Rabu, 15 Januari 2020

Bias Langkahmu Kian Jauh Dariku, Sendiri Duhai Juwitaku

Targethukumonline. Pati - Sahabat sejati adalah kebutuhan jiwa, yang harus terpenuhi, dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terimakasih, duhai juwitaku, (16/01/20).

Wanitaku engkaulah belahan jiwaku.

Dia pulalah naungan dan pendianganmu, karena kau menghampirinya saat hati lapar, dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian, secarik kertas talak kini telah kusimpan sebagai kenangan darimu.

Tahu kah kau jutaan benih ku taburkan diliangmu menghiba gelagah yang pantas kau sanggah pada rona cinta yang telah kutaburkan pada benih cinta dirahimmu.

Tahu kah kau pada hitam bola matamu kebiri hatiku
lelangit runtuh luruhku pada sendi bangunan mahligai cinta Mu.

Bila bilangan genap berubah ganjil akankah terjaga jiwa yang terpanggil pada esok dalam rajutan benang rumah tangga yang kau tinggalkan, semu sedangkan kau tinggalkan madu kasih Mu, tak ingatkah pada buah hatimu, perih bila mengingat semua ini.

Hela langkah jejakkan hati
dan manterakan nama Mu yang telah pergi, tinggalkan daku pada kesepian yang merajang, lelah dan letih ku mengingkari semua ini.

Jemariku akan terus bermain diatas tuts keypad my phone, suka tidak suka akan terus kau baca di status WA ku, ini bukan masalah hati, terlebih buat sepotong hati yang dulu pernah kau semayami, dulu saat rumput hijau masih berwarna hijau segar meradu pada kisah kasih kenangan yang tak mungkin kulupa, hanya itu sekerat kenangan darimu.

Aku tak punya kompas sayang, teruslah ikuti saja ujung nafsumu, dan jangan keluhkan keluhmu padaku pada rampai bunga mawar yang tak lagi indah dan kian pudar warna putihnya, dia sudah tak suci lagi.

Butiran debu menyerbu ribuan pori pori anganku, mengejar gerak jemariku yang tak kenal kata lelah, menjejakkan aksara demi aksara menghempaskan tiap sudut kata, bahkan otak kecilku pun kini bicara sendiri, tak lagi ditemani jemari bahwa rindu ini kian menepi di sudut angganku, bias hanya tinggal senyum perihmu seperti luka yang tak kunjung sembuh.

Kau tentu tau debaran ini apa, karena itu pernah menjalari rongga dadamu juga, dimanakah rasamu, hilang akalkah dirimu, hingga kau pergi tanpa pesan ataukah lari dari kenyataan.

Sayang, hujan senja disore hari ini tak banyak sisakan debu di kaca jendela mobilku tapi mata ku tetap melihat kabut di rona wajahmu, seperti pelangi di sore hari, seperti selimut yang tak bisa lagi menutup hangat tubuhmu, hilang tinggal bayangmu dalam kesendirianku, ngilu dan perih lukaku saat kusibak anak rambut di dahimu.

Selalu ada celah yang tersisa dan diantaranya kulihat kau ada disana menapak langkah larimu, diseberang gedung tua yang tak lagi berwarna, pucat pasi seperti rona wajahmu yang tak lagi segar hanya terdengar rintihan dari penyesalanmu, wahai wanitaku.

Dan kau pun nampak semakin tua karena matamu yang mulai lelah dan sayu, tak ingatkah kau pada janji lelakimu dan anakmu, jika tabir kepalsuan ini menyeretmu ke lembah hitam, cukup takdirmu sampai disini, dibatas kota ini, dirimu seperti buih yang hilang ditelan deburan ombak. (Eko)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive