Sabtu, 17 November 2018

Kopi Khas Gunung Rawa Mengutamakan Roasting Tradisional Menjadi Trademark

Targethukumonline. Pati - Kopi lelet adalah kopi yang paling tradisional, kopi lelet yang paling sering dihidangkan dirumah-rumah, kantor dan ditempat kerja pun demikian, Sabtu tgl (17/11/18).

Mr. Dhoper pemilik UD. Kopi Makmur khas kopi lelet Gunung rowo.

Di desa para petani sering membawa bekal kopi bubuk dan air panas serta gula untuk ngopi diladang, dalam acara umum seperti pertemuan maupun penajian, kopi lelet juga sering disajikan.

Kopi lelet diproduksi di desa sitiluhur gembong bertempat di dukuh jonggol yang masih masuk dalam khawasan wisata waduk gunung rawa. 

Kopi yang digunakan jenis robusta, dari petani daerah pegunungan itu sendiri, diolah tanpa campuran dengan proses tradisional.

Metode tradisional hingga penyaringan berkali-kali membuat proses pengolahan kopi menjadi bubuk kopi lelet membutuhkan waktu lama, proses itulah yang membuat kopi lelet khas gunung rawa memiliki aroma khas, halus dan lembut.

Dengan proses rumit dan keistimewaan rasa juga halus dan lembut, membuat kopi ini patut untuk penggemar kopi, cocok untuk drip, french press, esspreso, tubruk ataupun khotok.

Kopi lelet sangat halus sehingga ada sebagian orang yang menggunakan ampas kopi lelet untuk nyethe’ atau melukis dibatang rokok, meski yang hadir bukan lukisan yang indah, melainkan tumpukan ampas kopi yang berfungsi untuk mengeluarkan aroma nikmat kopi pada saat merokok.

Mas Dhoper pemilik UD Kopi Makmur adalah pencetus kopi lelet khas gunung rawa, karena melihat banyaknya petani kopi serta dapat membuka lapangan kerja bagi warga setempat.

Kopi lelet ini sudah mengikuti banyak event-event besar, dalam maupun luar kota, kemarin baru saja ikut event disolo dalam rangka memperingati hari kopi.

Meskipun proses pembuatan masih tradisional kopi dikemas dengan kemasan standing pouch yang dilengkapi zipper sehingga bisa ditutup kembali sehingga aroma kopi tetap awet dan selalu terjaga. 

Kopi dijual dengan harga Rp. 25000/bungkus.

Walau terkesan gampang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kopi lelet jika kita ingin merasakan kopi lelet terbaik.

Air dalam sajian kopi lelet, 90 persen isi cankir kita adalah air, maka peranan air sangat penting, pastikan air yang digunakan bersih dan pada temperatur yang tepat.

Mas Dhoper biasanya menggunakan air mineral untuk menyeduh kopi, ini anjuran dari teman-temannya yang lebih jago bikin kopi, kata mereka air mineral bisa lebih mengeluarkan karakter kopi.

Untuk kopi lelet, air biasannya dipanaskan hingga sekitar 90 derajat celcius, jika tidak punya termometer, masak air hingga mendidih daan biarkan selama 1,5 – 2 menit.

Mas Dhoper merekomendasikan biji kopi yang baru dan langsung dari kebun, sehingga kopi sangat terasa fress harum juga segar.

Untuk roasting (sangrai) mengutamakan sangrai tradisional (digoreng diatas alat penggorengan dari tanah) dengan roasting medium dark, dengan begitu kopi lelet tidak hanya memusatkan kuwalitas tapi juga mempertahankan budaya tradisional, waktu seduh yang tepat untuk kopi lelet adalah 4 menit.

Sebagai tambahan, pada awal menyeduh sebaiknya kita membasahi kopi lelet selama 30 detik, ini kita lakukan untuk memanaskan bubuk kopi secara awal (pre-heating), selain hal itu dilakukan untuk mengeluarkan gas yang terkandung dikopi sehingga kalori yang ada mampu memberikan kenikmatan tersendiri.

Adapun cara singkat membuat kopi lelet, pertama masak air hingga suhu 89-90 derajat celcius, kemudian siapkan kopi lelet sekitar 13-14 gram/2 sendok teh untuk 200 ml air, tuangkan air pada kopi selama 30 detik, setelah itu masukan seluruh dosis air, biarkan selama 4 menit dan selamat menikmati kopi lelet khas gunung rawa dengan aroma yang wangi harum bunga desa. ($.rahman)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive