayang, penggunaannya belum maksimal mengingat kesulitan kelompok perlawanan memperoleh amunisinya. Terbukti dari uraian dalam laporan kematian para perwira pasukan kolonial Hindia Belanda yang kebanyakan tewas akibat senjata tajam atau tembakan jarak dekat.

Jendral Kohler.
Mungkin satu-satunya aksi tembak runduk kelompok perlawanan yang secara resmi diakui rejim kolonial adalah insiden tewasnya Mayor Jenderal JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baitul Rachman, Kutaraja (kini Banda Aceh) pada tanggal 14 April 1873. Saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan sekitar 5.000 orang yang telah sembilan hari menyerang Kesultanan Aceh berhasil mendobrak pertahanan Laskar Aceh di Mesjid Raya dan kemudian membakarnya hingga ludes.

Kohler yang tengah mengadakan inspeksi situasi palagan hendak beristirahat di bawah sebuah pohon yang berjarak sekitar 100 meter dari mesjid. Mendadak sebuah tembakan meletus dan mengenai tepat di kepalanya hingga membuat Kohler tewas seketika. Pelakunya, yang kemudian di berondong pasukan Belanda, ternyata seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan mesjid.

Di lain pihak, Laskar Aceh sendiri sempat merasakan betapa ampuhnya sengatan penembak runduk. Salah satu tokoh, Teuku Umar, tewas dihajar sebutir peluru emas milik seorang penembak runduk dari satuan elit Marechaussee di pantai Sua Ujung Kuala. Saat itu Teuku Umar tengah merencanakan penyerbuan terhadap kota Meulaboh pada dini hari tanggal 11 Februari 1899.

Heiho.
Tatkala pasukan Dai Nippon mulai merebut satu demi satu wilayah kekuasaan Hindia Belanda pada periode awal Perang Pasifik tahun 1942, saat itu ilmu tembak runduk seperti yang kita kenal sekarang mulai dikenalkan para samurai Tenno Haika.

Guna membuat pertahanan pasukan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) di suatu lokasi morat marit, para satria kate dengan bertengger di atas pohon dan bermodal senapan standar Arisaka tipe 30 atau 38 (keduanya berkaliber 6,5 mm) menghabisi satu demi satu para perwira KNIL, dengan sebutir peluru tepat di kepalanya atau bagian vital lainya. Begitu si opsir tewas, anak buahnya seketika ambil langkah seribu. Tak jarang mereka harus terima nasib "menyusul" komandannya ke alam baka dengan cara sama meski telah sekuat tenaga berlari menjauhi lokasi pertempuran.

Dalam beraksi para penembak runduk Jepang tak hanya dibekali senapan standar. Sejumlah kesatuan di jajaran Angkatan Darat kekaisaran Jepang sempat kebagian senapan Arisaka tipe 97. Hakikatnya, senjata ini merupakan pengembangan Arisaka tipe 38 untuk memenuhi kebutuhan tembak runduk yang sejati. Perbedaan kasat mata diantara keduanya terutama sekali pada penempatan teropong bidik dengan perbesaran 2,5 kali diatas kamar peluru senapan tipe 97. Belakangan posisi tipe 97 digeser tipe 99 dengan kaliber 7,7 mm dengan skala perbesaran teropong bidik empat kali.

Bercokolnya pasukan Jepang selama 3,5 tahun membawa dampak yang amat luas pada berbagai sendi kehidupan di Tanah Air. Terutama sekali dari segi militer. Kian menipisnya sumber daya manusia memaksa pasukan Jepang merekrut banyak tenaga muda pribumi dari semua wilayah taklukannya, termasuk Indonesia.

Ribuan pemuda dilatih ilmu kemiliteran guna disiapkan menjadi personil Heiho dan PETA. Jika para Heiho (yang berarti pembantu prajurit) diberi kesempatan merasakan ganasnya api peperangan di berbagai palagan Perang Pasifik, tak demikian dengan personil PETA. biarpun telah di gembleng dengan amat kerat di Giyugun Rensetai (semacam pusdiklat) PETA di Bogor, mereka harus puas hanya kebagian tugas sebagai Bo-ei Giyugun Chiho atau sebagai pasukan pertahanan lokal.

Semasa awal latihan, para calon personil Heiho dan PETA diajari memakai aneka senjata tua yang dirampas dari pasukan KNIL seperti karaben Hamburg kaliber 6,5 mm dan senapan mauser Kav 1889 kaliber 7,92 mm. Setelah dianggap mahir baru beralih ke senjata standar tentara Jepang sendiri dari jenis Arisaka tipe 30 dan 38.

Siswa yang berbakat akan diarahkan menjadi seorang penembak runduk yang akan dikirim ke garis depan. Di perkirakan jumlah pemuda Indonesia yang beruntung mengeyam pendidikan senapan runduk versi Jepang hanya sekitar 70 orang. Tambahan lagi, pendidikan mereka baru selesai dikala pasukan Jepang sudah mulai terdesak Sekutu disejumlah tempat.

Peruntukan boleh saja beda, namun landasan ilmu kemiliteran yang terlanjur diserap kedua satuan paramiliter bentukan Jepang itu toh tetap sama. Antara lain kemampuan bertahan hidup di hutan lebat dan bertempur secara gerilya dengan bekal amunisi minim. Dibarengi disiplin total, dengan sendirinya para remaja didikan Jepang ini tanpa sadar telah terbiasa menjadi penembak runduk alami. Falsafah "satu peluru satu nyawa" telah meresap kedalam jiwanya. Sebuah kebiasaan yang terasa sekali manfaatnya dalam perang mempertahankan kemerdekaan 1945-1949.

Modal awal berbagai badan perjuangan yang di bentuk pada September 1945, siapa lagi kalau bukan para pemuda didikan Jepang tersebut. Biar hanya berbekal senjata tua bekas KNIL dan Jepang, para pemuda tetap menghadang gerak maju pasukan Inggris dan Belanda di berbagai wilayah. 

TKR.
Pertempuran sengit di Surabaya dan Ambarawa (1945), pihak Inggris sempat mengerahkan pasukan elit Gurkha yang telah banyak menyerap taktik perang rimba dan tembak runduk model Jepang. Alhasil dalam beberapa pertempuran sempat terjadi duel antar penembak runduk Gurkha dengan "rekan sejawat" dengan satuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Hebatnya lagi, duel tadi acap kali terjadi bukan hanya di permukaan tanah tapi juga sampai di atas pepohonan lebat.

Selama berkobarnya Perang kemerdekaan 1 dan 2, tak hanya penembak runduk saja namun kebanyakan pasukan TRI, serta anggota Laskar kejuangan lainnya terpaksa harus bertempur dengan modal peluru sangat minim. Berbulan-bulan mereka harus kucing-kucingan dengan pasukan Belanda, tapi peluru dikantong tak lebih 10 butir.

Akibatnya dalam setiap baku tembak bisa ditebak suara berondongan tembakan selalu datang dari posisi pasukan Belanda yang suka obral peluru. Sementara tembakan di pihak Republik hanya terdengar sesekali. Biarpun begitu, tembakan tunggal pihak Republik bikin ciut nyali para sinyo Koninklijke Leger (KL). Pasalnya, tiap tembakan "kaum ekstrimis" itu tak pernah meleset dan selalu minta korban jiwa diantara rekan-rekannya.

Hanya berkat semangat juang yang tinggi plus segudang akal cerdiklah para personil gerilyawan Republik mampu bertahan dalam kondisi serba pas-pasan sehingga tercapainya pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada bulan desember 1949. (M@$®ui)

Share:

Selasa, 20 Desember 2016

Acara Rakor Kades Sekdes Se-kecamatan Jakenan Pati

Target Hukum Online. Pati - Pagi hari ini Selasa tgl; 20/12/2016 pukul 10.00 WIB telah di selenggarakan rakor kades sekdes se kecamatan jakenan.di selenggarakan di balai desa Sembaturagung Kecamatan jakenan kabupaten pati, turut hadir dalan acara tersebut di antaranya :

Camat Jakenan Bpk.Aris Soesetyo,SH.MM Danramil Jakenan Bpk .Kambali, Kapolsek Jakenan Bapak AKP M. Suyatno Kepala puskesmas Jakenan, Bapak Dr. Ali juga seluruh kades sekdes  sekecamatan Jakenan atau yang di wakilkan.Dalam Rakor tersebut Camat Aris Soestyo menyampaikan
Ada enam (6) desa yang tidak bisa menghadir.

Acara tersebut berhubungan ada hal penting yang harus di selesaikan, di antaranya: Desa Jakenen, desa Tanjung sari, Desa Sidomulyo, Desa Ploso jenar desa Jatisari, desa Karang Rejo lor, dalam sambutanya Camat Aris Soestyo, SH, MM. menyampaikan terkait pendaftaran BPJS perangkat desa yang belum mendaftarkan agar segera mendaftarkan karena di kecamatan jakenan masih ada beberapa desa yang belum mendaftarkan.

Camat Aris Soestyo SH. MM. berpesan kepada seluruh desa yang belum mendaftarkan agar segera mendaftarkan demi lancarnya program tersebut.

Bapak Aris Soestyo juga tidak lupa menyampaikan terima kasih
Kepada kepala desa sembaturagung Ibu Dwi tantri wurjanyanti, SE
Selaku tuan rumah yang telah menyediakan tempat dan perlengkapan lainya termasuk senek makan siang dan lain lain. Acara terselenggara dengan lancar dan kondusif sampai acara selesai. (J©j©)

Share:

Senin, 19 Desember 2016

Mirisnya Hukum Dinegeri Ini

Target Hukum Online. Pati - Dahlan Iskan, memilih membacakan sendiri pembelaannya. Dengan sepenuh hati dan tanpa retorika yang nylimet.
Dan..... inilah yang dibacakannya. Cukup menggunakan ponsel sebagai media.

================================
Majelis Hakim Yang Mulia,

Marilah bersama-sama kita cegah berkembangnya kebingungan masyarakat dalam hal penanganan korupsi. Terutama yang ditangani oleh kejaksaan.

Ada kasus yang terang-benderang dan sangat jelas permainannya, tapi hanya diusut-usut, diubek-ubek, dihaha-huhu, dan ujung-ujungnya D (duh), tidak jadi perkara.

Sebaliknya ada yang dengan jelas sulit disebut korupsi justru diperkarakan. Dengan menggunakan segala cara. Dan untuk memperkarakannya menggunakan uang negara pula. Jaksa menanganinya dengan tergopoh-gopoh. Sampai mengabaikan hak tersangka.
Gaya kejaksaan seperti itu, Yang Mulia, yang membingungkan masyarakat.
Masyarakat yang modal utamanya adalah hati nurani, dan akal sehat dibuat bingung karena sering disuguhi oleh ulah kejaksaaan yang seperti itu. Yakni bagaimana mengobyekkan korupsi demi kerakusan politik, kerakusan jabatan maupun kerakusan harta.

Dengan ulah kejaksaan seperti itu, Yang Mulia, berarti kejaksaan telah menghancurkan semangat anti korupsi di kalangan masyarakat. Masyarakat bisa apatis. Bahkan masyarakat akhirnya percaya pada istilah nasib-nasiban. Masyarakat akhirnya bisa percaya bahwa orang yang diperkarakan kejaksaan itu belum tentu karena harus diperkarakan tapi hanya karena nasibnya saja yang apes. Lagi salah mongso. Atau lagi dimangsa. Atau hanya karena tidak mau menyogok. Atau bahkan karena tidak mampu menyogok.

Alangkah tragisnya negeri ini, Yang Mulia, setelah hampir 20 tahun reformasi, setelah lima presiden silih berganti, sampai presiden yang program utamanya adalah revolusi mental, masih juga begini-begini.
***
16 tahun yang lalu, Yang Mulia, 16 tahun yang lalu.
***
Saat para jaksa ini mungkin masih remaja. Saya diminta untuk membenahi perusahaan daerah Jatim yang lagi sakit.

Kenapa harus saya?

Gubernur Jatim menjawab karena Perusda Jatim dalam keadaaen sakit parah. Sakit yang menahun.
Gubernur mengatakan Perusda harus diubah secara drastis. Aset-asetnya hanya banyak yang jadi beban perusahaan. Harus dikonsolidasikan. Perusahaan daerah harus dikelola seperti perusahaan swasta. Baru bisa maju.

Sebelum meminta saya itu, Yang Mulia, Gubernur bersama DPRD Jatim sudah membuat langkah yang sangat radikal. Yaitu mengubah status Perusda menjadi PT (Perseroan Terbatas). Yakni PT PWU.
Mengapa mereka mengubah Perusda menjadi PT?

Mereka menjawab bahwa dengan status PT, Perusda akan bisa keluar dari kesulitan yang sudah dialaminya bertahun-tahun. Dengan status PT Perusda bisa membuat keputusan lebih cepat. Birokrasi tidak perlu berbelit-belit.
Dengan bentuk PT keputusan tertinggi ada di lembaga RUPS. Bukan di DPRD lagi.

Begitulah asbabun nuzulnya, Yang Mulia mengapa gubernur maunya begitu. Mengapa DPRD maunya begitu.
Itu bukan mau saya.

Cetho welo-welo.

Meski sudah cetho welo-welo seperti itu, tetap saja saya diperkarakan. Dengan dakwaan "menjual aset Pemda tanpa persetujuan DPRD".

Bingung, Yang Mulia. Bingung.

Yang Mulia,
Tahun 2001, yaitu 15 tahun yang lalu, RUPS PT PWU, sudah memutuskan agar aset yang diperkarakan ini dilepas.
Mestinya saat itu saya sudah bisa melepaskannya. Toh aset itu aset PT, bukan aset Pemda. Tidak ada di dalam daftar aset Pemda tercamtum aset tersebut.

Toh saya masih hati-hati. Saya masih berkirim surat ke DPRD: apakah untuk melepaskan aset yang sudah diperintahkan oleh RUPS tersebut masih harus melalui persetujuan DPRD?
Surat yang saya kirim di bulan Maret 2002 tersebut baru dibalas di bulan September. Enam bulan kemudian. Saya sabar menunggu jawaban itu. Saya belum mau menjalankan perintah RUPS tersebut sebelum ada balasan dari DPRD. Saya memaklumi DPRD perlu waktu yang panjang karena untuk menjawabnya harus dibahas dulu dalam mekanisme internal DPRD.

Jawaban DPRD itu akhirnya saya terima.

Jawabannya jelas sekali.
Saya diminta berpegang pada UU PT. Berarti tidak perlu persetujuan DPRD.
Begitu jelasnya, Yang Mulia, cetho welo-welo.

Yang Mulia, selanjutnya saya sebenarnya tidak ingin mengungkapkan yang berikut ini. Saya takut kalau saya ungkapkan sia-sialah makna pengabdian saya. Tapi untuk menunjukkan apakah saya punya niat untuk korupsi tampaknya harus saya ungkapkan.

Selama menjabat Dirut PT PWU saya tidak mau digaji Yang Mulia. Saya juga tidak mau diberi fasilitas apa pun. Perjalanan dinas pun saya biayai sendiri. Termasuk perjalanan dinas luar negeri.

Saking sulitnya PT PWU di tahun 2000 itu, Yang Mulia, sampai saya memutuskan agar kebiasaan memberi sekedar bingkisan lebaran kepada para pejabat daerah pun harus dihentikan.
Beratnya lagi Yang Mulia Pemda sudah tidak mau menyediakan modal tambahan.

Bank juga tidak mau memberi kredit. Tentu saja bank tidak percaya pada PT PWU. Kredit macetnya masih banyak.
Tapi perusahaan ini harus sembuh dari sakitnya. Harus bisa bangkit.

Akhirnya, saya pribadi, Yang Mulia, harta saya pribadi saya jaminkan ke bank.
Bank BNI akhirnya memberi kredit Rp 40 miliar. Dengan jaminan pribadi saya. Untuk membangun pabrik steel conveyor belt. Ini bersejarah bagi PWU dan bagi Jatim. Inilah satu-satunya pabrik serupa di Indonesia. Sejak itu Indonesia bisa tidak perlu lagi impor steel conveyor belt.

Ketika melihat aset PWU yang kumuh, berbau, dan jadi sumber polusi di Jalan A Yani Surabaya, saya memutuskan untuk membangun gedung Jatim Expo di atasnya. Sebagai propinsi terbesar kedua di Indonesia, Jatim belum punya fasilitas ekonomi seperti itu.

Tapi PWU tidak punya uang. Bank juga belum percaya kepada PT PWU. Untuk memulai pembangunan gedung Jatim Expo tersebut, Yang Mulia, saya jaminkan deposito pribadi saya sebesar Rp 5 miliar. Jadilah sekarang gedung Expo Jatim yang megah itu.

Sebenarnya masih ada yang lebih besar lagi pertaruhan harta saya untuk membuat PWU tidak terpuruk. Tapi ijinkan yang satu ini tidak saya ungkap agar masih ada tersisa pahala untuk saya di sisi Yang Maha Kuasa.

Yang Mulia,
Semua itu tidak penting.

Yang penting adalah, jangan bikin masyarakat bingung. Jangan bikin masyarakat apatis. Jangan bikin masyarakat akhirnya lebih percaya pada unsur nasib-nasiban daripada percaya pada hukum.

Bagaimana caranya?

Saya yakin Yang Mulia lebih tahu caranya. Orang-orang yang hadir di sidang ini juga tahu caranya. Di sini hadir tokoh-tokoh hukum seperti Pak Mahfud MD dan Pak Abraham Samad dan tokoh-tokoh hati nurani seperti Prof Effendi Gozali.

Jangan bawa perkara seperti ini masuk ke pengadilan. Kalau pun sudah terlanjur jangan diteruskan.

Jangan sampai pengadilan ini menjadi pengadilan sesat.

Maksud saya bukan hanya perkara saya ini saja, tapi juga perkara-perkara sejenis ini yang banyak sekali terjadi di negeri ini.

Kita bantu bapak presiden untuk revolusi mentalnya.

Surabaya, 13 Desember 2016
Dahlan Iskan

Share:

Reses PDI Perjuangan Pati

Target Hukum Online. Pati - Setelah lama menunggu Konsolidasi akhirnya Noto Subiyanto selaku anggota DPRD Kabupaten Fraksi PDI Perjuangan Pati sukses melaksanakan reses di tempat tinggalnya. (jumat, 16/12). Reses tersebut dilaksanakan di Desa Panjunan Kecamatan Pati Kota Kabupaten Pati dengan dihadiri ratusan warga masyarakat, kader dan simpatisan partai.

Sejak pukul 15.30 wib peserta reses mulai berdatangan di tempat tinggal Anggota Dewan yang dekat kepada siapa saja. Selain anggota PAC PDI Perjuangan juga hadir simpasisan dan warga masyarakat. Acara reses yang dilakukan Noto Subiyanto sangat tepat, selain mengumpulkan warga dalam menjalin silaturahmi juga dikemas dalam konsolidasi kemenangan Paslon Haryanto-Saiful Arifin. Hadir dalam kesempatan itu Pengurus Partai PDI Perjuangan sekaligus anggota DPRD Pati Budiono dan Djamari.

Noto Subiyanto berharap reses kali ini dapat menampung aspirasi warga sebanyak-banyaknya sehingga bisa dijadikan bahan masukan di rapat Dewan Pati. Sengaja reses dilakukan dengan konsolidasi untuk mendukung pasangan Harfin dalam Pilkada Pati 2017. Dirinya berharap dengan reses ini dapat menyerap berbagai persoalan dan masukan sebagai bahan dalam memperjuangkan warga masyarakat. Sekaligus memberikan dukungan kepada Paslon Harfin yang diusung oleh partai PDI Perjuangan.

Di akhir acara, selepas membacakan doa penutup tuan rumah Noto Subiyanto mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan perhatian warga untuk hadir di acara reses. Dirinya juga berharap dalam reses kali dapat memberikan manfaat serta memberikan hikmahnya. Acara reses dan konsolidasi diakhiri makan bersama dan hiburan musik klasik modern. (Agus Net)

Share:

Perang Bendera 12 Maret 1946

Target Hukum Online. Pati - Kabar Indonesia, Bagansiapiapi - Muasal Peristiwa menegangkan itu terjadi pada tanggal 12 Maret 1946 lalu, ketika orang-orang cina di kota Bagansiapiapi (Riau) mengibarkan bendera Kuo Min Tang dalam lafal cina Cap Ji Kak (bendera bintang dua belas). Tanggal itu adalah merupakan hari besar bagi Cina Nasionalis. Mereka mengibarkannya tanpa berdampingan dengan sang merah putih.

Tindakan itu menimbulkan heran dan kemarahan bagi pemuda Indonesia dalam Front Perjuangan Rakyat Indonesia (FPRI) Bagansiapiapi, bahkan anggota TKR pun marah. Kemudian tindakan yang dianggap pelecehan terhadap kedaulatan Pemerintah Republik Indonesia itu mengadukan kejadian tersebut kepada Wedana Bagansiapiapi, M.Yatim Lubis yang masih merangkap sebagai ketua KNI Daerah.

Kapitan Lu Cin Po kemudian dipanggil Wedana Bagansiapiapi dan sekitar pukul 09.00 WIBdia hadir di kantor KNI Daerah di jalan rumah sakit (sekarang asrama Polisi,jalan Dr.Pratomo). Perundingan pun berlangsung, Wedana didampingi stafnya, diantaranya Buyung Ketobah.

Sementara di kota Bagansiapiapi semakin tegang oleh tindakan TKR dan FPRI, mereka mengambil inisiatif menurunkan bendera bintang dua belas dari kaki lima maupun diloteng rumah-rumah cina. Melihat oknum TKR bertindak di luar komando maka anggota Polisi Tentara (PT), Amran Liki melakukan patroli kemudian anggota TKR yang berkeliaran diperintahkan untuk konsinyasi, kembali kemarkasnya (sekarang SDN I,jalan Perwira depan kantor polsek Bangko, Bagansiapiapi).

Namun seorang anggota TKR, Kahar Yakin menebang tiang bendera Kuo Min Tang dari bambu yang berada didepan kedai pangkas Tiu Nai Kuai (sekarang disudut jalan Merdeka dan Jalan Sentosa). Orang cina politik yang biasa kumpul di kedai pangkas itu marah melihat perbuatan itu sehingga terjadi pertengkaran. Kemudian mereka menegakkannya kembali, mengikatnya dengan seutas tali. Kejadian yang ramai itu akhirnya Amran Liki tiba ditempat dan memerintahkan Kahar Yakin kembali kemarkas.

Tetapi ketegangan tidak mereda, Polisi Tentara pun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap emosional pemuda yang marah. Bahkan Jaman Sirait seorang FPRI dari pasukan Hizbullah memberikan komando kepada anak buahnya agar menanggalkan pakaian kesatuan dan berjuang atas nama pribadi.

Dikota Bagansiapiapi saat itu ada juga orang cina yang secara sukarela menurunkan bendera mereka dan ada juga yang mengibarkannya secara berdampingan sesuai kesepakatan sebelumnya.

Tepat jam sebelas siang akhirnya perundingan di kantor KNID mencapai kesepakatan. Kedua belah pihak sepakat bahwa orang cina mengibarkan bendera merah putih disebelah kanan dan bendera Kuo Min Tang sebelah kiri berdampingan hingga pukul 12.00 WIB apabila tidak di indahkan maka bendera Kuo Min Tang harus diturunkan.

Kemudian Kapitan Lu Cin Po dengan bersepeda merk Releigh meninggalkan kantor KNID menyelusuri jalan rumah sakit (sekarang jalan Dr.Pratomo) menuju jalan Bank (sekarang jalan merdeka) kemudian belok kejalan Pasar (sekarang jalan perniagaan). Disepanjang jalan pemukiman orang cina itu warga cina mengadu kepadanya bahwa orang berpakaian preman bertindak menurunkan bendera Kuo Min Tang dari rumah mereka.

Melihat keadaan yang kacau maka Lu Cin Po membalikkan sepeda kayuhnya kejalan semula. Namun di persimpangan jalan kantor pos dan jalan Bank (sekarang jalan perwira dan merdeka, depan gedung dekrasnada) Kapitan Lu Cin Po dicegat oleh orang front Perjuangan Rakyat Indonesia (FPRI), tampak diantaranya Rifa'i Abidin, Wan Saleh Tamin, Abdul Hakim dan Dudin.

Menurut saksi mata Kapitan Lu Cin Po karena terdesak maka hanya berkata "Sabat, sabat" (berlogat cina,maksudnya sabar,sabar). Namun seorang pejuang rakyat itu langsung menyabatnya. Kapitan sempat mengelak namun mengenai lehernya, dan roboh ditempat. Melihat kejadian itu beberapa orang cina kemudian melarikan Kapitan Lu Cin Po ke rumah sakit namun tewas sebelum tiba di rumah sakit.

Berita tewasnya Kapitan Lu Cin Po menyebar diseluruh kota Bagansiapiapi. Secara sepontan akhirnya banyak rumah cina menutup pintunya.

Sementara itu dari Parit Tangko (sekarang satria tangko) hingga simpang Tukang besi (simpang jalan bawal) telah terjadi perang sosoh antara pejuang rakyat dari kampung jawa (sekarang Bagan Jawa) dibawah pimpinan Amat Mirah melawan pasukan cina. Dengan sebanyak 20 orang, Amat Mirah menyerbu dari kampung jawa menuju kota. Di simpang Parit Tangko Amat Mirah mendapat instruksi dari Maswiryodiharjo komandan FPRI untuk menurunkan bendera Kuo Min Tang dari rumah orang cina disekitar parit tangko hingga simpang tukang besi.

Amat Mirah mendapat bantuan sekitar 10 orang dari jalan Siakap (sekarang jalan Siak) dan Bagan Hulu. Gabungan pasukan ini kemudian melaksanakan perintah menurunkan bendera Kuo Min Tang itu dari rumah cina. Namun Amat Mirah mendapat perlawanan sengit dari orang cina, banyak orang cina itu bersenjata tajam seperti tempuling (tombak bermata cabang), pedang dan lain-lainnya.

Pasukan Amat Mirah banyak yang tewas. Akhirnya kawasan itu dikuasai oleh orang cina. Bantuan dari FPRI maswiryodiharjo dan A.Karim Said terlambat datang akhirnya mereka mundur dan bertahan di komplek Water Leiding (jalan siak sekarang).

Sementara itu bantuan FPRI Kampung Jawa juga terlambat datang. 20 orang yang dipimpin Mahyudin Ahmad banyak melihat penduduk yang berlarian menuju kampung jawa. Mereka mengatakan bahwa semua pasukan Amat Mirah sudah tewas karena pasukan cina yang banyak sehingga tidak seimbang. Mendengar itu akhirnya pasukan Mahyudin Ahmad juga mundur.

Dari saksi mata didata sebanyak 16 orang yang tewas, yakni Amat Mirah, Pawirorejo, Pairin, Kromosono, Ali, Amat Sairin, Sarman, Sarkam, Ngatimun, Parjan, Saimin, Fakih Saleh, Hakim bin Kimang, Husin, Khalifah Sidik dan Khalifah Thalib.

Korban lainpun berjatuhan, orang pribumi yang bekerja di bangliau-bangliau cina terjebak dan tak bisa melarikan diri. Mereka menjadi keganasan balas dendam. Mereka dibunuh tanpa ampun.

Pemerintah mencoba mencegah permusuhan dan kerusuhan itu. Dengan aparat yang sangat terbatas, pemerintah berusaha menghentikannya. Masing-masing pihak ditarik kebasisnya. Akhirnya kerusuhan dalam kota Bagansiapiapi dapat dihentikan meskinpun keadaan masih tetap tegang. Masing-masing pihak saling waspada. ($@b@®!)

Share:

Blog Archive