Senin, 11 November 2019

Tradisi Meron Berawal Dari Grebeg Sekatenan Mataram

Targethukumonline. Pati - Tradisi Meron yang diadakan di Desa Sukolilo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, merupakan salah satu bentuk tradisi yang unik.

Pawai karnaval dalam tradisi grebeg meron.

Meron yang dilaksanakan warga masyarakat Desa Sukolilo ini merupakan tradisi tahunan yang mengikuti grebeg Sekatenan di Keraton Surakarta dan Keraton Yogjakarta. 

Tradisi ini di adakan pada tanggal 12 Robiul Awal, bertepatan dengan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Bedanya tradisi ini memiliki khas corak budaya daerah lokal yang di ikuti oleh masyarakat Sukolilo pada perayaan meron yang diselenggarakan hari Senin tanggal (11/11/19).

Umumnya masyarakat memiliki persepsi yang positif terhadap keberadaan tradisi Meronan di desa Sukolilo, tradisi ini unik karena mengandung kegiatan serimonial dan memiliki kekuatan magis religius. 

Selain memiliki kekuatan magis juga dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan tontonan yang menarik bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Pati dan sekitarnya.

Dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad masyarakat desa Sukolilo mengenal tiga perayaan yang dilangsungkan, yaitu keramaian Meron (pasar malam), pembuatan meronan dan upacara tradisi Meronan.

Perayaan keramaian Meron biasanya diadakan pasar malam yang diadakan seminggu sebelum diadakan upacara tradisi Meron.

Meron diartikan gunung karena bentuknya seperti gunungan, sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno berasal dari kata Merong yang berarti perang, karena Meron diadakan dalam situasi perang yang cukup memakan banyak korban jiwa khususnya para prajurit dikedua belah pihak pada saat itu.

Selain itu, meron diartikan “emper” (serambi) karena sebelum diarak, dipajang di emper rumah kediaman masing - masing pemiliknya.

Meron diadakan dengan tujuan untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat secara turun temurun dalam memperingati kelahiran Nabi Agung Muhammad S.A.W. dan sebagai wahana untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu upacara tradisi Meron diadakan untuk mewujudkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat karunia dan rizqi bagi masyarakat setempat.

Sebagai bentuk promosi pariwisata khususnya wisata ritual bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Pati Jawa Tengah Indonesia.

Menurut empunya cerita para sesepuh masyarakat desa Sukolilo saat mengikuti acara perayaan meron menjelaskan, “Pengertian meron diambil dari bahasa Kawi “meru, berarti gunung yang menjadi ikonik pada perayaan tradisi ini.

Meron dari Basa Jawa Kuno “Merong, berarti mengamuk, artinya tradisi ini memperingati peristiwa pecah perang Mataram dengan kadipaten Pati,” katanya.

Meron menurut basa Jawi Kuno “Emper, gunungan di pamerkan di emper (Serambi) rumah pada para perangkat desa.

Meron dari Bahasa Arab : Mi’roj, berarti meninggi atau gunungan yang meninggi.

Meron dari keratabahasa : Me-ron, rame tiron - tiron, berarti tradisi ini mengikuti tradisi yang sudah ada,” jelasnya.

Maksud dan tujuan upacara  penyelenggaraan tradisi  untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Meron juga ditujukan oleh orang Sukolilo selain untuk memperingati hari sedekah bumi, juga dipadukan dengan acara peringatan kematian (haul) Pendowo Limo (tokoh pendiri Desa Sukolilo),” ungkapnya.

Proses rangkaian pembuatan meron meliputi pembuatan ancak, mustaka, dan umbul - umbul, persiapan pembuatan meron ini memakan waktu sekitar 36 hari.

Kemudian seminggu sebelum perayaan, hiasan berupa ayam jago dan mushalla (tergantung mana yang dibuat menurut adat) baru akan dibuat.

Selanjutnya aksesoris seperti kertas, umbul-umbul, janur dan sebagainya dibuat pada siang hari saat masuk proses malam tirakatan,” ujarnya.

Dalam perkembangannya pada saat - saat tirakatan ini muncul acara ulan - ulan dan pawai yang dilaksanakan setelah waktu maghrib dengan arak - arakan Barongan, Naga Liong, atau sekedar mengarak boneka besar dengan musik - musik sepanjang jalan yang digunakan rute untuk mengarak Meron.

Tradisi Meron muncul dimulai sekitar awal abad ke- 17 Pasca Pasukan Mataram menyerang Kabupaten Pati.

Pasukan yang dipimpin oleh K.R Tumenggung Cinde Among, Kanjeng Tumenggung Raja Meladi, Kanjeng Raden Tumenggung Candang Lawe, dan K.R Tumenggung Samirono gagal mengalahkan Adipati Pragola I, sehingga pasukan ini melakukan perjalanan pulang dari Pati ke Mataram.

Rute pasukan ini melewati desa Sukolilo yang berada di Lereng Gunung Kendeng, Pegunungan Kapur utara yang memiliki nilai sakral bahkan termasuk salah satu benteng bumi yang menyimpan banyak sumber mata air yang mengalir hingga sekarang ini mengalirkan air ke sawah dan ladang para petani hingga menjadi sumber penghasilan atau kehidupan sehari - hari masyarakat setempat dan sekitarnya, krakas pegunungan kendeng sudah ada sejak jaman purba jutaan tahun yang lampau.

Daerah Sukolilo adalah kampung halaman dari seorang Juru Srati gajah kerajaan Mataram bernama Raden Ngabei Suro Kadam.

Ketika perang Mataram dengan kadipaten Pati berlangsung, Suro Kadam ditugasi oleh Panembahan Senapati sebagai Juru Telik Sandi (Intelijen) karena ia adalah orang pribumi Sukolilo yang termasuk dalam wilayah Pati bagian selatan yang cukup mumpuni dalam olahkanuragan karena memiliki kemampuan silat kesaktian yang cukup tinggi.

Pasukan Mataram menetap di desa Sukolilo pasca meninggalnya Adipati Pragola I tahun 1600 (alasan meninggalnya belum ada kejelasan bukti), apa karena sakit atau terbunuh oleh musuhnya yang disinyalir makamnya ada di Gunungpati Semarang.

Pasukan ini menetap di Sukolilo untuk berjaga - jaga jika nantinya kadipaten Pati melakukan serangan balasan pada Mataram, para prajurit kadipaten Pati yang mempunyai semangat tinggi  dalam bertempur cukup membuat kwalahan para senopati Mataram.

Pemerintahan Sukolilo pada saat itu berbentuk Kademangan dibawah Adipati Pragola I yang di pegang oleh Suro Kerto, Adik dari Raden Ngabei Suro Kadam.

Suro Kerto mengijinkan Pasukan Mataram untuk menetap di Sukolilo, bahkan hingga Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among wafat di Desa tersebut.

Pasukan Mataram menetap pada sekitar bulan Maulid.

Pada tanggal 12 Maulid tahun Saka tersebut di keraton Mataram sedang melaksanakan prosesi Sekaten yang diperingati setiap setahun sekali atas syukur kehadirat Allah SWT.

Pasukan khusus Mataram yang juga memiliki trah Kusuma keraton merasa harus melakukan Sekatenan.

Pihak keluarga Dalem keraton Mataram dipegang oleh Raja   Hanyakrawati - mengijinkan perayaan serupa Sekatenan, meskipun pelaksanaannya adalah sehari setelah Sekatenan.

Prosesi Meron pertama kali yang dilaksanakan di Sukolilo oleh pasukan Mataram memiliki perbedaan yang khas dari prosesi sekatenan kala itu.

Meskipun tujuannya sama, tetapi Mataram memiliki fasilitas untuk memenuhi prosesi sekatenan.

Pada dasarnya Sekaten dilaksanakan dengan pawai gunungan yang berisi makanan - makanan khas Mataram dan dengan pawai Pusaka keraton oleh prajurit abdi dalem.

Tetapi Meron berbeda, dengan menggunakan Rencek/Oncek yang disusun meninggi, rencek adalah sejenis karak (nasi yang dikeringkan) dan dibuat memanjang seperti pita, dengan disatukan menggunakan seutas tali.

Pelaksanaan Tradisi meron di Sukolilo menganut tahun Aboge (Rebowage) sehingga kebanyakan dilaksanakan pada tanggal 13 Rabiul Awal atau sehari setelah pelaksanaan sekatenan di Kasultanan Mataram sendiri yang nantinya berlangsung hampir satu bulan penuh atas permintaan keraton dalem saat ini atau sinuhun Dalem Hamengkubuwono X.

Sejarah Asal usul nama Sukolilo berasal dari dua kosakata Suko berarti senang dan Lilo yang berarti ikhlas, namun desa Sukolilo sering dihubungkan dengan legenda Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan dua orang kakak beradik yang memiliki kesaktian yang tinggi.

Pada saat itu Ki Ageng Pemanahan sedang mencari kakak seperguruannya Ki Ageng Giring, setelah sampai, Ki Ageng Pemanahan dijamu oleh Nyai Ageng Giring (istri Ki Ageng Giring).

Singkat cerita, Ki Ageng Pemanahan diberi jamuan air kelapa oleh Nyai Ageng Giring, saat mengetahui hal tersebut Ki Ageng Giring marah kepada Nyai Ageng.

Ternyara air kelapa yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan memiliki tuah atau wahyu, niscaya siapapun yang meminum air kelapa tersebut keturunannya akan melahirkan raja-raja ditanah jawa.

Ki Ageng Giring meminta kepada Ki Ageng Pemanahan untuk menjadikan agar kelak merelakan anaknya (Ki Ageng Giring) menjadi raja pada keturunan ketiga.

Mendengar permintaan tersebut Ki Ageng Pemanahan menolak dan melanjutkan negosiasi, hingga menghasilkan kesepakatan kelak pada keturunan ketujuh menjadi raja ditanah Jawa.

Talang Tumenggung merupakan saksi ucapan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, hingga menjadi nama “Sukolilo” Meron merupakan tradisi yang ada di desa Sukolilo kala itu sebagai bentuk wujud rasa syukur atas semua limpahan kasih dan sayangNya.

Meron merupakan tiruan adat sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W di Mataram atau Yogyakarta.

Sejarah tradisi Meron berawal dari desa Sukolilo yang merupakan Kademangan dibawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan.

Usai perang Kesultanan Mataram menumpas perlawanan Adipati Pati, sekitar tahun 1600 sisa-sisa prajurit Mataram yang bertugas di Kademangan Sukolilo tidak pulang ke Mataram namun mesanggrah (beristirahat) di kademangan Sukolilo.

Para prajurit ingat setiap tanggal 12 Maulud di Mataram menyelenggarakan upacara Sekaten menyambut Maulid Nabi S.A.W. para prajurit ijin untuk tidak pulang dengan alasan berjaga-jaga agar tidak terjadi pembangkangan, dan juga menyampaikan permohonan untuk menyelenggarakan upacara sekatenan di Sukolilo.

Berkat ijin tersebut kademangan Sukolilo diperkenankan mengadakan upacara serupa (Sekaten) setiap tahunnya di Sukolilo.

Namun tidak lagi menggunakan nama sekaten tetapi menjadi meron, tradisi ini setiap tahunnya dilestarikan oleh masyarakat Sukolilo hingga sekarang. (ROI)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive