Minggu, 21 Januari 2018

Shalahuddin Mengilas Musuhnya Dalam Pertempuran Battle Of Hattin

Targethukumonline. Sejarah - Dalam salah satu pertempuran paling dahsyat kejam dan brutal dalam Perang Salib jilid kedua, ada kisah yang terus menjadi gambaran pasukan salib betapa mengerikannya pasukan Shalahuddin di tanah Palestina.

Pertempuran dahsyat Battle Of Hattin.

Pertempuran yang terjadi di Bukit Hattin, orang-orang Eropa menyebutnya “Battle of Hattin”.

Pertempuran yang juga dikisahkan sedikitnya oleh Ridley Scott dalam film Kingdom of Heaven (2005).

Pertempuran yang bahkan jauh lebih dahsyat dan mengerikan dari upaya perebutan Kota Yerusalem sendiri beberapa bulan kemudian.

Pasukan Salib saat itu dipimpin oleh Guy de Lusignan, seorang fanatik yang menjadi Raja Yerusalem setelah kematian anak Sibylla, Raja Baldwin V yang menggantikan pamannya, Raja “Lepra” Baldwin IV yang dikenal sangat bijaksana, santun dan rendah hati.

Guy sangat berambisi menghabisi “pasukan Islam” dan yakin bahwa serbuannya ke Tiberias (tempat bermukim pasukan Shalahuddin) adalah takdir Tuhan.

Pertempuran Hattin juga sempat mengubah persepsi mengenai Shalahuddin yang dikenal welas asih pada musuh musuhnya.

Imaduddin al-Ishfakhani, sekretaris Shalahuddin membeberkan kesaksiannya, “Pada hari itu aku menyaksikan bagaimana Shalahuddin membunuh kaum tak beriman dengan tangan dinginnya untuk memberi napas bagi Islam dan menghancurkan politeisme untuk membangun monoteisme.”

Di pertempuran ini, pasukan Shalahuddin mengeksekusi banyak pasukan salib, menumpuk kepala-kepala mereka menjadi gundukan di lembah-lembah Bukit Hattin.

Membuat burung nazar berdatangan menutupi langit seolah cuaca sedang mendung gelap gulita.

Adalah Reynauld of Chattilon, tangan kanan Guy Sang Raja Yerusalem, yang membuat Shalahuddin berubah jadi sosok kejam.

Empat tahun sebelumnya, Reynauld membunuh adik perempuan Shalahuddin saat gencatan senjata masih terjalin antara pasukan salib dengan pasukan muslim, memperkosa kaum wanita dengan brutal dan biadab dan membantai seluruh kafilah muslim yang melewati tanah Palestina, mengeksekusi dan menjarah wilayah-wilayah muslim.

Ketika seorang muslim mengingatkan akan gencatan senjata yang masih berlaku, Reynauld malah menghardik, “Biar Muhammad kalian datang dan menolong kalian!”

Seolah belum cukup memprovokasi Shalahuddin, Reynauld juga memiliki rencana akan menyerang kota suci umat muslim: Mekkah, rencana yang kelewatan ini justru memberi kekuatan motivasi semangat yang berlipat di pihak pasukan muslim.

Semua kabilah-kabilah kemudian bersatu di bawah panji Shalahuddin dan menghilangkan perselisihan masing-masing.

Shalahuddin pun bersumpah, “Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Maka terjadilah pertempuran terbesar dalam sejarah Perang Salib jilid kedua yang begitu kejam brutal dan menentukan sejarah Islam kedepannya.

Sekalipun kampanye jihad merupakan cara yang membuat seluruh pasukan muslim bersatu, di pihak lawan kampanye yang sama malah dijalankan dengan cara yang jauh lebih binal dan liar.

Mematikan akal sehat dan seolah-olah mempercayai bahwa Tuhan akan membantu Pasukan Salib dengan mukjizat.

Salah satu tanda-tanda itu datang ketika Guy menyetujui usulan Reynauld untuk mendatangi langsung pasukan Shalahuddin di Tiberias, para kaum fanatik buta ini mengabaikan penalaran militer.

Memburu pasukan Shaluhddin di tempat terbuka dan bukannya menunggu di balik tembok kastil Kota Yerusalem.

Bersama 20 ribu pasukannya, Guy dan Raunauld menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang terik, terbebani dengan baju zirah mereka yang berat.

Shalahuddin walaupun seseorang yang sangat religius adalah panglima militer dengan kecerdasan strategi luar biasa. Ia tahu bahwa akses air adalah penentu jalannya pertempuran kali ini.

Shalahuddin membendung persediaan air dan mengeringkan banyak mata air. 

Memerintahkan pasukan pemanah grup kecil untuk mengincar tentara musuh yang terpisah dari rombongan, para pasukan salib setengah gila karena kehausan.

Pada akhirnya mereka sampai ke Laut Galilea dalam keadaan kelelahan dan baru menyadari bahwa satu-satunya sumber air adalah tempat di mana perkemahan pasukan Shalahuddin berada.

Sekalipun tanpa taktik semacam ini, Shalahuddin sebenarnya tetap bisa memenangi pertempuran pasukan muslim 10 ribu lebih banyak, tapi Shalahuddin tahu, di belakang Guy dan Reynauld, ada Kota Yerusalem yang mesti direbut.

Dalam rencana Shalahuddin, akan sia-sia jika kemenangan di Bukit Hattin tidak berlanjut ke kemenangan berikutnya.

Dalam kondisi lelah dan dehidrasi yang luar biasa, pasukan salib beristirahat di Bukit Hattin. Sorak-sorai pasukan Shalahuddin sudah terdengar dari kejauhan.

Menunjukkan betapa siap pasukan Shalahuddin menyambut pertempuran kali ini, pertempuran dahsyat yang bertepatan pada tanggal 26-27 Ramadhan.

Hari suci umat muslim yang pada akhirnya diperingati oleh Shalahuddin sebagai malam “nuzulul Quran” hari pertama kalinya ayat Alquran turun ke dunia.

Pada akhirnya saat fajar mulai menyingsing tgl 4 Juli 1187, berangkatlah pasukan Shalahuddin menyerbu Bukit Hattin tempat pasukan salib berkemah, mengalahkan begitu telak dan hanya menyisakan sedikit dari mereka. 

Beberapa baron dan ksatria memang ada yang lolos dari kepungan pasukan Shalahuddin saat itu.

Beberapa di antaranya adalah Balian de Ibelin, sosok yang akan memimpin milisi dan tentara rakyat Yerusalem mempertahankan kota dari pasukan Shalahuddin beberapa bulan kemudian.

Setelah pertempuran usai, Shalahuddin membawa dua tawanan yang paling berharga ke dalam tendanya yaitu Raja Guy dan Reynauld. 

Dua pria yang sangat kelelahan sekaligus kehausan. Shalahuddin memberi Guy sebuah air es yang menyegarkan. Guy meminumnya, kemudian memberikan kepada Reynauld.

Sudah dalam tradisi Arab bahwa seorang tuan rumah tidak boleh membunuh lelaki yang ia beri makan dan minum.

Ketika Reynauld minum dengan begitu entengnya tanpa perintah tuan rumah, Shalahuddin bertanya, “Siapa yang mengizinkanmu minum..??

Reynauld cuma bergeming,  Shalahuddin pun melanjutkan kalimatnya, “Karena itu aku tidak diharuskan menunjukkan belas kasihan kepadamu..!!!

Seketika kalimat itu usai, Shalahuddin langsung mencabut pedangnya dari sabuknya dan menebas memenggal kepala Reynauld di hadapan Guy yang ketakutan dan yakin bahwa gilirannya akan tiba.

Melihat Guy yang ketakutan Shalahuddin kemudian berkata, “Raja tidak membunuh Raja, mengapa kamu tidak mendekati seorang raja agung untuk belajar dari keteladanannya?”

Raja agung yang dimaksud adalah Raja Baldwin IV, raja yang menderita penyakit lepra sampai akhirnya meninggal dunia.

Meninggalkan Kerajaan Kristen Yerusalem dalam genggaman Raja Guy sang fanatik buta dan membuat Kerajaan Islam akhirnya mampu menguasainya. ($.ucipto)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive