Kamis, 29 November 2018

Hadiri Haul Ki Ageng Ngerang, Bupati Sisipkan Do'a Harapan Untuk Masyarakat Pati

Targethukumonline. Pati - Bupati berharap pada seluruh masyarakat Kabupaten Pati agar senantiasa bersatu dan juga mendukung perkembangan pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah sehingga dapat guyub rukun membangun desa.

Gema Sholawat Nabi Muhammad SAW bersama Gus Muwafiq & Habib Ali Zaenal Abidin.

Hal itu dikemukakan Bupati Pati Haryanto sore tadi (28/11), saat menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Haul Ki Ageng Ngerang ke-30 tahun 2018, di Desa Trimulyo Kecamatan Juwana.

"Saya selaku kepala daerah berharap agar masyarakat Kabupaten Pati, khususnya yang hadir, diberikan umur panjang yang berkah, kesehatan yang berkah, rejeki yang berkah dan saat meninggal diberi khusnul khotimah," tutur Bupati Pati.

Menurut Haryanto, bukanlah suatu hal yang berlebihan, mana kala banyak orang mengagungkan nama Rosulullah ketika shalat dan maupun di luar shalat.

"Itu karena kita merasa sudah menikmati hasil perjuangan Rasulullah, seperti halnya kita juga melaksanakan peringatan haul Ki Ageng Ngerang ini juga dalam rangka menghormati dan mencontoh semangat perjuangan beliau," tandasnya.

Bupati Haryanto menambahkan, acara haul ini di setiap tahunnya semakin semarak dan bertambah pengunjungnya.

"Karena kami yakin masyarakat ingin ikut menghormati jasa Ki Ageng Ngerang dalam menyiarkan ajaran Islam di wilayah ini," bebernya.

Sementara itu, Kepala Desa Trimulyo Daliyo menyampaikan, pihaknya sangat berterima kasih kepada para pemimpin daerah serta para peziarah yang hadir untuk mendoakan para pendahulu khususnya Ki Ageng Ngerang.

"Mudah-mudahan kegiatan ini juga bisa berdampak pada  kondusifitas Kabupaten Pati di tahun politik mendatang," ujarnya.

Selain dihadiri Bupati Pati, kegiatan ini juga diikuti  oleh perwakilan Gubernur Jawa Tengah, Forkompimcam Juwana serta ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kecamatan Juwana, Batangan dan sekitarnya. ($.diman)
Share:

Jadi Ujung Tombak Pelayanan Publik, Inilah Harapan Bupati Untuk Anggota KORPRI

Targethukumonline. Pati - Pada upacara peringatan HUT Korpri ke 47 di Alun-alun Pati Kamis (29/11), Bupati Pati Haryanto menegaskan, agar aparatur sipil negara tetap jaya dan semakin meningkatkan kinerja.

Bupati Haryanto mengharapkan agar aparatur sipil negara meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, ia juga berharap anggota korps di Kabupaten Pati menjadi pemersatu dan motivator serta penggerak di dalam masyarakat.

"Semua lini pelayanan ada pada Korpri, tidak ada pelayanan yang dipegang oleh pejabat politik, semuanya dikomandani oleh Korpri," tegas Bupati saat diwawancarai tim Liputan Bagian Humas usai memimpin upacara.

Dengan HUT Korpri yang diperingati setiap tahun, diharapkan dapat memotivasi untuk semakin meningkatkan kinerja.

Bupati mengatakan pada HUT Korpri tahun ini, motivasi untuk anggota dilakukan melalui berbagai kompetisi, mulai dari lomba inovasi, olahraga dan lainnya.

Menurut Bupati, semua cara itu bertujuan agar anggota Korpri  meningkatkan kualitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Di samping itu selama berjalannya waktu selaku pejabat pembina kepegawaian di tahun 2018 ini kami telah memberi sanksi. Mulai dari teguran lisan, tertulis, penundaan gaji berkala, kenaikan pangkat sampai pemberhentian ada semua," ungkapnya.

Di kesempatan itu Bupati mengungkapkan, untuk kasus pemberhentian bagi ASN sengaja tidak diekspos kepada publik, mengingat hal ini menyangkut keluarga.

"Dan kedepannya kami berusaha mengantisipasi agar tidak terjadi penambahan pelanggaran berikutnya," jelas Bupati.

Haryanto juga mengatakan, pada puncak acara HUT KORPRI ke 47, juga akan dimeriahkan dengan penampilan seni budaya ketoprak pada Jumat 30 November 2018.

Pada pagelaran ini tidak hanya diikuti oleh Bupati Pati, Wakil Bupati Pati, Sekda, Kajari, Dandim tetapi pada pagelaran ini juga dimeriahkan oleh jajaran pejabat Provinsi Jawa Tengah yakni Sekda, Kepala Dispermades, Dinas Peternakan dan Bappeda Provinsi Jawa Tengah yan juga ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini.

"Ini bukan hura-hura, karena semata-semata hanya untuk motivasi, dengan bertema cerita tentang kebersamaan diharap bisa memberi contoh agar tidak terjadi perpecahan. 

Juga diharapkan memberikan contoh kepada masyarakat bahwa kita hidup guyub rukun untuk membangun negeri dan bersatu padu memberikan pelayanan masyarakat," jelas Bupati.

Setelah pelaksanaan upacara bendera  rangkaian peringatan hari KORPRI ke 47 hari ini, juga dilakukan penyerahan santunan kepada puluhan anak yatim piatu yang diberikan oleh Bupati, Wakil Bupati, kepala OPD dan camat se Kabupaten Pati.

Serta penyerahan hadiah kepada pemenang lomba antara lain, perpustakaan antar Sekolah Dasar (SD), lomba inovasi OPD, program kampung iklim, lomba kebersihan dan keteduhan antar desa, lomba inovasi serta lomba lainnya. ($.andik)
Share:

Rabu, 28 November 2018

8 Pejabat Polres Pati Dirotasi, Kapolres Pimpin Sertijab

Targethukumonline. Pati - Bertempat di halaman Mapolres Pati, telah dilaksanakan serah terima jabatan (sertijab) delapan pejabat di Polres Pati dirotasi. 

Rotasi jabatan dilingkungan Mapolres Pati.

Dari  delapan pejabat lama dan baru yang dirotasi, mereka diposkan untuk menempati posisi strategis yakni, Kasat Intelkam, Kasat Lantas, Polsek Gembong, Margorejo, Batangan, Cluwak, Gabus dan Polsek Pati Kota.

Hal tersebut bertujuan untuk peningkatan kinerja dan pengembangan karir diruang lingkup Polri khususnya di jajaran Polres Pati, Rabu tgl (27/11/18).

Sebagai irup (inspektur upacara) sertijab, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati S.I.K, MSi ,” menyampaikan terima kasih yang setinggi tingginya kepad pejabat lama dan mengucapkan selamat bertugas kepada pejabat baru di lingkup kerja Polres Pati,” ucapnya.

“Rotasi jabatan di lingkungan Polri merupakan suatu hal yang sudah biasa dilakukan.

Hal itu adalah didasari oleh kepentingan organisasi maupun pengembangan karier yang bersangkutan, selain itu juga untuk penyegaran organisasi,” ujarnya.

“Ada delapan jabatan yang memang sudah waktunya untuk dirotasi.

Sehingga, nantinya terjadi penyegaran dalam tubuh organisasi, ini sudah merupakan tradisi, jadi memang sudah biasa kami lakukan,” terang Uri Nartanti SIK.

Adapun pejabat yang melaksanakan serah terima jabatan adalah :

Kasat Lantas Polres Pati dari AKP Ikrar Potawari SH, SIK, MSi diserahkan kepada pejabat baru AKP Cristian Chrisye Lolowang, SH, MH, SIK.

Kasat Intelkam Polres Pati dari pejabat lama AKP Sugeng Dwi Hariyanto,SH. diserahkan kepada pejabat baru AKP Yun Iswandi.

Kapolsek Batangan dari AKP Endah Setianingsih, SH, MM di serahkan kepada IPTU Lilik Supardi, SH.

Kapolsek Cluwak dari AKP Eko Prantyo diserahkan pada IPTU Tri Gunarso, SH.

Kapolsek Gabus dari IPTU Sundari diserahkan kepada IPTU Pujiati, Ssos. Kapoldek Gembong dari AKP Giyanto,SH, MH di serahkan pada Ali Mahmudi, SH.

Kapolsek Margorejo dari AKP Marcel, SH, MM diserahkan pada AKP Endah Setianingsih, SH, MM.

Kapolsek pati kota dari IPTU Pujiati Ssos kepada pejabat baru' IPTU Sundari.

Sebelum serah terima jabatan, kedelapan pemangku jabatan itu diambil sumpahnya terlebih dahulu.

Hal tersebut untuk memastikan bahwa yang bersangkutan benar-benar sudah siap untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Kapolres Uri Nartanti  juga mengucapkan kepada pejabat yang baru maupun pejabat yang dirotasi.

Dirinya berpesan agar mereka bisa lebih cepat beradaptasi dan mengemban amanat dengan baik.

“Kepada pejabat yang baru, kami ucapkan selamat datang di Kabupaten Pati semoga bisa lebih nyaman dan mampu menunjukkan progresifitas dalam bekerja.

Untuk yang pindah jabatan, kami harap juga lebih aktif dan secepat mungkin untuk berkoordinasi dengan anggota masing-masing,” tandasnya mengakhiri.

Acara sertijab di tandai dengan pengambilan sumpah jabatan kepada pejabat baru oleh Kapolres selaku inspektur upacara dan penandatanganan  naskah serah terima jabatan oleh pejabat yang melakukan serahterima jabatan tersebut. ($.diman)
Share:

Perluas Akses Kesenian Melalui Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Ala Disdikbud Pati 2018

Targethukumonline. Pati - Berbagai hal dilakukan pemerintah untuk terus melestarikan seni dan budaya Indonesia. 

Pentas malam kesenian berlangsung lancar di smpn 02 Tambakromo Pati.

Salah satunya melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Melalui program ini, seniman bisa langsung datang berinteraksi dengan siswa di sekolah.

Sebagai upaya penguatan pendidikan karakter siswa dan mengangkat kesenian lokal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati melalui bidang kebudayaan membuat gerakan seniman masuk sekolah.

Salah satunya adalah pentas seni gerakan seniman masuk sekolah (GSMS) 2018 bertempat di lapangan sepak bola Kayen.

Pentas seni ini menampilkan kesenian dari berbagai sekolah se- Eks Kawedanan Kayen dari SD, SMP, dan SMA, Rabu tgl (28/11/18).

Peserta pentas seni di bagi menjadi tiga bagian (pagi, siang dan malam) dengan menampilkan berbagai seni menurut kemampuan kreasi yang dimiliki oleh masing-masing siswa diantaranya adalah :

Pagi  : pentas seni tari dari SDN I (Gabus), pentas teater SDN Sunggingwarno (Gabus), pentas wayang kulit SDN 02 (Jimbaran).

Siang : pentas senin tari dari SMA PGRI (Kayen), pentas teater dari SMPN 01 Sukolilo, pentas wayang kulit dari SMPN 02 (Tambakromo).

Malam : pentas seni sendratari dari SMP 01 (Gabus), seni barongan dari SDN 03 (Angkatan Lor), Kethoprak dari SMPN 02 (Kayen).

Menurut  Paryanto (Kabid kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.Pati) saat memberikan sambutan mengatakan,” Gerakan seniman masuk sekolah ini  tidak hanya kegiatan pembelajaran saja, namun, anak-anak dipersiapkan untuk pentas.

Untuk mempersiapkan gerakan seniman masuk sekolah ini, dalam waktu sepekan kedepan kami akan melakukan pendataan para seniman beserta kesenian yang bisa dimasukkan sebagai pelajaran di sekolah,” ujarnya.

Para pelajar nantinya akan digembleng oleh para seniman dan pelaku seni secara langsung, demikian dijelaskan Kepala Bidang Kebudayaan Paryanto kepada wartawan saat dimintai keterangan.

Selain itu, karena peran dari guru kesenian di sekolah dinilai masih kurang. Jadi untuk benar-benar mengangkat kesenian, kami langsung datangkan seniman yang berkecimpung langsung untuk mengajar,” papar Paryanto.

Pada 2017 lalu Dinas yang juga membidangi kebudayaan itu pernah melakukan gerakan serupa, namun sepertinya tidak berjalan sesuai rencana karena hanya ada enam sekolah yang melaksanakan.

“Pada tahun ini ada 26 sekolah dasar yang bakal dimasuki seniman. 

Pembiayaannya kami dapat bantuan dari pusat. Semua pembiayaan dari sana ini tentu cukup membantu gerakan ini,” ungkap Paryanto.

Dikutif pemaparan dari Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hilmar Farid saat disampiakan oleh ketua penyelenggara, “GSMS bertujuan menjawab pertanyaan tentang akses sekolah yang belum memiliki guru kesenian.

“Daripada menunggu jumlah guru di bidang kesenian meningkat, pemerintah berinisiatif mengisi kekurangan tersebut dengan mendelegasikan seniman masuk sekolah.

Kata kuncinya yaitu memperluas akses anak-anak terhadap kesenian,” ungkap Hilmar.

Program GSMS ini diharapkan bisa menjangkau untuk daerah-daerah yang termasuk daerah 3 T (tertinggal, terluar, dan terdepan). 

Sebagai sebuah model di tingkat nasional, kegiatan ini diharapkan bisa diadopsi oleh pemerintah daerah.

Program GSMS dijalankan sebagai pelajaran ekstrakurikuler, artinya, seniman mengenalkan dan mengajarkan seni kreasi ataupun tradisi sesuai bidangnya (tari, musik, teater, seni sastra, seni rupa, dan seni media baru) kepada para siswa di waktu yang telah terjadwal di luar jam sekolah.

Kegiatan ini melibatkan para seniman daerah yang memiliki kompetensi di bidang kesenian kepada para siswa. 

Program berlangsung selama 4 bulan, terbagi menjadi 27 kali pertemuan dengan materi ajar yang sebelumnya telah disusun oleh seniman.

Kegiatan ini memberikan peluang dan kesempatan kepada seniman dan sekolah bersinergi untuk memberikan pembelajaran seni budaya di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK).

Pada akhir program, keseluruhan materi yang telah diberikan oleh seniman dipresentasikan melalui pementasan pertunjukan atau pameran hasil belajar para peserta didik. 

Hal ini untuk memberikan ruang dan kesempatan berkreasi dan apresiasi kepada peserta.

“Karena seniman terjun di sekolah yang umum, diharapkan anak-anak bisa lebih mampu mengekspresikan diri mereka secara artistik dengan menggunakan bahasa kesenian,” tambah Hilmar.

Kriteria para seniman yang akan didelegasikan ke sekolah melalui beberapa pertimbangan kriteria. Pertama, berpegang pada aspek paling mendasar dari kesenian itu sendiri.

Dengan berpegang pada aspek substansial, proses pengajaran dapat dilakukan secara lebih luwes dan dinamis, tetapi mengenai sasaran.

Kedua, bahan ajar diupayakan menggunakan kesenian yang hidup di tempat masing-masing.

Selain mengenalkan dan mempraktikkan kesenian daerah tersebut, siswa juga bisa memahami dirinya sendiri dan orang lain melalui kesenian tersebut.

Ketiga, dalam proses belajar-mengajar, seniman dapat menerapkan pendekatan atau metode yang berbeda-beda.

Namun, secara umum, tetap mengacu pada prinsip dasar yang sama yaitu proses kreatif sebagai kegiatan eksplorasi yang menyenangkan.

Keempat, seniman pengajar dapat mendorong siswa agar dapat mengapresiasi seni dengan cara yang lebih baik.

Kelima, seniman pengajar harus dapat membuat kisi-kisi yang memuat materi ajar sesuai dengan waktu, intensitas pertemuan, dan kemampuan siswa secara umum.

Titik berat program ini adalah mengajarkan kesenian kepada siswa tidak sekadar untuk mengenali proses kreatif dalam seni itu sendiri, tetapi juga menjadikan kesenian sebagai wahana penguatan karakter melalui pemahaman dan penyerapan nilai-nilai positif. ($.Diman)
Share:

Selasa, 27 November 2018

Tolak Impor Beras (Makjedus) Dinilai Berpotensi Jadi Sentra Pertanian Dan Perkebunan

Targethukumonline. Demak - Ada apa dengan MakJeDus...? MakJeDus adalah uraian dari pedagang beras dan gabah tiga wilayah Kabupaten yang tergabung yaitu, Kabupaten Demak, Jepara dan Kudus (MakJeDus) Jawa Tengah.

MakJeDus mengabdi demi Bangsa dan Negara.

Ketiga wilayah ini berpotensi menjadi sentra sejumlah komoditas pertanian serta perkebunan karena selama ini sudah memiliki komoditas unggulan, seperti buah dan padi.

Seperti "Kabupaten Demak dikenal dengan buah jambu dan blimbingnya. Di sektor pertanian ada tanaman padi yang menobatkan Demak sebagai salah satu kabupaten penyangga pangan di Jateng karena sebagian besar hasil panennya dikirim ke daerah lain.

Dikutip pada diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan tema "Pemanfaatan dan Penerapan Iptek di Daerah" di Balai Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Rabu (21/11/18) kemarin.

Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Wibowo dihubungi oleh media.

Daryatmo mengingatkan bahwa Kabupaten Demak juga menjadi penghasil bawang merah terbesar kedua setelah Kabupaten Brebes untuk tingkat Jateng, sedangkan untuk tingkat nasional dimungkinkan menduduki peringkat tiga.

"Hanya saja, kurang terekspos sehingga sektor pertanian dan perkebunannya perlu didorong agar lebih maju," ujarnya.

Salah satunya, kata Daryatmo, perlu ada dukungan teknologi pengolahan pascapanen agar ada nilai tambah dari masing-masing hasil pertanian maupun perkebunannya.

"Jika ada pengolahan pascapanen, tentunya bisa menjadi produk khas dan layak dijadikan oleh-oleh khas Demak," ujar politisi PDIP dari Daerah Pemilihan II Jateng (Jepara, Kudus dan Demak) itu.

Untuk itulah, kata dia, kehadiran LIPI ke Demak sangat tepat untuk membantu masyarakat di Kabupaten Demak menguasai teknologi pengolahan hasil pertanian mulai dari pengolahan awal hingga pascapanen.

"Masyarakat perlu dukungan teknologi dan modernisasi pertanian berbasis realitas wilayah, bukannya harus mengimpor yang belum tentu sesuai kebutuhan," ujarnya.

Ia optimistis dengan bantuan LIPI bisa lebih maju, mengingat sudah ada produk unggulan di Demak, yakni padi, jambu air dan blimbing.

Apabila sektor pertanian semakin maju dan produktif, dia memastikan, sektor pertanian semakin dibanggakan dan tidak terpinggirkan.

LIPI Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto menambahkan potensi di bidang pertanian dan perkebunan di Kabupaten Demak memang masih bisa dikembangkan menjadi lebih maju.

Salah satunya, kata dia, untuk komoditas bawang merah yang dihasilkan dari Demak juga bisa diolah menjadi bawang goreng krispi sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dibandingkan ketika dijual dalam bentuk bawang merah utuh tanpa ada proses pascapanen.

"LIPI juga menemukan sejumlah teknologi di bidang pertanian. Kami tentu menginginkan bisa diaplikasikan di masyarakat," ujarnya.

Teknologi yang dikembangkan pingin diaplikasikan ke masyarakat desa, salah satunya pembuatan pupuk cair yang merupakan suplemen buat tanaman yang terbuat dari bahan baku lokal.

Tanah pertanian saat ini sudah terkontaminasi pestisida dan pupuk kimia sehingga lama-lama menjadi kurang subur.

Pupuk cair tersebut, katanya, sudah diujicoba di Wonogiri pada tanaman padi dan hasilnya dalam satu hektare bisa menghasilkan gabah hingga 12 ton, sedangkan sebelum menggunakan pupuk cair atau pupuk organik hayati hanya berkisar 8 ton per hektare. 

"Kami juga siap melatih petani di Demak cara membuat pupuk organik hayati sendiri," ujarnya.

Kudus dan Jepara adalah kota kecil di kawasan Jawa Tengah bagian timur. Kota yang dahulu berbasis agraris dan perdagangan itu bertransformasi menjadi kota wisata religi berbasis industri kreatif.

Kudus tumbuh menjadi kota yang ditunjang industri pengolahan rokok, pakaian jadi, makanan dan minuman. 

Pada tahun 2012, di Kudus terdapat 11.483 industri besar, sedang, dan kecil atau rumah tangga. Industri tembakau dan rokok mendominasi dengan 34,94 persen dari jumlah industri, diikuti industri pakaian jadi 22,29 persen, lalu makanan dan minuman 8,43 persen.

Jepara berkembang menjadi kota industri mebel dan patung ukir yang terkenal hingga Benua Asia dan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Pada 2012, di Jepara ada 4.104 perusahaan mebel dengan tenaga kerja sekitar 54.400 orang dan kerajinan kayu 369 unit usaha dengan 2.421 pekerja.

Terlepas dari kedua wilayah  Kudus dan Jepara tersebut menjadi sentra pertanian penghasil padi termasuk bagian dari penyangga pangan di Jateng. 

Di Kudus  menjadi inspirasi masyarakat mengembangkan jenang. Di Jepara, RA Kartini menjadi pionir yang mengangkat ekonomi kerakyatan Jepara ke dunia internasional.

Untuk mengantisipasi hasil pertanian agar pendistribuanya sesuai harapan sejumlah komunitas dibentuklah sebuah organisasi perdagangan  hasil bumi yang meliputi Demak, Jepara, dan Kudus disingkat (MakJeDus).

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya petani. 

Selain itu juga ikut mengontrol harga barang / pangan, dan mempererat tali silaturrohmi di antara anggota.

Untuk mengetahui kepengurusan MakJeDus   organisasi perdagangan  hasil bumi yaitu, Ketua H. Djumadi  (Demak), wakil Ketua Ali Imron (Kudus), wakil Ketua Zubaidah  (Jepara), Sekretaris   Efi Damayanti (Jepara), Bendahara Muni’ah (Demak), Bendahara Samiurrohmah (Demak), Penasehat Hukum  H. Heni Purwadi SH, Seksi Humas Rudjono (Kudus), Seksi distributor  H. Abdul Mutholib (Demak).

Harapan dari  anggota  MakJeDus, “penanganan masalah beras minta berjalan seperti tahun tahun sebelumnya.

Selain itu para pedagang minta di kurangi impor beras karna hasil dari petani kita sudah mencukupi kebutuhan pangan.

Penerima bantuan beras pendistribusinya melalui bulog, tidak melalui salah satu distributor. Yang paling dominan pedagang menolak bantuan beras melalui salah satu distributor. 

Kedepannya MakJeDus dapat menjadi wadah bagi pedagang beras dan gabah yang bisa berkompetisi dengan kandungan produk lokal tanpa mengimpor, sehingga baik hilir hingga hulu dari petani produksi dan pedagang bisa terus bertumbuh menjadi aset yang akan terus berkembang, salah satu pionir rantai perdagangan dan perekonomian saat ini," tegas H. Heni Purwadi penasehat hukum Laskar Merah Putih. ($.diman)
Share:

Bupati Pati Harapkan Anggota Dewan Yang Baru Segera Pahami Tugasnya

Targethukumonline. Pati - Bupati hadir dalam acara Pergantian Anggota Dewan Antar Waktu (PAW). Dilaksanakan Selasa 27-11-18 di ruang rapat paripurna DPRD Kabupaten Pati.

Bupati Haryanto mengharapkan bagi anggota DPRD yang baru dilantik dapat menyesuaikan tugas dan fungsinya.

Pelantikan ini menambah kelengkapan keanggotaaan DPRD yang tentunya harus memenuhi mekanisme peraturan perundangan yang berlaku.

Hal itu diungkapkan Bupati Haryanto saat memberikan sambutan usai pelantikan berlangsung.

"Kalaupun kemarin belum sempat dilantik bukan karena disengaja akan tetapi semata mata butuh waktu, koordinasi dan sinkronisasi sehingga hari ini bisa diambil pengambilan sumpah dan pelantikan," terangnya.

Tak lupa Bupati menyampaikan ucapan selamatnya kepada anggota legislatif yang baru saja dilantik.

"Selamat bergabung di legislatif dan saya yakin dalam perjalanan beliau berdua bisa menyesuaikan dalam melaksanakan tugas pokok fungsi karena anggota DPRD itu mempunyai fungsi pengawasan, fungsi budgeting dan fungsi legislasi,  dengan sendirinya nanti akan menyesuaikan dengan anggota yang lain," jelasnya.

Bupati mengatakan, tugas anggota DPRD tentunya akan banyak koordinasi melibatkan semua unsur jajaran pemerintah daerah yang sifatnya tidak bisa parsial atau berdiri sendiri. 

Ia mengatakan, saat ini tugas anggota yang baru dilantik jauh lebih ringan.

Mengingat, baru saja telah ditetapkan APBD perubahan pada September 2018.

Kemudian, belum lama ini telah RAPBD 2019 juga sudah ditetapkan.

"Semoga komunikasi dan koordinasi yang baik beliau berdua diharapkan memperkuat keberadaan dari pada legislatif yang selama ini sudah bekerja sama.

Mudah mudahan sambil berjalan bisa melaksanakan tugas pokok dan fungsi sesuai penempatan di komisinya masing masing," harap Haryanto.

Tidak lupa Bupati mengucapkan terima kasih kepada  Hj. Muntamah, MM. MPd dan Hj. Sumijah yang telah mengabdi dan berbuat sesuatu dalam menyusun putusan produk hukum dan keputusan bersama antara legislatif dan eksekutif. 

"Tidak ada yang bisa kita berikan kepada beliau selain penghargaan ucapan terima kasih," imbuh Bupati.

Pengambilan sumpah dan pelantikan anggota dewan, dilakukan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pati Ali Badrudin, kepada dua anggota dewan yang dilantik yaitu Hj. Sri Rejeki Wulandari dari partai Gerindra menggantikan Hj. Sumijah dan H. M Said dari Partai Nasdem menggantikan Hj. Muntamah, MM. MPd. ($.diman)
Share:

Masa Akhir Tugas Sebagai ASN di Pemkab Pati, Kabag Humas Setda Pamitan Dengan Wartawan Pati

Targethukumonline. Pati - Dalam rangka mengakhiri masa tugas sebagai ASN di Pati, Kabag Humas Setda Pati bertandang ke Musium bersejarah di Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Pisah sambut Forum Wartawan Pati dengan Kabag Humas H. Rasiman.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kabupaten Pati H. Drs. Rasiman, MM dalam mengakhiri masa tugasnya berpamitan kepada puluhan insan pers yang tergabung dalam Forum Wartawan Pati Jateng. 

Acara  pisah kangen yang dikemas dengan press tour di Kabupaten Mojokerto Jatim sekaligus melakukan kunjungan di tempat wisata sejarah budaya Senin tgl (26/11/18).

Kegiatan ini selain Kabag Humas Setda pati, juga di barengi dengan Forum Wartawan Pati (FWP) kurang lebihnya 35 orang.

Tujuan menghadiri tempat bersejarah ini selain untuk menggali informasi juga berpamitan dengan FWP dimana selama ini telah menjadi mitra untuk mendapatkan informasi seputar wilayah Pati dan sekitarnya.

Kunjungan FWP ini untuk menggali sejarah hari jadi pati sehingga tempat yang paling tepat adalah  pres tour dimusim Trowulan Mojokerto dan empu Tantular Sidoarjo Jawa Timur. 

Tujuan utama untuk bisa melihat prasasti tuhanaru dimana diprakasai terdapat tulisan mengenai kunjungan Adipati Tombronegoro 1 ke pasewakan agung Majapahit bertemu dengan prabu Jayanegara, sehingga Adipati Tombronegoro 1 mendapat gelar Adipati Pati.

Usaha FWP untuk mencari keabsahan mengenai hari jadi kota Pati, sehingga dalam rangka perpisahan dengan Kabag Humas Setda Pati H. Rasiman mengunjungi musium Trowulan dikota Mojokerto tetapi tidak dapat ditemukan keberadaan prasasti tuhanaru sehingga diarahkan ke museum empu Tantular.

Setelah mengunjungi museum empu Tantular juga tidak dapat ditemukan, dan mendapatkan rekomendasi untuk melihat langsung prasasti tersebut dimuseum nasional yang berada dikota Jakarta.

Acara berjalan hikmat dengan mendengarkan sambutan ketua forum wartawan kota Pati Alman Eko Darmo yang memberikan ucapan terima kasih dari para wartawan untuk H. Rasiman yang telah memberikan bimbingan juga suport kepada seluruh wartawan yang tergabung didalam forum wartawan Pati,” ucapnya.

Ketua FWP Alman Eko Darmo mengucapkan terima kasih dimana selama menjadi Kabag Humas selalu memberikan dukungan dan motivasi kegiatan wartawan Pati dengan ramah dan penuh bijaksana.

H. Rasiman merupakan sosok figur yang mudah berkomunikasi dengan insan pers dan semua institusi.
Pihaknya berharap setelah memasuki masa tugas atau pensiun, H. Rasiman masih bisa terjalin hubungan yang harmonis dengan media,” harapnya.

H. Rasiman dalam kesempatan itu sangat mengapresiasi kerja sama dan mitra yang baik antara pers dan Pemkab Pati.

Pihaknya mengucapkan terima kasih karena selama bertugas selama tiga tahun sebagai Kabag Humas bisa terjalin hubungan baik dalam informasi pemberitaan pembangunan di Kabupaten Pati.

Di jelaskan pula bahwa H. Rasiman mengawali karier sebagai PNS selama hampir 36 tahun sejak tahun 1981 dengan mengawali dari tenaga honorer di Semarang.

Kemudian berpindah tugas ke Pemkab Pati hingga terakhir sebagai Kabag Humas Setda Pati.

Dan terhitung mulai tanggal 1 Desember 2018 memasuki masa tugas atau pensiunan sebagai ASN di lingkungan Pemkab Pati,” katanya.

“Selama menjadi ASN di lingkup kerjanya bisa terjalin hubungan baik dengan staff dan para pejabat Pati.
Demikian juga sejumlah media sangat merasakan figur yang dikenal kalem dan mudah diajak bergaul," pungkasnya.

Puncak acara perpisahan dengan Kabag Humas Setda Pati dengan FWP, dilangsungkan dirumah makan Vicky Sidoarjo. 

Penuh rasa haru dengan meneteskan air mata  bersalaman satu persatu menunjukan ibarat anak dengan orang tua yang tidak mau berpisah.

Namun hendak di kata memang perjalanan seorang abdi negara ada batasnya, sehingga harus di terima walaupun berat untuk di tinggalkannya.

Dengan memberikan sebuah kenang-kenangan berupa cindramata, para FWP menyerahkannya dengan ucapan,” Selamat mengakhiri masa tugas sebagai ASN di lingkungan Pemkab Pati.

Semoga pengabdian Bapak H. Rasiman berguna dan bermanfaat dengan niat yang baik dalam menjalin kemitraan ini sebagai contoh suri tauladan kepada handai taulan, akhir kata “apabila ada kata-kata yang kurang berkenan selama menjadi mitra, kami semua mohon maaf yang sebesar-besarnya," pungkasnya. ($.diman)
Share:

Minggu, 25 November 2018

KOPRI Komisariat UIN Walisongo Semarang Mengadakan Aksi Solidaritas Untuk Bu Nuril

Targethukumonline. Semarang - Dalam memperingati hari lahir KOPRI ke 51, Pada tanggal 25 November 2018 KOPRI Komisariat UIN Walisongo semarang mengadakan " Aksi solidaritas melawan kekerasan seksual ".

Aksi solidaritas untuk Bu Nuril oleh UIN Walisongo Semarang.

Tanggal 25 November juga diperingati sebagai 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, mulai tanggal 25 November - 10 Desember 2018 dengan slogan Stop Violence and Take Responsibility.

Acara ini di lakukan karena akhir" ini lagi viral kasus" hukum yang salah penetapan hukumnya. Salah satunya adalah kasus yang di alami oleh Bu Nuril. Beliau di hukum penjara 5 tahun dan di denda 500 jt rupiah.

Oleh karena itu KOPRI KOMISARIAT UIN Walisongo mengadakan "aksi solidaritas melawan kekerasan seksual". Acara ini di mulai dari jam 07.00 -  10.00 WIB, peserta kurang lebih 30 orang dari KOPRI PMII UIN WALISONGO SEMARANG.

Acara ini meliputi :
1. ORASI AKSI
2. Penggalangan dana "koin perduli Bu Nuril"
3. Penandatanganan petisi.

Acara ini di mulai dari mengelilingi atau memutari simpang 5 sambil berorasi dan meminta bantuan dana untuk Bu Nuril.

Elsa Inayatul Amalia salah satu peserta aksi berharap dengan di selenggarakannya acara ini masyarakat bisa sadar akan adanya masalah yang terjadi saat ini, agar bisa menjaga diri untuk menghindari kekerasan seksual lagi, semoga tidak ada hukum yang salah alamat lagi dan kami berharap acara ini bisa membantu meringankan beban ibu Nuril.

Acara ini di lakukan bertujuan untuk membantu mengurangi beban yang di tanggung oleh bu Nuril, selain itu kita sebagai Mahasiswa dan masyarakat Indonesia ingin mengangkat keadilan hukum yang ada di Indonesia. (Elsa/$.rahman)
Share:

Jumat, 23 November 2018

Tradisi Meron Sukolilo, Ikuti Tradisi Khas Budaya Sekatenan Keraton Surakarta

Targethukumonline. Pati - Meron merupakan tradisi yang dilaksanakan di Desa Sukolilo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.

Kedua pasukan segelar sepapan saling berhadapan/tanding menjadi akar tradisi (Meron) yang diperingati oleh masyarakat Sukolilo.

Tradisi ini merupakan Tradisi tahunan yang mengikuti penyelenggaraan Sekatenan di Keraton Surakarta dan Keraton Jogjakarta.

Meskipun tradisi ini diselenggarakan mengikuti tradisi lain, tradisi ini memiliki khas corak budaya daerah lokal yang di ikuti oleh masyarakat Sukolilo pada perayaan meron yang diselengaraakan hari Kamis tgl (22/11/18).

Menurut empunya cerita yang diambil dari keterangan para sesepuh masyarakat desa Sukolilo saat mengikuti acara perayaan Meron menjelaskan, “ Pengertian Meron diambil dari bahasa Kawi : Meru, berarti Gunung yang menjadi ikonik pada perayaan tradisi ini. 

Meron dari Basa Jawa Kuno : Merong, berarti Mengamuk; tradisi ini memperingati peristiwa perang Mataram - Pati.

Meron dari Basa Jawi Kuno : Emper (Emperan) Gunungan di pamerkan di emper (Serambi/Teras Rumah) para perangkat desa. Meron dari Bahasa Arab : Mi’roj, berarti meninggi (Gunungan yang meninggi).

Meron dari Kerata Basa : Me-Ron; Rame Tiron-tiron, berarti tradisi ini mengikuti tradisi yang sudah ada,” jelasnya.

Maksud dan tujuan upacara   penyelenggaraan tradisi ini tidak jauh beda dengan tradisi-tradisi lain yang bertujuan memperingati hari lahir Nabi Muhammad, selain itu, Meron juga ditujukan oleh orang Sukolilo untuk memperingati hari sedekah bumi.

Meron juga dipadukan dengan acara peringatan kematian (Haul) Pendowo Limo (tokoh pendiri Desa Sukolilo),” ungkapnya.

Di jelaskan pula rangkaian pembuatan meron meliputi pembuatan Ancak, Mustaka, dan umbul - umbul, persiapan pembuatan meron ini memakan waktu sekitar 36 hari.

Proses dimulai dari pembuatan ampyang (atau Krecek; nasi yang dibulat-pipihkan kemudian dikeringkan).

Sedangkan ancak hanya dibersihkan dan dicek kerusakannya saja, karena biasanya ancak yang terbuat dari kayu jati berkualitas bagus, ancak akan diturunkan secara bergantian menurut pada jabatan.

Kemudian seminggu sebelum perayaan, hiasan berupa Ayam jago dan Mushalla (tergantung mana yang dibuat menurut adat) baru akan dibuat.

Selanjutnya aksesoris seperti kertas, umbul-umbul, janur dan sebagainya dibuat pada siang hari saat masuk proses malam tirakatan,” ujarnya.

Tirakatan yang dilaksanakan di rumah kepala desa bertepatan pada malam hari menjelang perayaan Meron.

Tirakatan ini disisipi dengan hiburan rakyat yang sering kali berupa Wayang kulit atau kesenian ketoprak.

Dalam perkembangannya pada saat-saat tirakatan ini muncul acara ulan-ulan, acara pawai yang dilaksanakan setelah waktu maghrib dengan arak-arakan Barongan, Barong-sai, Naga Liong, atau sekedar mengarak boneka besar dengan musik-musik dangdut sepanjang jalan yang nantinya digunakan rute untuk mengarak Meron.

Kemunculan Awal Meron dimulai sekitar awal abad ke-17 Pasca Pasukan Mataram menyerang Kabupaten Pati.

Pasukan yang dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among, Kanjeng Tumenggung Raja Meladi, Kanjeng Raden Tumenggung Candang Lawe, dan Kanjeng Raden Tumenggung Samirono gagal mengalahkan Adipati Pragola I.

Sehingga pasukan ini melakukan perjalanan pulang dari Pati ke Mataram, rute pasukan ini melewati Desa Sukolilo yang berada di Lereng Gunung Kendeng, pegunungan kapur utara.

Daerah Sukolilo adalah kampung halaman dari seorang Juru Srati gajah Kerajaan Mataram bernama Raden Ngabei Suro Kadam.

Ketika perang Mataram - Pati berlangsung, Suro Kadam ditugasi oleh Panembahan Senapati sebagai Juru Telik Sandi karena ia adalah orang pribumi Sukolilo yang termasuk dalam wilayah Pati Bagian Selatan.

Pasukan Mataram menetap di Desa Sukolilo Pasca meninggalnya Adipati Pragola I tahun 1600 (alasan meninggalnya belum ada kejelasan bukti).

Pasukan ini menetap di Sukolilo untuk berjaga jaga jika nantinya Pati melakukan serangan balasan pada Mataram.

Pemerintahan Sukolilo pada saat itu berbentuk Kademangan dibawah Adipati Pragola I yang di pegang oleh Suro Kerto, Adik dari Raden Ngabei Suro Kadam.

Suro Kerto mengijinkan Pasukan Mataram untuk menetap di Sukolilo, bahkan hingga Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among wafat di Desa tersebut.

Pasukan Mataram menetap pada sekitar bulan Maulid, pada Tanggal 12 Maulid tahun Saka tersebut di keraton Mataram sedang melaksanakan prosesi Sekaten yang diperingati setiap setahun sekali.

Pasukan Mataram yang juga memiliki trah Kusuma keraton merasa harus melakukan Sekatenan meskipun bukan di Kota Gede.

Pihak keluarga Dalem keraton Mataram - kemungkinan Keraton Mataram telah dipegang oleh Raja Baru, Hanyakrawati - mengijinkan perayaan serupa Sekatenan, meskipun pelaksanaannya adalah sehari setelah Sekatenan.

Prosesi meron yang dilaksanakan  di Sukolilo menganut tahun Aboge (Rebowage)  tiruan adat Sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Prosesi Meron pertama kali yang dilaksanakan Pasukan Mataram pimpinan Mataram memiliki perbedaan yang khas dari Prosesi Sekatenan, meskipun tujuannya sama, tetapi Mataram memiliki fasilitas untuk memenuhi Prosesi Sekatenan.

Pada dasarnya Sekaten dilaksanakan dengan pawai gunungan yang berisi makanan-makanan khas Mataram dan dengan pawai Pusaka keraton termasuk hewan yang di keramatkan oleh keraton.

Tetapi Meron berbeda, dengan menggunakan Rencek/Oncek yang disusun meninggi, rencek adalah sejenis Karak (Nasi yang dikeringkan) dan dibuat memanjang seperti Pita, dengan disatukan menggunakan tali.

Pelaksanaan Tradisi meron di Sukolilo menganut tahun Aboge (Rebowage) sehingga kebanyakan dilaksanakan pada tanggal 13 Rabiul Awal atau sehari setelah pelaksanaan sekatenan di Kasultanan Mataram.
Sejarah Asal usul nama Sukolilo berasal dari dua kosakata Suko berarti senang dan Lilo yang berarti ikhlas.

Dengan harapan masyarakat Sukolilo memiliki budi pekerti senang, ikhlas, saling menolong dan senang memberi, namun Desa Sukolilo sering dihubungkan dengan legenda Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan.

Pada saat itu Ki Ageng Pemanahan sedang mencari kakak seperguruannya Ki Ageng Giring, setelah sampai, Ki Ageng Pemanahan dijamu oleh Nyai Ageng Giring (istri Ki Ageng Giring).

Singkat cerita, Ki Ageng Pemanahan diberi jamuan air kelapa oleh Nyai Ageng Giring, saat mengetahui hal tersebut Ki Ageng Giring marah kepada Nyai Ageng.

Ternyara air kelapa yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan memiliki petuah, niscaya siapapun yang meminum air kelapa tersebut akan melahirkan raja-raja ditanah Jawa.

Ki Ageng Giring meminta kepada Ki Ageng Pemanahan untuk menjadikan agar kelak merelakan anaknya (Ki Ageng Giring) menjadi raja pada keturunan ketiga.

Mendengar permintaan tersebut Ki Ageng Pemanahan menolak dan melanjutkan negosiasi, hingga menghasilkan kesepakatan kelak pada keturunan ketujuh menjadi Raja ditanah Jawa.

“Dhi, sampai sini saja saya dapat mengantarkan adhi,” kata Ki Ageng Giring saat mengantarkan Ki Ageng Pemanahan sampai Tulang Tumenggung (lokasi penyebrangan aliran sungai Sumber Lawang yang memiliki dua muara).

“Ya, Kang, terimakasih atas keluhuran budi kakang terhadap saya.. lelakon sing wis dak tindakake wingi-wingi, mengepokan karo degan sing tak ombe banyune aku yo ora ngerti sak sukolilamu aku njaluk pengapuro” Ki Ageng Pemanahan berpesan. “ Yo, dhi, podho-podho pengapurane”.

Talang Tumenggung merupakan saksi ucapan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, hingga menjadi nama “Sukolilo”. Meron merupakan tradisi yang ada di Desa Sukolilo.

Meron merupakan tiruan adat Sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W di Mataram atau Yogyakarta. Sejarah Tradisi Meron berawal dari Desa Sukolilo yang merupakan Kademangan dibawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan.

Usai perang Kesultanan Mataram menumpas perlawanan Adipati Pati, sekitar tahun 1600 sisa-sisa prajurit Mataram yang bertugas di Kademangan Sukolilo tidak pulang ke Mataram namun mesanggrah (beristirahat) di Kademangan Sukolilo.

Para prajurit ingat setiap tanggal 12 Maulud di Mataram menyelenggarakan upacara Sekaten menyambut Maulid Nabi S.A.W.

Para prajurit ijin untuk tidak pulang dengan alasan berjaga-jaga agar tidak terjadi pembangkangan, dan juga menyampaikan permohonan untuk menyelenggarakan upacara Sekatenan di Sukolilo.

Berkat ijin tersebut Kademangan Sukolilo diperkenankan mengadakan upacara serupa (Sekaten) setiap tahunnya di Sukolilo.

Namun tidak lagi menggunakan nama Sekaten tetapi menjadi Meron, tradisi ini setiap tahunnya dilestarikan oleh masyarakat Sukolilo hingga sekarang. ($.diman)
Share:

Dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, MMH Tayu Bersholawat

Targethukumonline. Pati - Yayasan Miftahul huda menyelenggarakan Gema Sholawat dalam rangka Maulid Nabi SAW dengan tema Generasi milenial pecinta rosul, Kamis tgl (22/11/18).

Sholawat & dzikir bersama Habib Ali Zainal Abidin.

Bersama Habib Ali Zainal Abidin dari Jepara dan pembicarannya oleh KH. Ahmad Nadhlif L.C yang diiringi Group dari Alhabsyi tayu
Suasana sangat meriah sekali, peserta yang terdiri dari Ra, Mi, MTs, MA Miftahul Huda Tayu juga mengundang Mts PIA Al Huda, dan SMK Pelayaran yang merupakan yayasan Mitahul Huda Tayu.

Peringatan maulid nabi merupakan suatu tradisi yang berkembang setelah nabi Muhammad SAW, ini merupakan suatu wujud ungkapan rasa syukur dan kegembiraan serta penghormatan kepada sang utusan Allah, karena berkat jasa beliau ajaran agama islam sampai kepada kita.

Maulid Nabi terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau setiap tanggal 12 Rabiul awwal, menjadi sebuah moment spiritual untuk mentasbihkan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita.

Acara pembukaan yang diiringi oleh Group Rebana MA Mitahul Huda Tayu, setelah itu pembacaan ayat" suci Alqur'an dari mts miftahul huda Tayu lalu dilanjutkan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh sesepuh yayasan ini.

Acara demi acara berjalan dengan antusias oleh ketika menyayikan lagu indonesia raya, syubbnul wathon dan mars MMH sendiri.

Waktu itu tamu undangan menyayikan dengan nada semangat Bersama Paduan Suara EL-MIFTADA.

Setelah dilnjutkan Mauidhoh Hasanah Dari Ketua BPP Yayasan MA Miftahul Huda Tayu oleh KH. Ahmad Nadhif LC.

Dengan sangat Hikmat danPuncaknya Acara yaitu Bersholawat Maulid Nabi oleh Habib Ali Zainal Abidin Dari Jepara dengan begitu rame dan antusias sekali. ($.rahman)
Share:

Kamis, 22 November 2018

Tradisi Meron Dalam Rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Targethukumonline. Pati - Dalam rangka memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW dan memeriahkan tradisi Meron, Yayasan Pendidikan Sultan Agung Sukolilo Pati melaksanakan pawai pada hari kamis 22 November 2018.

Tradisi meron menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat Sukolilo Pati.

Acara yang dibuka langsung oleh Kepala Bapermades Drs. Muhtar selaku yang mewakili Bupati Pati itu diikuti sekitar 1.500 peserta yang terdiri dari KB, TK, MI, MTs, SMP, MA, SMK Sultan Agung Sukolilo, MA Sirojul Huda Pasuruan, Pemuda Geneng, Komunitas Jeep Pati serta Ansor Banser kecamatan Sukolilo.

Menurut HA. Haris Rahmat, BA, S.Pd.I selaku ketua yayasan pendidikan Sultan Agung Sukolilo kegiatan pawai yang rutin dilakukan setiap tahunnya ini semata-mata sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat Nya kepada alam semesta.

Karena telah menganugerahkan manusia paling mulia yaitu Rusulullah SAW sebagai rahmatan lilalamin dan menjadi penutan kita semua.

Disamping itu masih sambung HA. HARIS Rahmat, BA, S.Pd.I kegiatan kali ini juga dalam rangka memeriahkan tradisi Meron yang merupakan tradisi warisan leluhur.

Sebagai penerus para leluhur sudah selayaknya kita untuk menguri-uri kebudayaan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Disinggung mengenai sumber dana, masih menurut HA. HARIS Rahmat, BA, S.Pd.I, dalam pelaksanaan Gebyar Sultan Agung 2018 ini pengalokasian dana bersumber dari dana yayasan.

Sedangkan kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran seluruh pihak diantaranya keihklasan dari seluruh pengurus yayasan, dewan guru serta karyawan yang ada di bawah yayasan pendidikan Sultan Agung Sukolilo.

Dukungan yang positif nampak dari pemerintah daerah. Hal itu terbukti dengan hadirnya kepala Bapermades Pati yang secara langsung membuka acara tersebut.

Antusias warga juga sangat luar biasa dengan menghadiri acara ini walaupun dalam keadaan berdesak-desakan tutup HA. Haris Rahmat, BA, S.Pd.I. (Samsul/Andik)
Share:

Sabtu, 17 November 2018

Kopi Khas Gunung Rawa Mengutamakan Roasting Tradisional Menjadi Trademark

Targethukumonline. Pati - Kopi lelet adalah kopi yang paling tradisional, kopi lelet yang paling sering dihidangkan dirumah-rumah, kantor dan ditempat kerja pun demikian, Sabtu tgl (17/11/18).

Mr. Dhoper pemilik UD. Kopi Makmur khas kopi lelet Gunung rowo.

Di desa para petani sering membawa bekal kopi bubuk dan air panas serta gula untuk ngopi diladang, dalam acara umum seperti pertemuan maupun penajian, kopi lelet juga sering disajikan.

Kopi lelet diproduksi di desa sitiluhur gembong bertempat di dukuh jonggol yang masih masuk dalam khawasan wisata waduk gunung rawa. 

Kopi yang digunakan jenis robusta, dari petani daerah pegunungan itu sendiri, diolah tanpa campuran dengan proses tradisional.

Metode tradisional hingga penyaringan berkali-kali membuat proses pengolahan kopi menjadi bubuk kopi lelet membutuhkan waktu lama, proses itulah yang membuat kopi lelet khas gunung rawa memiliki aroma khas, halus dan lembut.

Dengan proses rumit dan keistimewaan rasa juga halus dan lembut, membuat kopi ini patut untuk penggemar kopi, cocok untuk drip, french press, esspreso, tubruk ataupun khotok.

Kopi lelet sangat halus sehingga ada sebagian orang yang menggunakan ampas kopi lelet untuk nyethe’ atau melukis dibatang rokok, meski yang hadir bukan lukisan yang indah, melainkan tumpukan ampas kopi yang berfungsi untuk mengeluarkan aroma nikmat kopi pada saat merokok.

Mas Dhoper pemilik UD Kopi Makmur adalah pencetus kopi lelet khas gunung rawa, karena melihat banyaknya petani kopi serta dapat membuka lapangan kerja bagi warga setempat.

Kopi lelet ini sudah mengikuti banyak event-event besar, dalam maupun luar kota, kemarin baru saja ikut event disolo dalam rangka memperingati hari kopi.

Meskipun proses pembuatan masih tradisional kopi dikemas dengan kemasan standing pouch yang dilengkapi zipper sehingga bisa ditutup kembali sehingga aroma kopi tetap awet dan selalu terjaga. 

Kopi dijual dengan harga Rp. 25000/bungkus.

Walau terkesan gampang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kopi lelet jika kita ingin merasakan kopi lelet terbaik.

Air dalam sajian kopi lelet, 90 persen isi cankir kita adalah air, maka peranan air sangat penting, pastikan air yang digunakan bersih dan pada temperatur yang tepat.

Mas Dhoper biasanya menggunakan air mineral untuk menyeduh kopi, ini anjuran dari teman-temannya yang lebih jago bikin kopi, kata mereka air mineral bisa lebih mengeluarkan karakter kopi.

Untuk kopi lelet, air biasannya dipanaskan hingga sekitar 90 derajat celcius, jika tidak punya termometer, masak air hingga mendidih daan biarkan selama 1,5 – 2 menit.

Mas Dhoper merekomendasikan biji kopi yang baru dan langsung dari kebun, sehingga kopi sangat terasa fress harum juga segar.

Untuk roasting (sangrai) mengutamakan sangrai tradisional (digoreng diatas alat penggorengan dari tanah) dengan roasting medium dark, dengan begitu kopi lelet tidak hanya memusatkan kuwalitas tapi juga mempertahankan budaya tradisional, waktu seduh yang tepat untuk kopi lelet adalah 4 menit.

Sebagai tambahan, pada awal menyeduh sebaiknya kita membasahi kopi lelet selama 30 detik, ini kita lakukan untuk memanaskan bubuk kopi secara awal (pre-heating), selain hal itu dilakukan untuk mengeluarkan gas yang terkandung dikopi sehingga kalori yang ada mampu memberikan kenikmatan tersendiri.

Adapun cara singkat membuat kopi lelet, pertama masak air hingga suhu 89-90 derajat celcius, kemudian siapkan kopi lelet sekitar 13-14 gram/2 sendok teh untuk 200 ml air, tuangkan air pada kopi selama 30 detik, setelah itu masukan seluruh dosis air, biarkan selama 4 menit dan selamat menikmati kopi lelet khas gunung rawa dengan aroma yang wangi harum bunga desa. ($.rahman)
Share:

Selasa, 13 November 2018

Program Bantuan Pangan Non Tunai BPNT, Masih Kurang Tepat Sasaran

Targethukumonline. Pati - Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diberikan masyarakat di wilayah Kabupaten Pati nampaknya tidak tepat sasaran.

Kadis Sosial dr. Subawi bahwa BPNT merupakan bantuan dari pusat.

Hal itu terbukti, masih banyak masyarakat miskin yang tidak mendapatkan bantuan, namun masyarakat yang dianggap mampu mendapatkan bantuan tersebut.

"Kami nilai Dinas Sosial (Dinsos) sejauh ini tidak mau turun tangan untuk mendata kembali masyarakat miskin yang layak mendapatkan bantuan non tunai tersebut, sehingga banyak masyarakat yang dianggap mampu namun masih mendapatkan bantuan," ungkap salah satu Kades di Kabupaten Pati yang enggan disebutkan namanya, Rabu tgl (14/11).

Menurutnya, Para Kades menilai sejauh ini dari Dinsos hanya mengambil data lama, tanpa mau turun atau melibatkan Kades untuk mengambil data baru bagi masyarakat yang dianggap tidak mampu.

"Untuk pendataan kami dari Kades tidak pernah dilibatkan, sehingga masyarakat banyak yang menyalahkan kami, karena bantuan yang diberikan itu banyak yang tidak tepat sasaran," keluh Kades.

Selain itu, Kata Dia, para Kades meminta agar Dinsos melakukan pendataan kembali, terhadap setiap warga penerima bantuan, sebab sejauh ini masih banyak warga yang tergolong mampu secara ekonomi masuk dalam daftar penerima bantuan.

"Tidak bisa mengacu pada data lama, sebab, perekonomian warga kan terus berubah. Datanya mesti diperbarui, yang sudah tergolong mampu seharusnya dicoret. Kasihan yang lain yang tidak mampu," urai Kades yang lain.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pati dr. Subawi ketika dikonfirmasi mengaku bahwa BPNT adalah program dari pemerintah pusat yakni dari Kementrian Sosial (Kemensos), bukan dari Dinsos, karena anggarannya dari APBN, dan yang menetapkan bagi penerima bantuan langsung sesuai SK dari Kementrian Sosial (Kemensos) langsung.

"Awalnya yang melakukan survey dari BPS, dan itupun masih mengacu pada data lama tahun 2015, dan sejauh ini Kades maupun dari masyarakat banyak yang keliru, karena menganggap Dinsos yang melakukan pendataan," katanya.

Meski begitu, kata beliau, untuk pendataan baru sudah dilakukan, hanya saja sampai saat ini belum digunakan, karena menunggu penetapan SK dari Kemensos, bahkan untuk pendataan masyarakat yang layak menerima bantuan sesuai rencana akan diperbarui terus setiap 6 bulan sekali, agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran.

"Kemarin, (red) sudah ada pendataan, namun belum digunakan untuk periode ini, dan pendataan ini semuanya online, dan rencana nanti akan dilakukan pendataan selama 6 bulan sekali," jelas Subawi.

"Program BPNT ini dari pusat, dari dinsos hanya mengamankan, dan sesuai data di Kabupaten Pati ada sekitar 104.000 KK warga penerima bantuan, dari data sebelumnya sebanyak 96000 KK," timpalnya. ($.wiz)
Share:

Senin, 12 November 2018

Yang Muda Yang Berkarya, Saatnya Tunas Tunas Muda Bangkit Membangun Negeri Demi Bangsa Dan Negara

Targethukumonline. Pati - Perubahan iklim politik semakin memberi keindahan yang nyata seperti gejolak alam semesta yang memberikan warna tersendiri, terkadang berupa hujan ditengah musim kemarau yang menyejukkan hati atau saat musim tanam yang memberikan harapan palsu kepada petani namun tak kunjung hujan tiba, Senin tgl (12/11/18).

Bulan dan Bintang bersanding bersama membangun negeri.

Begitulah warna politik yang semakin panas, tidak jarang kubu yang satu saling hantam baku opini publik sehingga menambah suasana bertambah panas, inilah dunia politik Indonesia.

Masyarakat pun semakin cerdas untuk memberikan pilihan, tidak bisa di pungkiri sebagian masyarakat pun larut dalam suasana iklim perpolitikan nasional, saling memberikan dukungan salah satu calon atau kandidat lainnya.

Saatnya para petani bercocok tanam sambil menunggu hujan tiba, sambil berkarya untuk maju bersama menanti saat proses tanam tiba.

Berat untuk menunggu masa yang akan tiba dimana rakyat dapat memilih sesuai seleranya, menjadikan pilihan yang tepat untuk memberikan pilihan yang ada, wakil rakyat untuk membawa sebuah aspirasi untuk dijadikan landasan perubahan iklim yang lebih baik selama lima tahun kedepannya.

Memilih sesuai hati nurani, kebangkitan perubahan iklim politik tidak menyurutkan para kader untuk terus berjuang dan berkarya, tidak salah lagi untuk memilih untuk memberikan daya upaya pikiran dan kerja nyata, wujud menjadi wakil rakyat yang lebih baik.

Saatnya yang muda yang berkarya membawa aspirasi masyarakat bawah dalam semangat mengibarkan panji-panji kebenaran, bukan janji-janji palsu selama ini.

Rakyat tidak butuh janji-janji palsu, masyarakat sudah cerdas untuk memberikan suaranya memilih wakil yang dapat membawa inspirasi dan aspirasi yang tepat guna, bukan memilih kucing dalam karung yang hanya memikirkan perutnya sendiri selama ini.

Pilihan yang akan membawa perubahan arah iklim politik yang lebih baik, mendinginkan suasana bukan menjadi kompor yang akhirnya dapat meledak dan membumi hanguskan alam marwah saat ini.

Majulah negeriku Indonesia untuk menuju harapan yang lebih baik dalam membangun nilai nilai kebangsaan yang lebih baik, saatnya rakyat memberikan sumbangsih dalam menentukan pilihan agar rakyat hidup aman, makmur dan sejahtera," terang Tri Setyanto.

Sahabat Tri Setyanto, bukti bukan janji bersama membangun negeri.

Yang muda yang berkarya bukan janji melainkan bukti sebuah karya yang nyata. Saatnya tunas bangsa tunas tunas muda mulai bersinar di era globalisasi era generasi milineal sekarang ini. Jadilah pemimpin yang cerdas untuk Bangsa dan Negara Indonesia. (Eko)
Share:

Puncak Destoroto Anugrah Tuhan Terindah, Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama (catatan redaksi)

Targethukumonline. Jepara - Mengagumi anugerah Tuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah menikmati keindahan alam pegunungan di puncak Destoroto, Senin 12 November 2018.

Menguak keindahan alam puncak Destoroto, menjadi catatan tersendiri bagi penulis.

Puncak destoroto merupakan obyek wisata pegunungan yang berada di dukuh Medono desa Damarwulan kecamatan Keling - Jepara dengan ketinggian sekitar 1.300 dpl.

Rasa penasaran hinggap di benak kami ketika berkunjung ke desa Damarwulan saat pandangan mata kami tertuju ke salah satu puncak bukit nun jauh di atas sana.

Rasa penasaran semakin dalam seolah-olah ada tangan melambai-lambai menarik kami menuju atas bukit tersebut.

Dengan sedikit perasaan ragu dan hati berdebar kami memberanikan diri untuk mendaki puncak yang disebut Destoroto.

Mata kami terbelalak dan langsung jatuh serta mencinta melihat pemandangan yang indah disepanjang jalan.

Barisan pohon pinus, hawa yang sejuk disertai lantunan suara serangga hutan (gareng pong) membuat kami terkagum-kagum dibuatnya seperti melayang di atas awan.

Dua puluhan menit perjalanan kami lakukan menggunakan sepeda motor, sampailah ke puncak bukit Destoroto.

Suasana hening, sejuk serta nyaman di tambah pemandangan yang memanjakan mata membuat kami enggan untuk turun ke bawah.

Tersedianya Mushola, fasilitas MCK serta beberapa gardu pandang dan destinasi foto ria, menambah cantiknya pesona puncak Destoroto.

Melihat keindahan itu semua, timbul gejolak dalam hati untuk ikut serta menata dan mempercantik tempat tersebut, ide dan gagasan muncul di hati kami.

Membuat kebun binatang mini, menciptakan kebun buah serta membudidayakan keaneka ragaman hayati ingin kami wujudkan di sana.

Impian hanya tinggal impian, perlu dukungan dari dinas terkait, pemerintah daerah, pemerintah desa serta semua pihak untuk menggapai cita-cita mulia tersebut.

Banyak jalan menuju roma adalah kiasan yang sempat muncul di benak kami. Ke depan kami akan mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak termasuk KPH Pati yang memiliki otoritas berkaitan tentang lahan tersebut. (Andik)
Share:

MA Khoiriyah Sitiluhur Mengadakan LDK, Guna Meningkatkan Kapasitas dan Kesolidan Pengurus OSIM

Targethukumonline. Pati - Latihan dasar kepemimpinan (LDK) adalah sebuah pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan.

Latihan dasar kepemimpinan sangat penting sebagai bekal leadership kedepannya.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepemimpinan kepada calon pengurus OSIM baru yang nantinya akan menjadi pemimpin dari seluruh kesatuan OSIM/OSIS periode 2018-2019 MA Khoiriyah.

Kegiatan bertemakan siapa takut jadi pemimpin, kegiatan diikuti delapan belas peserta, berlangsung selama dua hari, yakni hari sabtu – minggu tanggal 10 - 11 Nopember 2018 di aula sekolah, pemateri dari kepala sekolah, pembina osis, guru dan alumni.

Kegiatan dimulai pada hari sabtu siang dengan materi publick speaking yang disampaikan oleh Ibu Siti Khotimah,S.Pd selaku kepala sekolah, peserta sangat antusias karena materi tersebut sangat menarik untuk di pelajari, calon pengurus OSIM mendapatkan tips dan trik berbicara didepan umum.

Disela-sela materi diberikan game untuk meningkatkan semangat serta melatih siswa untuk mengolah apa yang ingin disampaikan diorganisasi maupun didepan umum, agar bisa tersampaikan dengan baik.

Kegiatan hari kedua diawali dengan senam pagi, dilanjutkan materi kepemimpinan didampingi oleh Bapak Karyono, S.Pd.

Setelah itu diadakan rapat bidang kesekretariatan dan rapat pleno bidang lainya. Keputusan hasil rapat pleno menjadi program kerja OSIM MA Khoiriyah periode 2018-2019.

Dan hasil rapat dibacakan dijoglo wisata waduk gunung rawa, agar peserta bisa berwisata setelah berkegiatan untuk menghilangkan rasa penat dengan melihat pemandangan yang indah serta sejuk.

WAKA Kesiswaan Nur Hikmah, M.E mengatakan tema dalam kegiatan leadership untuk para pengurus OSIM MA khoiriyah Sitiluhur Pati adalah “Siapa takut menjadi Pemimpin” dan dilaksanakan selama dua hari.

Leader adalah pemimpin, menjadi leader mungkin terkesan mudah, tapi menjadi leader membutuhkan ketrampilan khusus bukan hanya sekadar bakat, karena leader hakikatnya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam menjalankan aktvitas.

OSIM adalah salah satu organisasi siswa diinstitusi tingkat sekolah yang menjadi media, sarana untuk belajar apa saja bagi semua siswa yang memiliki keinginan tinggi, didalamnya ada banyak calon pemimpin yang harus dibekali dengan ketrampilan menjadi leader, minimal menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.

MA Khoiriyah mengadakan kegiatan pelatihan kepemimpinan bagi para pengurus OSIM termasuk dalam rangkaian rapat kerja OSIM periode 2018 - 2019.

Tujuan kegiatan ini agar para pengurus bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak ada di bangku sekolah melalui KBM.

Beliau berharap kegiatan tersebut bisa menjadikan mereka lebih percaya diri, mampu membangun karakter dan melatih skill, mampu bersosialisasi dengan baik dilingkungan masyarakat, karena suatu saat mereka akan menjadi bagian dari masyarakat.

Dalam pelatihan ini peserta  dibekali dengan materi publick speaking, sehingga akan menjadikan pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik, mampu bekerja tim dan menjadi calon pemimpin yang memiliki kemampuan kepemimpinan secara baik, bertanggung jawab, jujur, loyal serta solid.

Kepemimpinan adalah roda untuk menggerakkan sebuah organisasi, menjadi pemimpin yang pintar saja tidak cukup, perlu beberapa pengalaman dan materi yang dikemas dalam LDK.

Ketika ingin menjadi sesuatu yang berarti kita harus belajar dan memahami sesuatu dengan baik, mempelajari apa yang kita inginkan untuk mendapatkan sesuatu adalah pengalaman yang sangat berharga. ($.rahman)
Share:

Minggu, 11 November 2018

MA Miftahul Huda Tayu Sukses Gelorakan Semangat Hari Pahlawan

Targethukumonline. Pati - Hari Pahlawan tanggal 10 november 2018 pada hari sabtu, menjadi momentum Peringatan Hari Pahlawan dan hari kesehatan (PASEMA) di Madrasah Miftahul Huda dengan menggelar berbagai lomba karya seni yang berlangsung lancar dan sangat dinikmati oleh seluruh siswa MMH.

Semarak Hari Pahlawan menjadi momentum MA Miftahul Huda dalam menggelorakan semangat kepahlawanan.

Acara dimulai pagi sampai siang dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa patriotisme, mengenang jasa pahlawan serta mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki siswa.

Adapun landasan kegiatan ini adalah GBPK (garis garis besar kerja) Himpunan Pelajar Miftahul Huda (HPM), Program Kerja Sekbid 5 Seni Budaya Himpunan Pelajar Miftahul Huda (HPM) dan Program Kerja Divisi II Bakti Masyarakat Palang Merah Remaja (PMR).

Peringatan hari Kesehatan digabung dengan hari pahlawan untuk mempermudah jalannya kegiatan dan tetap memfokuskan pada satu acara dan juga agar tidak selalu memotong kegiatan belajar di madrasah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh panitia peringatan hari pahlawan dan hari kesehatan nasional MA Miftahul Huda Tayu (PASEMA) himpunan pelajar Miftahul Huda Tayu (HPM dan Palang Merah remaja (PMR).

Bentuk kegiatan yang terselenggara dimulai dari pagi yaitu Upacara untuk memperingati hari pahlawan pukul 07.00 - 08.00 WIB yang diikuti oleh seluruh jenjang Madrasah Miftahul huda mulai dari MI, MTs, dan MA dilanjutkan bersih-bersih lingkungan dan penghijauan sekitar Madrasah untuk memperingati hari kesehatan pukul 08.00 WIB - 09.15 WIB dan Lomba pukul 09.15 WIB - 14.00 WIB.

Adapun peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa MA Miftahul Huda Tayu kelas X, XI, dan XII, akan tetapi yang mengikuti berbagai lomba hanya difokuskan kelas X dan XI saja.

Kelas XII tidak ikut serta dalam lomba karena kelas XII sudah mendekati ujian dan hanya di tujukan pada kelas dibawahnya, kelas XII hanya ikut memeriahkan.

Acara peringatan hari Pahlawan dan Hari Kesehatan (PASEMA) ini tidak membuat para siswa MA miftahul Huda kecewa.

Proses kegiatan belajar mengajarpun menjadi tidak aktif, karena satu hari ini difokuskan hanya untuk satu kegiatan saja.

Pasalnya, mereka sangat antusias mendelegasikan perwakilan kelasnya untuk mengikuti berbagai lomba yang ada, dan mereka sangat menyambut acara ini.

Terbukti dari berbagai rangkaian acara mereka mengikuti dan memberi semangat untuk masing-masing kelas yang tampil, setelah itu baru lomba digelar.

Lomba pidato retorika, teater pahlawan, stand up comedy kesehatan, LCC serta Lomba Photo Contest yang sudah di selenggarakan seminggu sebelumnya dan hari ini hanya tinggal penilaian saja.

Lomba berlangsung diatas panggung yang sederhana dan tidak terlalu besar di depan madrasah dengan nuasa merah putih berlangsung dengan semarak, para delegasi kelas mempertunjukan masing- masing keahlian bakatnya.

Seruan para pendukung menambahkan semangat para peserta lomba dan sorakan penonton meramaikan acara ini dengan mewah.

Siang sekitar pukul 14.00 WIB acara selesai ditutup dengan pengumuman hasil berbagai lomba, mereka sangat semangat menunggu hasil lomba mereka.

Dan akhirnya mereka pulang dengan membawa hadiah yang mereka dapatkan. Tak lupa juga para panitia sangat bersyukur karena acaranya berjalan dengan lancar. (elsa/rahman)
Share:

Sabtu, 10 November 2018

Peringati Hari Pahlawan, Pemkab Pati Berikan Tali Asih Untuk Veteran

Targethukumonline. Pati - Upacara bendera memperingati Hari Pahlawan tahun 2018 bertempat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharma Pati. Bupati Pati, Wakil bupati, Sekda dan Forkopimda Pati turut hadir dalam upacara dengan tema "Semangat Pahlawan di Dadaku", Sabtu tgl (10/11/18).

Semangat Hari Pahlawan, Bupati Haryanto memberikan apresiasi yang tinggi kepada pejuang veteran.

Bupati Pati Haryanto sebagai inpektur upacara membacakan sambutan Menteri Sosial RI. "Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan untuk mengenang peristiwa pertempuran di Surabaya.

Upacara pengibaran bendera merah putih serta Mengheningkan Cipta secara serentak selama 60 detik dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air bahkan di perwakilan Negara Republik Indonesia di luar negeri," ujarnya saat membacakan teks sambutan Mensos.

Dalam sambutan itu, juga diungkapkan bahwa Peringatan Hari Pahlawan bukan semata sebuah acara belaka namun harus sarat makna, bukan hanya sebagai prosesi namun substansi setiap peringatan Hari Pahlawan harus dapat menggali dan memunculkan semangat baru dalam implementasi nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.

"Tema hari pahlawan mengandung makna sesuai fitrahnya dalam diri setiap insan tertanam nilai-nilai kepahlawanan, oleh karenanya siapa pun dapat menjadi pahlawan, setiap warga negara Indonesia tanpa kecuali dan berinisiatif mengabadikan hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan diri lingkungan sekitar bagi bangsa dan negara," lanjut Bupati dalam sambutannya.

Usai mengikuti jalannya upacara, Bupati memberikan memberikan tali asih dari Pemkab Pati kepada 200 veteran yang ada di Kabupaten Pati.

Bupati mengajak para pelajar yang hadir dalam upacara ini, tidak melupakan jasa - jasa para pahlawan, termasuk dari legium veteran yang merupakan saksi sejarah.

Prosesi upacara Hari Pahlawan ini, dilanjutkan dengan ziarah di makam pahlawan yang ada di kompleks TMP Giri Dharma.

Bupati bersama jajaran Forkopimda beserta istri, ikut menaburkan bunga di atas makam serta berdoa sejenak untuk para pahlawan yang dimakamkan disana.

Ada satu momen dimana Bupati membetulkan posisi bendera merah putih yang terpasang di area makam itu. 

"Posisi bendera merah putih harus lebih tinggi dari bendera organisasi ataupun bendera lain," tegas Bupati.

Melalui momentum peringatan Hari Pahlawan ini, Bupati Pati mengajak seluruh elemen di Kabupaten Pati untuk bersama melakukan yang terbaik untuk bangsa.

Marilah kita berbuat yang terbaik bagi bangsa ini, mari berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui dari yang dapat kita lakukan, lingkungan terdekat yang pada akhirnya memberikan kekuatan dan ketahanan bagi bangsa dan negara," ajak suami Musus Indarnani itu.

Di kesempatan itu, Bupati juga mengucapkan "Selamat Hari Pahlawan" pada masyarakat Kabupaten Pati. 

"Korbankan terus semangat pahlawan di dada dengan prestasi yang membawa harum nama bangsa dan negara jaga selalu persatuan dan kesatuan dalam jalinan toleransi dan kesetiakawanan sosial semoga semangat pahlawan senantiasa mewarnai setiap manusia," tandasnya. ($.karno)
Share:

Jumat, 09 November 2018

Pernah Jadi Juara Nasional, Sejumlah Kafilah Diprediksi Bakal Donkrak Pamor Pati di Ajang Ini

Targethukumonline. Pati - Sejumlah kafilah yang akan mengikuti MTQ Pelajar Tingkat Provinsi Jawa Tengah diprediksi bakal mendokrak pamor dan prestasi Kabupaten Pati. 

Sejumlah kafilah siap mengikuti ajang MTQ tingkat provinsi Jateng.

"Diantara utusan yang dikirim, ada tiga kafilah putra yang pernah berhasil meraih juara di tingkat nasional, Sabtu tgl (10/11/18).

Mereka inilah yang kami prediksi dapat menyumbangkan prestasi dengan meraih juara pertama di tingkat provinsi," tutur Bupati Pati Haryanto, hari ini di Pringgitan Pendopo Kabupaten Pati, saat menyampaikan arahan pada para kafilah Pati yang akan berlaga pada MTQ Pelajar tingkat provinsi Jawa Tengah di kota Kebumen pada 12-15 November mendatang.

Lebih lanjut, Haryanto menyampaikan rasa optimisnya mengingat akhir-akhir ini Kabupaten Pati banyak mendapatkan keberuntungan dalam sejumlah kompetisi di tingkat provinsi.

"Kalau kemarin di bidang olahraga kita melampaui target, kali ini di MTQ pun saya optimis para kafilah Pati bisa meraih juara. Saya selalu mendoakan semoga mendapatkan hasil maksimal dan bisa menjadi yang terbaik," imbuhnya.

Muslih, salah satu pembina kafilah Pati pun mengamini yang disampaikan Bupati.  "Mohon doanya, ada 16 kafilah dari tingkat SD/MI hingga SMA/MA yang akan mewakili Pati, terdiri dari 8 kafilah putra dan 8 kafilah putri.

Mereka akan bertanding di semua cabang mulai dari tartil hingga tahfidz," terang Muslih dalam laporannya.

Sebelum berlaga di Kebumen, Sabtu hingga Minggu ini, para kafilah akan terlebih dahulu dikarantina selama dua hari di pondok Nurul Furqon guna mengetahui sejauh mana kualitas para kafilah yang akan maju ke tingkat provinsi.

"Semoga dengan karantina selama dua hari ini, dapat menambah atau meningkatkan kualitas mereka sehingga mendapatkan hasil yang maksimal di ajang tersebut," tutupnya. ($.darso)
Share:

Candi Angin Menjadi Misteri Kekuatan Spiritual di Kaki Gunung Muria

Targethukumonline. Jepara - Perjalanan menikmati ciptaan Tuhan YME dengan mengunjungi candi angin di desa tempur Jepara pada hari Jum'at 9 November 2018 bersama belasan siswa MA Mazu Suwaduk.

Ahmad Junaidi saat diwawancarai oleh tim jejak sejarah Sako FWP.

Tempur merupakan sebuah desa di kecamatan Keling Jepara. Sebuah desa yang layak mendapatkan julukan desa wisata ini berada tepat di kaki gunung muria, Sabtu tgl (10/11/18).

Salah satu obyek wisata di desa tersebut adalah candi angin yang terletak di salah satu puncak gunung muria, tepatnya di dukuh dumpak yang dapat di daki dengan kisaran waktu 2 jam perjalanan.

Menurut Ahmad Junaidi selaku tokoh pemuda desa Tempur, candi angin menurut sejarahnya ada beberapa versi diantaranya adalah berkaitan dengan kerajaan Kalingga ada pula yang menyebutkan peninggalan dari tokoh pewayangan dan ada yang menyebut petilasan Wali Songo.

Namun dari penelitian arkeolog pendapat yang pertama lah yang mendekati kebenaran.

Masih sambung Ahmad Junaidi dengan ditemukanya berbagai arca di desa tempur, sebut saja arca Yoni dan patung Ganesa yang merupakan simbul kemakmuran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa di desa Tempur pada masa itu merupakan pemukiman kaum hindu dan budha sedangkan candi angin sendiri merupakan tempat pemujaan kaum tersebut.

Mengenai tata cara pelestarian candi tersebut selama ini belum ada dukungan dana dari pemerintah daerah. 

Namun dukungan dari pemerintah desa sudah ada bukti nyata, hal tersebut dibuktikan dengan pembangunan akses jalan menuju ke candi.

Imbuh Ahmad Junaidi terkait pengunjung sudah ada beberapa dari luar negeri, namun yang paling banyak berasal dari dalam negeri. 

Adapun tujuan dari para pengunjung bermacam-macam tergantung dari niat masing-masing.

Bahwa candi angin merupakan salah satu situs yang dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi simbol dari dewa angin sembilan arah mata angin. 

Bahkan kadangkala menampakkan jatidirinya dengan pusar pusaran angin yang berhembus kencang yang berpusat di candi angin tersebut.

Tidak bisa di pungkiri candi angin telah ada jauh sebelum masehi, mengingat tempat yang sangat sakral pada zamannya juga dilihat dari batu batuan yang ada di sekitar candi angin tersebut.

Nampak sekali para orang tua zaman dahulu atau para leluhur sudah sedemikian besar proses dalam pembuatan candi angin, menjadi sebuah kekuatan spiritual tingkat tinggi dalam melaksanakan tugas keyakinan pada saat itu.

Candi angin masih menjadi misteri besar bagi sebagian masyarakat umum maupun khusus keyakinan hingga sekarang, tidak hanya menjaga nilai nilai keyakinan namun juga nilai historis maupun spiritual. (Andik)
Share:

Blog Archive