Minggu, 02 Februari 2020

Gusti Nurul, Wanita Pertama Yang Menolak Lamaran Bung Karno

Targethukumonline. Sejarah - Gusti Nurul namanya, wanita pertama yang berani menolak lamaran Bung Karno. Ia sangat tersohor bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan dan keteguhan hatinya. Ia mendapat julukan "De Bloem van Mangkunegaran" (kembang dari Mangkunegaran).
 
De Bloem Van Mangkunegaran.

Wanita yang bernama lengkap Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani ini lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921, puteri tunggal hasil pernikahan Sri Paduka Mangkunegara VII dengan permaisuri Gusti Ratu Timur, putri Sultan Hamengku Buwono VII.

Di masa remaja hingga menjadi gadis, ia sudah aktif di bidang kegiatan sosial, selain itu ia juga memiliki kemampuan menari dan pengetahuan tentang ilmu sastra.

Pada tahun 1936 saat masih berusia 15 tahun, Gusti Nurul memenuhi undangan Ratu Wilhelmina untuk hadir ke kerajaan Belanda memeriahkan pernikahan puterinya, Juliana dengan Pangeran Bernard.

Di sebuah ruangan yang megah di bawah sinar lampu yang terang benderang, Gusti Nurul dengan berbusana Jawa menari dengan luwes dan indah tanpa diiringi alunan gamelan.

Alunan gamelan pun dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging, radio yang dirintis sang puteri.

Teleconference berlangsung meskipun dengan suara terputus - putus.

Solosche Radio Vereeniging merupakan stasiun radio pertama di Indonesia, di kemudian hari radio ini dikembangkan dan menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI).

Dalam sejumlah catatan sejarah, Gusti Nurul juga memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat penting di masa pergolakan fisik pasca kemerdekaan, terutama di Solo dan sekitarnya.

Karenanya tak heran jika Ratu Wilhelmina dari Belanda memberinya julukan "De Bloem van Mangkunegaran" karena terkesima dengan kecantikan dan kecerdasannya.

Selain itu dia juga terkenal sebagai seorang puteri yang mahir bermain tenis dan juga mengendarai kuda.

Apabila sang puteri berlatih mengendarai kuda di depan istana Mangkunegaran, maka ratusan pemuda Solo rela berdesakan agar dapat melihat langsung paras Gusti Nurul.

Meskipun dibesarkan di dalam lingkungan kerajaan, Gusti Nurul lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui zamannya.

Dia menentang keras praktik poligami, karena itu saat Bung Karno datang melamarnya, ia dengan tegas menolaknya.

Termasuk lamaran dari Sutan Syahrir dan Sultan Hamengku Buwono IX. Ia juga menolak lamaran dari Pangeran Jati Kusumo (KSAD pertama), Putera Susuhunan Paku Buwono X.

Melalui orang dekatnya, Gusti Nurul mengetahui bahwa Bung Karno menaruh hati padanya.

Bung Karno pernah mengundang Gusti Nurul dalam sebuah jamuan santap siang di istana Cipanas Bogor, Jawa Barat.

Ia menerima undangan itu ditemani sang ibu, Gusti Kanjeng Ratu Timur. Bung Karno pun mengajaknya berjalan berdua mengelilingi ruang dalam istana, mereka melihat - lihat koleksi lukisan yang terpasang di dinding.

“Di istana aku sempat melihat lukisan pemandangan bersama Presiden Sukarno,” tuturnya.

Di kala itulah Bung Karno meminta Basuki Abdullah melukis wajah Gusti Nurul.

“Setelah selesai lukisan tersebut dipasang di ruang kerja presiden di Istana Cipanas,” ungkap Nurul.

Setelah melalui berbagai pendekatan, Gusti Nurul mengatakan bila seandainya Bung Karno melamar dirinya, ia pasti akan menolak.

Alasannya sama seperti saat ia menolak pinangan Sutan Syahrir. “Sebagai tokoh Partai Sosialis Indonesia, ia (Syahrir) tidak mungkin menikah dengan putri bangsawan yang dianggap feodal,” kata Nurul.

Hal yang sama juga akan ia utarakan apabila Bung Karno jadi melamarnya. “Sebagai tokoh PNI, tak mungkin ia menikah denganku,” tuturnya.

Penolakannya terhadap Bung Karno bukan semata - mata karena alasan ideologi, namun, karena ia sangat tidak setuju dengan praktik poligami.

Saat itu Bung Karno sudah menjadi suami dari Fatmawati. Ia juga bercerita bahwa selain dirinya, lamaran Bung Karno juga pernah ditolak oleh penyanyi senior Ivo Nilakrisna (ibunda aktris Astri Ivo) dan juga aktris senior Aminah Cendrakasih.

Gusti Nurul akhirnya memilih menikah dengan seorang tentara berpangkat kolonel yang berstatus duda punya anak satu, bernama Raden Mas Suyarsuyarso Suryosurarso di Surakarta pada tahun 1951.

Konon laki - laki inilah yang benar - benar nampu memikat hatinya. 

Ia rela meninggalkan kompleks Istana Mangkunegaran dengan halamannnya yang luas, bangunan besar yang cantik, meninggalkan abdi dalem yang begitu setia, meninggalkan suasana karismatik dan upacara - upacara tradisi untuk mengikuti tugas suami dan tinggal di rumah dinas di Jakarta.

Mereka tinggal bertiga, Gusti Nurul, suaminya, dan anak laki - laki dari suaminya yang berumur 8 tahun bernama Soelarso Basarah.

"Jika ditanya soal luas halaman dan besar bangunan rumah dinasku, sama sekali tidak seberapa dibandingkan dengan Pura Mangkunegaran, tapi aku merasakan kedamaian dan kebebasan sejati di sini," ucap Gusti Nurul.

Ia mengaku begitu beruntung mendapat suami Mas Yarso, panggilan Gusti Nurul kepada pujaan hatinya, alasannya karena Mas Jarso tak rewel apalagi soal makanan.

Dia juga merasa nyaman dengan lingkungan barunya dan mulai menikmati hidup menjadi rakyat biasa.

"Aku mulai mengenal ruang lingkup pekerjaan suami dan sebagai isteri tentara dan aku aktif mengikuti organisasi isteri tentara.

Aku begitu menikmati kegiatan baru ini, aku diperlakukan sama dengan isteri prajurit yang lain.

Tidak ada lagi yang memanggilku Gusti, yang ada hanya ibu, jeng atau mbakyu," kata Gusti Nurul.

Rumah tangganya berjalan baik meski lama tak mendapat keturunan, hingga akhirnya ia mengambil anak untuk memancing agar ia bisa mengandung, nama anak itu Bambang Atasaji, mereka tinggal di Jakarta selama dua tahun, lalu pindah ke Bandung.

"Bandung saat itu masih memiliki udara yang sejuk dan ini sangat cocok bagiku. Hanya setahun tinggal di Bandung kebahagianku bertambah saat dokter mengatakan aku mengandung," ujarnya.

Di usianya yang ke-33 tahun, ia melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat 2,8 kg di RS Soeti, Bandung dan diberi nama B.R. Ayu Paramita Wiyarti.
 
Tiga tahun setelah Paramita lahir, Gusti Nurul kembali dikaruniai anak yakni R.M. Aji Pamoso, R. Aji Rasika Wijarti dan R. Aji Heruma Wiyarti.

Mengikuti suami yang sering berpindah - pindah dinas tak menjadi halangan bagi Gusti Nurul.

Setelah dari Bandung, mereka sempat pindah ke Amerika Serikat karena mengikuti suaminya yang diangkat menjadi Atase Militer di Washington DC. 

Di sana Gusti Nurul kembali melahirkan anak kelimanya, R. Ayu Wimaya Wiyarti.

Setelah tugas di AS selesai, ia dan keluarga kembali ke tanah air, suaminya diangkat sebagai Rektor Institut Teknologi Tekstil di Bandung.

Gusti Nurul mengungkapkan suaminya adalah seorang muslim yang taat beribadah, setiap pagi selalu mengajak anak - anaknya salat.

Mas Yarso seorang yang taat pada ajaran Islam, sementara ia kental dengan budaya jawa yang ditanamkan di istana sejak ia kecil.

Kegiatan Gusti Nurul di Bandung begitu padat mulai dari mengurus anak - anak hingga aktif di berbagai kegiatan.

"Tahun 1998 aku mendapat anugerah Citra Wanita Pembangunan Indonesia dari Menteri Negara Urusan Peranan Wanita RI, Ibu Mien Sugandi.

Penghargaan ini aku berikan pada keluargaku, sebagai wanita Jawa tentu aku mengutamakan bakti pada keluarga," tutup Gusti Nurul.

Hingga usianya lanjut kecantikannya tidak pernah pudar, Gusti Nurul tutup usia Selasa, 10 November 2015 pukul 08.20 WIB di RS Borromeus Bandung dalam usia 94 tahun dengan meninggalkan 7 orang anak, 14 cucu dan 1 cicit dan jenazahnya dimakamkan di Solo.

Inilah pesan singkat Gusti Nurul kepada para kaum Hawa yaitu jangan pernah mau dimadu, meskipun suamimu tinggal di kolong jembatan isteri harus selalu ikut, jika kamu memiliki rumah sendiri, saudara perempuanmu tidak boleh ikut tinggal bersamamu," pesan beliau. (ROI)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive